HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
80. Kabar Buruk


__ADS_3

...Mudah bagi Allah merubahMalam.menjadi siang, Begitu juga Mudah bagi Nya merubah Kesedihan menjadi Kebahagiaan. ...


...🍁...


Annisa masih tidak percaya jika Emran mengelabui semua orang hanya untuk berdua dengan dirinya.


"Mommy Yasmine yang mana mas yang sedang sakit ?" sindir Annisa dengan menatap jeli pada sang suami.


Mendengar pertanyaan Annisa Emran pun hanya tersenyum kecut, dengan menggaruk puncak kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Lalu yang baru saja melayani Daddy nya Yasmime, apa aku terlihat sedang sakit ?"


"Sayang, maafkan aku" ucap Emran dengan penuh penyesalan.


Menyadari hal itu Annisa pun hanya menggelengkan kepalanya.


Tidak ingin berada dalam perdebatan Annisa memilih untuk segera bangkit dari tempat tidur.


"Kau mau kemana sayang ?"


"Mandi mas"


"Baiklah, Yukk"


"Apa ?" kaget Annisa


"Kita mandi bersama lah"


"Maass. No !" tolak Annisa dengan begitu serius


"Ayolah sayang" ucap Emran penuh permohonan.


"Mas kita tidak akan benar-benar mandi jika kita lakukan bersama, karena sebentar lagi datang waktu sholat Ashar"


Meski dengan berat hati, pada akhirnya Emran menurut saja dengan ucapan Annisa. Menunggu hingga Annisa menyelesaikan ritual mandi besarnya dan kemudian barulah dirinya akan mandi.


***


Di Langit yang sama namun tempat yang berbeda, Zyan tengah begitu gusar memikirkan Annisa.


Rasanya perlu bagi Zyan untuk menjelaskan ke salah pahaman yang pernah terjadi sebelumnya.


"Annisa aku tahu, mungkin saat ini kau sedang sangat marah padaku" gumam Zyan.


Setelah kejadian saat itu, Zyan sudah berencana melupakan semuanya, namun nyatanya pertemuan kembali dengan Annisa membuat dirinya kembali merasa berdebar. Meski Zyan tahu jika Annisa telah menjadi milik orang lain.

__ADS_1


Brug.


Dalam lamunannya, tanpa sadar Zyan menabrak seseorang.


"Maaf paman" suara kecil dari seorang gadis yang begitu cantik di pandangan Zyan. Namun Zyan menangkap sesuatu yang berbeda dari wajah gadis kecil tersebut.


Zyan pun tersenyum pada gadis kecil itu, dan kemudian berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil di hadapannya.


"Siapa namamu ?"


"Yas Yasmine paman" jawab Yasmime dengan wajah takut, dan mata yang terlihat telah memerah.


" Kau sendiri ?, dimana orang tuamu ?"


Yasmine pun menggelengkan kepala, dan tentunya hal itu mengundang penasaran Zyan, bagaimana gadis sekecil itu berada di mall yang begitu besar tanpa pengawasan kedua orang tuanya. Hal itu mustahil bagi Zyan.


"Lalu dengan siapa kau datang ke tempat ini ?"


"Aku bersama suster paman, tapi aku tidak tahu mereka dimana sekarang" lirih Yasmime dengan mengusap air matanya yang mulai berjatuhan karena rasa takut.


"Tenanglah, paman akan membantumu"


Ucap Zyan, mencoba menenangkan Yasmime, menyadari ketakutan yang di rasakan gadis kecil di hadapannya. Yasmine pun menganggukkan kepala sebagai jawaban.


***


Seorang pelayan telah memberitahukan hal tersebut pada dua majikanya, dan kini Emran tengah begitu Marah akan hal itu.


"Mas tenang lah, kita akan mencari Yasmime bersama"


Mendengar ucapan Annisa, Emran hanya bergeming, baginya saat ini yang paling penting adalah sang putri. Bagaimana nasibnya dan berada dimana Yasmime saat ini.


Tidak hanya Emran dan Annisa saja yang merasa panik, Amir yang telah mendapatkan kabar dari Emran pun mulai bergerak cepat bersama para orang-orangnya untuk mencari keberadaan Yasmime.


Mall dimana mereka bermain telah di tutup, dan tidak ada satupun orang yang neh meninggalkan tempat tersebut sebelum melalui pemeriksaan oleh keamanan.


Meski begitu khawatir, namun Emran menutup rapat berita ini, tidak ingin media tahu jika putrinya hilang, karena hal ini tentu akan justru membahayakan bagi Yasmine. Bisa jadi orang akan memanfaatkan hal ini untuk mendapatkan keuntungan dari Emran.


Sepanjang perjalanan menuju Mall Annisa selalu berdoa dan berdzikir, memohon untuk keselamatan Yasmime.


"Apa hal ini pernah terjadi sebelumnya ?" Tanya Annisa mencoba bertanya.


"Ini pertama kalinya" jawab Emran dengan begitu dingin.


Emran yang Annisa lihat saat ini bukanlah Emran yang beberapa saat lalu bersamanya, menghabiskan waktu diatas tempat tidur, saling memberikan kehangatan.

__ADS_1


Namun Emran saat ini adalah Emran yang Annisa kenal begitu serius dan sangat dingin, namun meski begitu Annisa sadar jika Emran berlaku demikian karena begitu merasa panik dan khawatir dengan Yasmime.


Seluruh orang kepercayaan, dan pelayan , telah Emran kerahkan untuk saling bahu membahu mencari keberadaan Yasmine sang putri.


Jujur Annisa merasa sedikit takut dengan Emran yang mengemudikan kendaraan begitu kencang. Namun dalam situasi tersebut Annisa tidak ingin membuat Emran semakin marah dengan mendengar ucapannya.


Belum juga Emran dan Annisa tiba di mall, Amir telah lebih dulu menghubungi Emran. Mengatakan jika Yasmine telah di temukan.


"Ucapkan terima kasih, dan Berikan apapun sebagai imbalan" Ucap Emran dalam sambungan telepon


"Tapi tuan !" Sanggah Amir dari ujung telepon.


"Aku tidak menerima penolakan Amir, lakukan apa yang ku katakan !"


"Tapi beliau tidak menginginkan imbalan apapun tuan"


"Beliau itu --"


"Baiklah jika memang begitu, undang dia ke mansion, aku akan menyambut nya, dan mengatakan terima kasih secara langsung" Tegas Emran tanpa bantahan, memutus pembicaraan Amir sebelumnya.


"Tapi Tuan !"


"Apa kau sudah tuli, lakukan apa yang aku katakan !" tegas Erman lagi, setelahnya menutup begitu saja panggilan dari Amir.


Annisa yang tengah duduk di samping Emran hanya dapat mengamati dan mendengar kan interaksi antara Emran dan sang asisten.


"Bagaimana mas ?"


"Yasmine telah di temukan"


"Alhamdulillah" ucap Annisa begitu bahagia.


Meskipun Yasmine telah di temukan, nampaknya Emran masih belum bisa tenang sebelum melihat sang putri. Begitu juga Annisa yang memilih untuk tetap diam.


Emran pun putar balik, dan kembali melajukan kendaraanya menuju mansion.


Tidak butuh waktu lama , akhirnya Emran dan Annisa telah tiba di rumah, Emran bergegas memerintahkan beberapa pelayan yang telah berada di Mension untuk melakukan penyambutan terhadap sosok yang telah menyelamatkan putrinya.


Emran meminta untuk menyiapkan makan malam dan tentunya imbalan yang juga telah Emran siapkan.


Sementara itu Annisa hanya bisa terdiam, karena memang sedari tadi fokus Emran memang hanya pada sang putri, Annisa memilih untuk membantu kegiatan beberapa pelayang yang bersiap menyiapkan makanan.


Sementara itu Emran tampak begitu tidak sabar menantikan kedatangan Yasmine, meski kabar mengenai hilangnya Yasmine hanya terjadi beberapa jam saja, namun Emran merasakan begitu kehilangan.


***

__ADS_1


__ADS_2