
...Akan ada waktu dimana kesakitan mu akan di balas, Entah dirimu yang akan mendapatkan kebahagiaan, ataukah yang menyakiti mu akan mendapatkan balasan...
...🍁...
Baik Emran maupun Annisa hanya dapat saling tatap dengan pikiran masing-masing. Jelas Emran dapat merasakan jika sang istri tengah dalam situasi tidak baik-baik saja.
"Darimana kau dapat kan ini ?"
"Bukan dari mana aku mendapatkannya mas ?, Tapi bagaimana bisa ada semua ini mas ?" Lirih Annisa
Keduanya tampak kembali diam, terlebih Emran yang tidak ingin membohongi sang istri, namun juga tidak ingin membuat Annisa bersedih, dan sakit hati.
Suasana tampak hening tatkala keduanya hanya saling diam dengan pikiran yang entah melayang kemana.
"Aku tidak memiliki cukup sabar, untuk menerima setiap kesalahan yang mungkin mas lakukan" tegas Annisa meski dengan suara lirih
"Sayang , aku bisa menjelaskan semua ini"
"Katakan, penjelasan apa yang ingin mas berikan padaku ?" tuntut Annisa.
Emran tampak menarik nafas dan menghembuskan nya, beberapa saat memejamkan mata hingga terasa dia benar-benar siap untuk mengatakan kejujuran terhadap sang istri.
"Ya . Itu memang diriku" jujur Emran tanpa ragu.
Deg.
Bagai tersambar petir di siang hari, jujur bukan itu jawaban yang Annisa inginkan, namun nyatanya kenyataan berkata lain. Annisa merasakan sakit yang teramat untuk kesekian kali, entah karena tengah hamil atau hal lain, namun kejujuran Emran kali ini cukup membuatnya begitu kecewa.
Rasa sakitnya begitu terasa menusuk kedalam dada, hingga yang tersisa hanyalah luka dan air mata.
Lelehan bening menetes begitu saja melalui sudut mata indah milik Annisa.
Melihat kesedihan sang istri jujur Emran pun merasa tak tega, namun dia yang telah bertekad untuk jujur apapun yang terjadi, memilih mengatakan kenyataan sebenarnya.
"Beberapa bulan yang lalu, tepatnya sebelum aku bertolak ke Indonesia untuk mencari dirimu"
"Sania datang kepadaku, karena ingin memastikan keberangkatan ku bersama Yasmine ke Indonesia"
__ADS_1
"Kami memang sempat ber mesraan saat itu, Sania seolah takut akan kehilangan, dia meminta hadiah perpisahan dariku, dan aku yang sebelumnya tidak baik dalam agama, aku pun melayani keinginan nya"
"Namun percayalah, yang ku lakukan hanya sebatas di foto tersebut, tidak lebih !. Meski Sania menuntut lebih dariku tapi aku menolaknya"
"Mungkin aku memang memuaskan keinginan Sania, namun tidak dengan bercinta layaknya suami istri, Percayalah"
Deg.
Kata memuaskan yang Emran tekankan, nyatanya lagi dan lagi cukup menyayat hati Annisa yang tengah sakit, bagaikan luka yang tengah di tabur garam, begitu perih luka yang Annisa rasakan.
Jujur Emran sangat berharap Annisa dapat mempercayai ucapan nya, namun melihat reaksi Annisa, rasanya hal itu mustahil Emran dapatkan.
Semua terasa gamang bagi Annisa yang memang saat ini tidak dapat sepenuhnya mempercayai ucapan Sang suami.
"Jangankan diriku yang hanya wanita biasa mas, sekelas Aisyah Ra. saja pun memiliki rasa cemburu terhadap Rasullullah SAW"
"Namun ada hal yang lebih menyakitkan bagiku saat ini. Kenapa berita ini harus diketahui Abi terlebih dahulu, bukan diri ku ?, hingga Abi saat ini harus kembali bertaruh nyawa di rumah sakit"
Deg.
Ingin rasanya Emran memeluk Annisa untuk sekedar mengurangi beban pikirannya, namun baru saja Emran akan meraih tubuh ringkih Annisa , Annisa lebih dulu menepis tangan sang suami.
Bukan menolak, hanya Annisa belum sepenuhnya menerima kenyataan yang ada, hatinya masih cukup sakit untuk menerima dan berdampingan dengan masa lalu sang suami, terlebih kenyataan pahit tengah di hadapi keluarga besarnya akibat dari foto sang suami bersama mantan lain.
"Mas" Lirih Annisa berusaha menatap manik mata sang suami.
Emran pun menatap sang istri dengan tatapan penuh sesal.
"Izinkan aku kembali pada orang tuaku" ujar Annisa
Deg.
Tentu apa yang menjadi permintaan Annisa kali ini cukup membuat Emran merasa terkejut dan sesuatu yang tidak mungkin bagi Emran iya kan.
"Tidak aku tidak akan mengizinkan mu pergi kemanapun, sekalipun itu kepada orang tuamu" tutur Emran dengan penuh permohonan.
"Hanya untuk beberapa saat mas, Aku ingin menjernihkan semua prasangka buruk diriku terhadapmu"
__ADS_1
"Setidaknya kita bisa sama-sama introspeksi diri dengan kejadian ini mas"
Berat sejujurnya untuk meng iyakan apa yang menjadi keinginan Annisa , namun Emran juga tidak dapat mengabaikan kondisi Annisa yang tengah hamil muda, kondisi seperti saat ini sangat beresiko untuk terjadi keguguran.
"Baiklah. Hanya untuk beberapa saat" Ucap Emran meski dengan berat hati.
"Dan aku tidak mengizinkanmu untuk meninggalkan ku" timpal Emran. Dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Annisa.
Sebuah tiket yang sempat di berikan Emran pada Annisa tempo hari, nyatanya benar-benar Annisa gunakan untuk bertemu orang tuanya.
Tidak ada sedikitpun keraguan dalam hati Annisa, hanya terhadap Yasmine dia berat untuk meninggalkan, sehingga Annisa memilih untuk tidak berpamitan pada gadis kecil tersebut.
Tidak butuh waktu lama Annisa yang telah selesai berkemas, lantas diantar oleh Emran menuju bandara hari itu juga.
Masih sangat berat bagi Emran untuk sendirian membiarkan Annisa pulang ke Indonesia, terlebih kondisi Saat ini Annisa tengah mengandung. Namun Emran juga tidak dapat memaksa Annisa, karena hal ini merupakan keinginan Annisa yang ingin sendiri An tanpa di temani siapapun.
Tiba saat keberangkatan, Emran masih menemani Annisa dengan setia, hingga saat berpamitan Annisa mencium punggung tangan Emran dengan takzim.
Berbeda dengan Annisa yang hanya menundukkan wajahnya, Emran justru selalu menatap wajah sang istri yang tertutup oleh cadar, ingin rasanya Emran memeluk sang istri, namun setiap kali ia melakukanya, Annisa selalu menepisnya. Dan hal itu sangat Emran pahami jika sang istri masih sangat kecewa terhadap dirinya.
Emran tahu Annisa butuh waktu untuk menerima semua ini, terlebih kejadian ini membuat Abi harus kembali dilarikan ke rumah sakit.
Emran menatap kepergian Annisa yang semakin menjauh dari pandanganya, tidak satu kali pun Annisa kembali memalingkan wajahnya menatap Emran yang masih setia menemaninya.
Jauh dan semakin menjauh, menghilang di telan lautan manusia yang berada di tempat tersebut, entah untuk berapa lama Annisa meninggalkannya, belum saja sepenuhnya berpisah Emran telah merasakan kehampaan dan kekosongan hatinya tanpa Annisa.
Kini hanyalah sesal yang Emran rasakan, mengantarkan kepergian Annisa yang semakin menjauh dan menghilang.
***
Terima kasih Readers Fillah yang selalu setia dengan Novel Ini.
Untuk Semua Like , Komen, Koin, Iklan yang semua readers berikan Author ucapkan banyak terima kasih.
Semoga Allah senantiasa membalas semua kebaikan Sahabat Readers Semua
🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰🥰
__ADS_1