HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
82. Ketegasan


__ADS_3

...Harapan akan selalu ada untuk mereka yang tidak lelah berjuang...


...🍁...


Meski melihat kemarahan pada diri Emran, Nyatanya Zyan cukup tenang berhadapan dengan Emran, tidak sedikitpun terlihat wajah takut dari Zyan.


Sementara itu Amir yang jelas mengenal tabiat sang bos, hanya dapat menahan kekhawatiran, takut jika bos nya tersebut bertindak nekat.


Bukan tidak mungkin bagi Emran untuk melakukan kekerasan pada Zyan , melihat bagaimana raut wajah Emran saat ini.


"Bagaimana tuan Emran ?" ucap Zyan


"Bukankah tadi anda sendiri yang bilang, Saya boleh meminta apapun itu imbalan untuk saya ?"


Tantang Zyan dengan begitu tenang, senyum tipis tak pernah lekang dari wajah tampan Zyan, hal itu jelas berbanding terbalik dengan mimik wajah Emran yang memancarkan aura penuh kemarahan.


Benar saja mendengar ucapan Zyan , Emran pun begitu geram hingga kedua tangannya telah mengepal.


"Mas " lirih Annisa dengan menyentuh lengan sang suami.


Menyadari hal itu, Emran pun menatap sekilas pada Annisa. Kedua alisnya saling bertaut, ketika melihat Annisa seolah tak mengizinkan dirinya untuk bertindak.


"Tenang kan hatimu mas, Tidak semua masalah selesai dengan Emosi " ucap Annisa dengan suara lembut.


Annisa pun kemudian mengarahkan pandanganya pada Zyan, berusaha menguatkan diri untuk menatap pada Zyan.


"Mas Zyan" panggil Annisa lirih.


"Permintaan Mas Zyan ini sungguh tidak masuk akal, dan tentunya ini di luar nalar dan akal sehat manusia"


"Bagaimana mas Zyan bisa meminta Annisa pada suami sah Annisa ?"


"Pernikahan yang Annisa jalani bukalah permainan, yang bisa dengan mudah di pertaruhkan"


"Annisa dan Mas Emran menikah atas izin Allah, Tidak akan pernah terjadi jika Allah tidak meridhoi"


"Pernikahan yang tidak hanya di saksikan oleh pasang mata manusia, namun juga para malaikat dan seluruh alam menyaksikan, lalu bagaimana mas Zyan bisa dengan mudah mengatakan meminta Annisa, Atas dasar apa mas Zyan mengatakan hal itu ?"


"Maaf mas !. Sebelum Suami Annisa Menyerahkan Annisa Pada Mas Zyan, Annisa sendiri lah yang akan menolaknya"


"Meski Mas Emran menjanjikan imbalan apapun untuk mas Zyan, namun hal itu tidak dengan Annisa. Maaf !"


Tegas Annisa dengan begitu yakin meski suara yang terdengar bergetar, namun Annisa sungguh-sungguh dalam ucapannya, tidak hanya memperingati, namun Annisa juga secara langsung menolak permintaan Zyan.


Mendengar ucapan Annisa, Zyan hanya menautkan kedua alisnya, apa yang dia pikirkan tentang pernikahan Emran dan Annisa, yang dia anggap tidak bahagia nyatanya Annisa begitu mempertahankannya, dan hal itu tentu sangat membuat Zyan begitu tidak terima.


"Meskipun suami ku membebaskan mu untuk memilih, namun tentu bukan Annisa yang menjadi pilihan !"


"Annisa dan Mas Emran menikah secara Sah, disaksikan Keluarga, Orang tua, dan tentunya Allah SWT."

__ADS_1


"Ikatan suci yang di saksikan tidak hanya Manusia Namun juga Allah dan malaikatnya"


"Bagaimana mungkin Mas Zyan meminta sesuatu yang tidak mungkin untuk suamiku penuhi ?"


"Tolong pikirkan baik-baik ucapan Annisa!" Tegas Annisa sekali lagi pada Zyan.


Sementara itu Zyan hanya terpaku mendengar ucapan Annisa, tidak hanya merasa kalah, dia juga merasa begitu malu.


Untuk yang kedua kalinya Zyan merasa harga dirinya seolah jatuh begitu saja.


Merasa begitu di permalukan, tanpa permisi akhirnya Zyan bangkit dari duduknya, dengan wajah yang telah merah padam.


"Ingat kau punya hutang budi padaku ,Tuan Emran!" tegas Zyan sebelum melangkahkan kaki meninggalkan ruang tamu.


Dengan segala kekecewaan Zyan keluar begitu saja dari kediaman Emran. Meninggalkan Emran dan Annisa yang masih terdiam.


hening.


"Tenanglah, dia tidak akan berani berbuat macam-macam lagi"


Ucap Emran dengan memberikan usapan lembut pada punggung Annisa. Sementara itu Annisa yang masih begitu terkejut hanya dapat tersenyum pada sang suami.


Jujur Annisa merasakan dadanya masih begitu bergetar, setelah pertemuan dengan Zyan sebelumnya, serta perihal ucapan Zyan yang begitu mengejutkan.


"Sebaiknya kita makan malam, kau belum makan sedari tadi" ucap Emran lagi, dan Annisa menjawab dengan anggukan kepala.


***


Bukan tanpa alasan Annisa melakukan hal itu, Annisa merasa hanya ingin menebus rasa bersalahnya pada sang putri, meski sejujurnya bukan kesalahan Annisa.


Sepanjang malam hingga hampir menjelang dini hari Annisa tak juga kunjung dapat terpejam.


Pertemuannya dengan Zyan nyatanya cukup membuat Annisa merasa tidak nyaman hingga semalaman dia harus terpikirkan oleh hal itu.


"Ya Allah. Semoga Mas Zyan tidak sampai nekat melakukan sesuatu yang tidak baik" gumam Annisa dalam hati.


Waktu menunjukan pukul 02.30 dini hari. Dengan begitu pelan dan sangat hati-hati Annisa beranjak dari tempat tidur Yasmine.


Menapaki satu demi satu anak tangga Annisa berjalan menuju kamarnya, setelah sebelumnya meninggalkan kamar sang putri.


Ceklek.


Dengan begitu hati-hati Annisa membuka handel pintu kamar agar Emran tidak terganggu dan terbangun dengan hal itu, Annisa pun mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, mencari sosok sang suami.


Nyatanya tempat tidur tersebut kosong dan sepertinya Emran juga tidak tidur, Annisa kemudian mencari keberadaan sang suami. Benar saja Emran ternyata tengah berdiri di balkon kamar, terlihat kepulan asap putih membumbung di udara, hal itu baru pertama kalinya Annisa lihat.


"Kenapa tidak tidur ?"


Ucap Annisa, yang tentunya hal itu seketika mengagetkan Emran, cepat-cepat Emran mematikan rok ok nya dan mencuci mulutnya dengan kopi yang telah menemani nya sedari Annisa belum berada di tempat tersebut.

__ADS_1


"Sejak kapan Mas Emran merokok?"


"Hanya kadang-kadang"


Annisa tahu jika mungkin saja saat ini apa yang sedang di pikirkan nya, juga tengah di pikirkan oleh Emran sang suami.


"Annisa"


"Em"


"Aku berharap ucapan Laki-laki itu tidak mempengaruhi hatimu"


Mendengar hal itu Annisa pun menatap sang suami, menajamkan pandanganya, dan Annisa menangkap sesuatu yang tidak biasa dari Emran, dimana dia sangat takut akan kehilangan.


"InshaAllah mas, selama Annisa menjadi istri mas Emran, Annisa akan selalu menjaga hati dan diri Annisa untuk mas Emran"


Ucap Annisa lirih dengan wajah menatap lurus kedepan. Tentu saja ucapan Annisa tersebut membuat Emran merasa lega, tidak hanya lega tentunya hatinya pun juga berbunga-bunga.


"Benarkah ?"


"Tentu saja"


Emea6pun kembali tersenyum bahagia dengan ucapan Annisa yang begitu yakin.


"Sebaiknya mas segera tidur, karena besok masih harus ke kantor"


"Tapi aku tidak bisa tidur"


"Berbaring saja, mas Emran akan tertidur setelahnya"


"Benarkah begitu"


"InshaAllah Mas"


"Tapi aku ingin beribadah"


Mendengar hal itu Annisa pun tersenyum simpul.


"Baiklah, kita wudhu sekarang dan sholat tahajjud berjamaah" ucap Annisa sembari membalik tubuhnya meninggalkan balkon.


"Tapi maksutnya ibadah yang lain?" ucap Emran cepat.


Mendengar hal itu Annisa pun mengerutkan dahinya, kembali menatap sang suami yang kini tengah berjalan kearahnya.


"Aku ingin ibadah bersamamu" bisik Emran tepat di telinga Annisa.


Annisa yang baru menyadari ucapan sang suami pun hanya tersenyum malu dengan wajah yang menunduk.


Tidak butuh persetujuan dari Annisa, Emran pun lantas menggendong Annisa dan membawanya masuk kedalam kamar.

__ADS_1


***


__ADS_2