HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
58. Sore Hari


__ADS_3

...Jika doa bukan sebuah permintaan, Setidaknya itu adalah sebuah pengakuan Atas kelemahan diri Manusia terhadap Tuhannya....


...🍁...


Langit sore begitu indah, menampakkan semburat kuning yang menambah suasana damai sore itu. Banyak para orang tua yang juga tengah menemani putra putri mereka bermain di taman.


Tidak sedikit juga para muda dan mudi yang hanya sekedar berjalan-jalan menikmati suasana sore, atau pun berkencan bersama pasangan mereka.


Kegiatan semacam ini mungkin baru pertama kali Emran lakukan. Meskipun Emran sudah berstatus sebagai Daddy sejak 4 tahun yang lalu.


Suasana tampak canggung setelah sebelumnya Yasmine mengatakan apa yang menjadi keinginan nya pada Emran dan Annisa. Meski setelah Annisa mengalihkan pembicaraan, Yasmine seolah melupakannya hal tersebut, dan tidak lagi membahasnya.


Namun nyatanya hal itu justru begitu membuat Emran maupun Annisa harus berfikir keras. Karena Tidak menutup kemungkinan jika nanti Yasmine akan menanyakan hal itu lagi pada keduanya.


"Yasmine mau kue ?" tanya Annisa


"Mau Mommy" Jawab Yasmine dengan penuh semangat.


Annisa pun menyiapkan Kue untuk Yasmine dan juga tidak lupa untuk Emran. Suasana kembali mencair setelah Annisa beberapa kali mengajak Yasmine bercanda.


Sementara Emran hanya mengamati interaksi antara Annisa dan putri nya. Terlihat begitu menggemaskan dan sangat membahagiakan bagi Emran tentunya.


Tuttt...


Terdengar Dering telepon yang seketika memecah keceriaan diantara keluarga kecil tersebut. Pandangan Annisa dan Yasmine pun seketika tertuju pada benda pipih milik Emran.


Segera Emran meraih smartphone miliknya dan melihat siapakah sosok yang menghubungi dirinya.


"Sania " gumam Emran lirih.


Melihat siapa yang mencoba menghubungkan panggilan padanya, Emran memilih untuk tidak menerima panggilan tersebut, terlebih saat ini dirinya tengah bersama Annisa.


Belum juga kejadian siang tadi begitu membuat Emran takut jika Annisa akan marah, Meski ketakutan Emran tidak terbukti.


Bukanya berhenti, Panggilan tersebut justru terus saja berbunyi, Sania seolah memaksa Emran untuk mengangkat panggilan nya, dan hal itu tentu saja mengganggu Yasmine dan Annisa yang tengah bercengkerama.


"Angkat lah, Mungkin saja penting" ucap Annisa memberi saran.


Mendengar penuturan dari Annisa yang terlihat biasa saja, dan Meski dengan berat hati Emran akhirnya mengangkat panggilan dari Sania.

__ADS_1


"Hallo"


"Sayang kau dimana ?. Aku sangat merindukanmu, bisa kah kita bertemu ?" Ucap Sania dari ujung telepon


"Cukup !, Jika hanya itu yang ingin kau bicarakan sebaiknya jangan menggangguku" ucap Emran ketus


"Ok jika memang begitu, aku yang akan menemui mu " ucap Sania dengan meninggikan suaranya


"Terserah " Ucap Emran dan setelahnya dia mematikan sambungan telepon tersebut.


Melihat perubahan dari raut wajah Emran, Annisa hanya mengerutkan dahi, entah siapa yang sebelumnya telah menghubungi sang suami, hingga Emran merasa begitu kesal.


Sejujurnya Annisa sangat penasaran tentang hal itu, namun dirinya enggan untuk bertanya, karena bisa jadi pertanyaannya akan semakin mengundang kemarahan Emran nantinya.


"Makanlah" Ucap Annisa dengan menyodorkan piring kecil berisi potongan kue yang sebelumnya di bawa oleh Annisa.


Annisa hanya berharap setidaknya kue coklat tersebut akan sedikit merubah suasana hati Emran saat ini. Karena bagaimana pun suasana hati Emran juga sangat mempengaruhi Yasmine.


"Daddy kenapa?" Tanya Yasmine yang juga menangkap perubahan pada wajah Daddy nya.


Mendengar hal itu Emran mengulas sebuah senyum "Tidak papa sayang, hanya banyak pekerjaan" ucap Emran, dan tentunya hal itu merupakan kebohongan.


Yasmine tampak menganggukkan kepala, mencoba memahami apa yang di ucapkan Daddy nya.


"Hi... Selamat sore semuanya"


Sebuah sapaan yang yang seketika mengagetkan ketiganya. Betapa tidak mereka kaget mendapati sosok Sania yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.


Ya benar saja, belakangan di ketahui Annisa jika Sania lah yang baru saja menghubungi Emran, dan nyatanya saat ini telah berada di hadapan ketiganya.


Sania yang mengenakan pakaian serba minim dengan topi yang melingkar di kepalanya, cukup menarik perhatian banyak pasang mata laki-laki nakal, hal itu merupakan pemandangan yang menarik bagi kaum Adam. Tapi mungkin tidak dengan Emran


"Kau , Bagaimana?? ---" Ucap Emran dengan menunjuk Sania yang masih berdiri tegap dihadapan ketiganya.


"Sayang kenapa kau sangat terkejut, mudah bagiku jika hanya ingin mengetahui diman kau berada"


"Jangan memanggilku dengan kata itu " Ketus Emran yang tidak terima Sania memangilnya dengan kata sayang.


Sementara Annisa hanya memperhatikan interaksi antara Emran dan Sania dengan tatapan yang sulit di artikan.

__ADS_1


"Ok ok Sorry" ucap Sania meralat ucapan sebelumnya.


"Ohya omong-omong bolehkah aku bergabung Annisa ?" Tanya Sania dengan begitu ramah.


Mendengar permintaan Sania, Annisa pun memperbolehkan Sania untuk bergabung, meski sejujurnya dia juga tidak merasa nyaman. Terlebih melihat reaksi Yasmine yang seolah takut ketika melihat kedatangan Sania.


"Tentu saja, Bagaimana aku bisa menolakmu, sementara kau adalah teman dari suamiku " ucap Annisa dengan wajah datar.


Sementara Emran mendengar ucapan Annisa seolah penuh dengan sindiran.


"Oke terimakasih " ucap Sania tanpa basa-basi, duduk di sebelah Emran dan segera mengeluarkan isi dari paper bag yang sebelumnya dia bawa.


Ternyata Sania membawa begitu banyak makanan dan juga minuman, tidak hanya itu Sania juga membawa beberapa puding dengan berbagai jenis rasa.


"Yasmine mau puding ?" tanya Sania dengan mengulas senyum ramah.


Bukan senang Yasmine justru merasa takut dengan sikap baik Sania, Entah trauma apa yang pernah dirasakan Yasmine terhadap Sania, Kenapa gadis kecil tersebut begitu takut pada Sania.


"Kau membuatnya takut Sania" ucap Emran dengan tatapan tajam


"Hey Kenapa kau begitu marah Sayang, Kau hanya menawarkan ya puding" ucap Sania dengan santai.


Melihat hal itu Emran hanya menggelengkan kepala, menahan rasa kesal nya, jujur jika tidak ada Yasmine, mungkin Emran akan berkata kasar bahkan mungkin akan mengusir Sania dari tempat tersebut.


Berbeda dengan Emran yang begitu kesal, Annisa justru menangkap wajah Yasmine yang terlihat begitu menginginkan puding yang di bawa oleh Sania, namun Yasmine terlalu takut untuk meminta.


"Yasmine mau ?" Tanya Annisa dengan suara lembut. Yasmine pun menganggukkan kepala.


Menyadari hal itu Sania begitu bersemangat "Oke baiklah Aunty akan menyuapi Yasmine" ucap Sania dengan begitu ramah. Meraih satu cup puding mangga yang sebelumnya dia bawa.


Sementara Yasmine hanya menggelengkan kepala pelan, menolak Sania yang akan menyuapi dirinya.


Jujur dalam situasi tersebut Sania begitu dibuat kesal dengan tingkah putri dari laki-laki yang begitu dia cintai.


"Berikan padaku, Aku akan menyuapinya" pinta Annisa dengan mengulurkan tangannya, meminta puding yang ada pada tangan Sania.


Meski dengan berat hati akhirnya Sania pun memberikan puding tersebut pada Annisa, lagi lagi dirinya halus kalah dengan Annisa, dan hal itu membuat nya begitu kesal.


Terlebih melihat betapa Yasmine sangat bersemangat ketika Annisa yang menguapi ya.

__ADS_1


Sementara itu Emran hanya mengamati ketiganya. Selama sang putri merasa bahagia Emran merasa tidak masalah dengan situasi yang sejujurnya begitu tidak menyenangkan ini.


***


__ADS_2