
...Janganlah bersedih oleh urusan dunia, karena kita hanya bertemu diatas Tanah Nya ...
...🍁...
Kegiatan makan siang yang berlangsung dengan begitu menyangkan, terlebih ketika Emran dengan leluasa dapat menatap kecantikan Annisa tanpa terhalang oleh cadar yang dia kenakan.
Tentu hal itu Emran sengaja lakukan, setelah Emran meminta pada sang asisten untuk menjaga ruangnya dari para karyawan yang mungkin saja akan menerobos masuk.
Mendapat tatapan yang begitu intim dari sang suami, buatkan hanya senang, sejujurnya Annisa juga begitu sangat malu, terlebih hal itu juga di saksikan oleh Yasmine.
"Sebaiknya kau juga makan, jangan hanya Menyuapi Yasmine"
"Iya mas, setelah selesai dengan Yasmine aku akan makan" ucap Annisa dengan suara lirih.
Annisa kembali fokus memberikan suapan demi Suapan pada Yasmine, sementara itu Emran pun juga tidak pernah berhenti menatap wajah Annisa yang begitu Anggung di Matanya.
"Makanlah" ucap Emran dengan menyodorkan sendok yang telah berisi makanan dan mendekatkan pada mulut Annisa.
"Oh. Annisa bisa sendiri mas" ucap Annisa dengan meraih sendok dari tangan Emran.
"Tidak boleh kan aku menyuapi mu ?"
Mendengar hal itu Annisa pun menautkan kedua alisnya, jujur dia merasa begitu gugup. Namun Annisa pun tak dapat menolak permintaan sang suami, dan menerima suapan dari Emran.
Terasa begitu nikmat dan lezat, ketika makanan tersebut berasal dari piring dan sendok yang sama dengan yang Emran gunakan.
"Mas, tapi Annisa bisa sendiri, sebaiknya mas Emran segera makan" ucap Annisa yang merasa tidak enak hati.
"Aku juga akan makan" jawab Emran dengan kembali menyodorkan satu suapan pada Annisa.
Melihat Emran yang juga terus menyuapi dirinya, kini Annisa justru dengan berani juga memberikan suapan pada sang suami.
"Makanlah"
Menyadari hal itu Emran pun tersenyum kecil, kini keduanya malah justru saling memberikan suapan. Sementara itu Yasmine hanya menatap keduanya dengan menahan tawa.
"Kenapa Mommy dan Daddy harus di suapi, bukanya kalian bisa makan sendiri ?"
Ucap Yasmine dengan nada celotehan, dan tentunya hal itu seketika membuyarkan kemesraan diantara keduanya. Bahkan sampai membuat Emran tersedak karena harus tertawa disaat bersamaan.
__ADS_1
***
Diluar ruang kerja Emran, Amir tengah berjaga sembari menikmati sekotak makan siang yang juga telah di siapkan oleh istri dari bos besarnya tersebut.
Dari jauh terlihat keributan yang tentunya hal itu menarik perhatian Amir.
"Ada apa ?"
"Maaf pak, saya sudah mengatakan pada Bu Sania untuk menunggu, namun Bu Sania ngotot ingin bertemu tuan Emran" ucap seorang resepsionis yang berjaga di lobby kantor.
Mendengar hal itu Amir pun menautkan kedua alisnya, bukan tanpa Alasan hal itu karena dia tahu jika Sania bukanlah wanita yang mudah di atur , terlebih setelah dulu sempat dekat dengan sang bos, membuat Sania bertingkah seenaknya.
"Maaf Nona Sania, Tuan Emran sedang sibuk, sebaiknya anda menunggu, atau kembali lagi nanti" ucap Amir dengan sopan.
"Cih. Siapa kau berani memerintah ku ?" ketus Sania dengan berkacak pinggang.
"Maaf Nona, tapi ini perintah"
"Aku tidak takut, kau tidak tahu siapa aku ?" ucap Sania dengan sinis.
Amir hanya terdiam mendengar ucapan Sania yang begitu lancang.
"Maaf Nona, sekali lagi saya tidak mengizinkan Nona untuk menemui tuan !"
Sania pun mendorong dengan keras Amir yang menghalangi jalanya, gerakan Sania yang seketika dan tiba-tiba, membuat Amir pun terjatuh ke lantai.
Melihat situasi tersebut, Sania justru memanfaatkanya untuk berlari menuju ruangan Emran
Brak !!
Dengan keras Sania mendorong pintu ruangan Emran. Hal itu tentu membuat Emran, Yasmine dan tentunya Annisa merasa terkejut dengan kemunculan Sania.
Namun nyatanya Tidak hanya Emran, Yasmine dan Annisa saja yang merasa terkejut, Sania yang telah berada di ruangan dan melihat keberadaan Yasmine dan Annisa di sana juga tidak kalah terkejut, namun yang lebih membuat Sania terkejut adalah Wajah Cantik Annisa.
Untuk sesaat Sania begitu terpaku melihat kecantikan alami yang terlihat di wajah Annisa. Jujur dia begitu mengagumi wajah Annisa yang baru dia lihat untuk pertama kalinya.
Kulit bersih dan putih tanpa sedikitpun noda, Bibir tipis yang terlihat begitu ranum meski tidak mengenakan makeup, dan Rina pipi yang memerah meski tak mengenakan blush-on.
Namun seketika pandangan itu berubah menjadi kebencian yang teramat sangat, pasalnya apa yang selama ini dia bayangkan mengenai wajah Annisa tidak lah benar, Annisa justru lebih cantik dari perkiraannya, dan bahkan dirinya tak ada apa-apanya jika dibanding dengan Annisa, Annisa terlihat begitu mempesona meski tanpa make-up, sedangkan Sania harus menempelkan produk mahal di wajahnya agar terlihat sempurna Dimata manusia. Hal itu tentu saja membuat Sania begitu meradang.
__ADS_1
Menyadari tatapan Sania, Annisa pun buru-buru mencari dan mengenakan kembali cadarnya, hal itu juga tentu tak luput dari tatapan Emran yang begitu tidak menyukai sikap Sania yang begitu lancang.
"Siapa yang memberimu izin masuk ke ruangan ku ?" Ucap Emran dengan tatapan penuh intimidasi
"Maaf kan saya tuan" ucap Amir yang baru saja muncul.
Mendengar ucapan Amir, Emran pun hanya mengibaskan tangannya, tanpa mendengar penjelasan dari Amir pun Emran paham atas situasi dan kondisi yang baru saja terjadi, tentunya Amir telah berusaha menahan Sania.
"Apa aku perlu izin untuk masuk ke ruangan ini ?" ucap Sania dengan begitu santai.
Mendengar hal itu Emran hanya menatap dengan tatapan dingin.
"Apa kau lupa sayang, aku memiliki hak istimewa untuk masuk ke ruangan ini" ucap Sania lagi.
"Amir, bawa Yasmine keluar" titah Emran
"Baik tuan !"
Setelah itu Amir menggendong Yasmine untuk pergi meninggalkan ruang kerja sang Daddy.
Hening.
"Siapa yang memberimu hal istimewa?, aku tidak ingat kapan aku mengatakannya ?"
Ucap Emran dengan begitu dingin, sementara itu Annisa hanya diam mendengarkan interaksi antara Emran dan Sania.
"Sayang kenapa kau kasar sekali padaku !" ucap Sania dengan bergelayut manja di lengan Emran.
Namun dengan cepat Emran mengibaskan tangannya, dan mundur dari Sania.
"Jaga sikapmu Sania !"
Mendengar hal itu Sania hanya tersenyum sinis, menatap Annisa yang begitu tidak dia sukai.
"Ada perlu apa kau datang kemari ?"
"Apa aku harus ada keperluan baru bisa datang ke sini ?" ucap Sania dengan manja. Namun mendengar ucapan Sania Emran hanya bergeming dan enggan untuk menjawab pertanyaannya.
"Aku harap kau tidak lupa pintu keluar, dan jika tidak ada keperluan silahkan " ucap Emran dengan menunjuk pintu keluar pada Sania.
__ADS_1
Sania yang merasa begitu kesal, hanya dapat menghentakkan kakinya, meremas baju sek si yang dia kenakan, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut laki-laki yang begitu dia cintai.
***