HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
47. Diperlakukan Baik


__ADS_3

...Lakukanlah kebaikan walau sekecil apapun, karena kau tidak akan pernah tahu kebaikan mana yang akan membawamu ke surga ...


...🍁...


Annisa masih dalam pikiran tidak percaya, Emran meminta pelayan membawa koper milik nya, kedalam kamar Emran. Bahkan sebelumnya Annisa sempat berfikir jika Emran akan menolak dirinya seperti kebanyakan cerita dalam novel, Namun nyatanya ketakutan itu tidak terjadi.


Berjalan menyusuri satu per satu anak tangga, tidak membuat Annisa merasa lelah, karena kini pandanganya mengarah pada setiap sudut rumah yang begitu indah dan tertata rapi.


Namun meski begitu mengagumi, Annisa tidak lantas merasa berbesar hati telah menjadi nyonya dalam rumah tersebut.


Tidak hanya indah dan rapi saja, Nyatanya Rumah tersebut begitu bersih, namun lagi-lagi tidak heran karena disana ada beberapa pelayan yang memang memiliki tugas untuk menjaga rumah besar tersebut.


"Silahkan Masuk Nyonya" Ucap Sang pelayang


Keduanya berhenti di depan pintu besar sebuah ruangan, Yang tentunya itu milik Emran.


Pelayan tersebut hanya memandang Annisa, sementara Annisa pun juga sebaliknya.


"Silahkan masuk Nyonya" Ucap sang pelayan dengan sopan.


"Tapi saya tidak tahu password nya" Ucap Annisa


Jujur Annisa memang tidak tahu, sementara pelayan tersebut bukan lah pelayan yang biasanya bertugas membersihkan kamar Emran. Sehingga keduanya sama-sama bingung.


Namun di tengah kebingungan tersebut Emran muncul dari arah belakang, dan langsung menekan kode Smart Lock di bawah gagang pintu tersebut, dan tidak butuh lama pintu itu pun terbuka.


Emran masuk kedalam kamar disusul Annisa dan sang pelayan yang membawakan Koper milik Annisa.


"Letakkan di sini saja, Terima kasih ya" Ucap Annisa dengan suara lembut.


Suara yang sangat lembut hingga membuat Emran pun merasa senang mendengarnya.


Pelayan tersebut pun akhirnya berlalu, dan tidak lupa menutup kembali pintu kamar tersebut


klek.


Deg.


Setelah pintu tertutup Annisa pun merasa begitu takut dan entah kenapa dirinya merasa sangat canggung, mungkin bisa di bilang ini adalah kali pertamanya berada dalam satu ruangan tertutup bersama seorang laki-laki. Dan nyatanya Laki-laki tersebut telah berstatus sebagai Suaminya.


"Apa kau akan terus berdiri di sana !" Ucap Emran dengan suara dingin.


"Apa ?" kaget Annisa dengan ucapan Emran yang seketika membuyarkan lamunannya.


"Kemari Lah"

__ADS_1


Mendengar hak itu, Annisa hanya dapat mengerutkan dahi dan mengikuti langkah kaki Emran menuju Walk in closet. Emran menunjukan dimana Annisa bisa meletakkan baju-baju miliknya.


Selain itu juga Emran memberitahu jika pelayan sudah menyiapkan baju-baju lain untuk Annisa kenakan.


Memasuki ruangan tersebut Annisa merasa kagum dengan koleksi Pakaian dan mantel hangat milik Emran yang tentunya berharga fantastis, selain itu ikat pinggang dan juga dasi yang berjajar di bawah meja kaca ruang tersebut.


Terdapat dua lemari besar yang saling berhadapan, Emran menunjuk sisi depan lemari miliknya, dan di situ lah Annisa dapat meletakkan baju-baju miliknya.


"Tuan tapi apa ini tidak terlalu besar untuk ku ?, Lagipula aku hanya membawa baju satu koper" Ucap Annisa


"Buka lah" Ucap Emran dingin dengan menganggukkan kepala, menyuruh Annisa membuka lemari besar tersebut.


Begitu di buka Annisa begitu terkejut banyak sekali pakaian muslimah dengan berbagai corak dan warna, selain itu Emran juga telah menyiapkan baju-baju tidur untuknya, Tidak hanya itu saja nyatanya disana juga tergantung berbagai macam hijab yang cantik-cantik.


Annisa pun tersenyum bahagia di balik cadar yang dia kenakan.


"Terima kasih tuan" Ucap Annisa dengan menundukkan pandangan.


Emran hanya bergeming.


"Apa kau berfikir aku akan memperlakukanmu layaknya cerita dalam novel online ?"


Annisa hanya diam dan sekilas menatap Emran, namun segera ia menundukkan wajahnya kembali.


"Aku tahu kau dan aku tidak memiliki alasan untuk menikah"


Meski di ucapkan dengan suara dingin dan tentunya ekspresi wajah yang tidak kalah dingin, namun Annisa begitu bahagia mendengarnya.


Jika dia tidak lupa akan rasa malunya , sudah pasti Annisa akan menghambur pada laki-laki ber tubuh atletis yang sekarang telah berstatus sebagai Suaminya, dan akan dia peluk dengan begitu erat, atas semua sikap baik yang dia berikan pada Annisa.


"Terima kasih" ucapan yang akhirnya keluar dari mulut Annisa.


"Aku tau kau lelah, Bersihkan dirimu dan beristirahatlah" ucap Emran dengan berlalu dari hadapan Annisa.


Annisa pun menjawab dengan anggukan kepala


***


"Amir, Siapkan mobil !" Titah Emran


"Baik tuan "


Emran telah berada di lantai satu dan bersiap menuju kantor, karena hari ini keduanya harus bertolak ke suatu daerah untuk meninjau lokasi pembangunan sebuah Hotel.


Bukan tanpa alasan Emran melakukan hal itu di malam hari, karena saat siang dirinya harus melakukan rapat dengan para dewan direksi yang tentunya itu pun tidak dapat dia tinggalkan.

__ADS_1


Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Emran dan Amir pun tiba di lokasi proyek, keduanya lantas berkeliling untuk memastikan pembangunan tersebut berjalan lancar. Karena selain bisnis di bidang Ekspor dan impor Nyatanya Emran juga melebarkan sayapnya di bidang property.


"Kau bilang ada salah satu karyawan kita yang mengalami cidera"


"Betul tuan, saat ini tengah menjalani perawatan di rumah sakit"


"Kita Kesana !" titah Emran. Amir pun menjawab dengan anggukan kepala.


Keduanya kini telah berada dalam satu mobil untuk mengunjungi salah satu karyawan yang mengalami Cedera lapangan.


***


Malam hari waktu Dubai


Annisa baru saja dari kamar Yasmine dan gadis itu telah tidur dengan tenang setelah Annisa menidurkan dan menceritakan dongeng untuknya.


Annisa berjalan keluar kamar dengan sangat hati-hati , memastikan jika Yasmine tidak akan terbangun kembali.


Klek.


Pintu kamar Yasmine akhirnya tertutup setelah sudah payah Annisa berusaha tidak menimbulkan suara.


"Sedang apa kau !"


Annisa pun terlonjak kaget, mendengar Suara bariton yang saat itu mengagetkan nya. Namun secepat mungkin Annisa dapat menguasai dirinya.


"Tuan" Sapa Annisa . Emran menganggukkan kepala.


Di jam seperti ini memang suasana rumah sangat sepi, terlebih hanya beberapa pelayan utama yang tidur di rumah tersebut, selebihnya mereka tidur di rumah khusus para pelayan yang ada di belakang kediaman Emran tersebut.


Meski dengan rasa canggung, Annisa berjalan mendekati Emran dan mengulurkan tangan padanya.


"Apa ini !" Ucap Emran dengan menautkan kedua alisnya.


Annisa hanya bergeming dan meraih tangan kanan Emran kemudian dia cium punggung tangan tersebut dengan takzim. Tidak sampai di situ Annisa meraih tas dan mantel yang ada di tangan Emran untuk dia bawa.


Sedikit terkejut dengan perlakuan Annisa, namun Emran juga tidak menolak hal tersebut.


Tidak ada ucapan terima kasih atau apa lah sejenisnya, Emran hanya tersenyum tipis, dan berlalu menyusuri tangga, disusul Annisa yang juga berjalan di belakangnya.


"Apa tuan sudah makan ?" Meski gugup, namun Annisa berusaha menanyakan sesuatu yang memang seharusnya dia tanyakan sebagai seorang istri.


"Em" Jawab Emran singkat. Annisa menganggukkan kepala.


Keduanya masuk kedalam kamar setelah Emran menekan smart lock pada pintu tersebut. Emran bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya, karena merasa sudah sangat lelah, hampir menjalang dini hari dirinya baru kembali ke rumah.

__ADS_1


Sementara Annisa menyiapkan baju tidur untuk Emran kenakan setelah mandi, dan dia letakkan diatas tempat tidur.


***


__ADS_2