HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
110. Permintaan Annisa


__ADS_3

...Ibu Rumah Tangga...


...Ibu rumah Tangga merupakan karir termahal, yang bahkan tidak bisa dibayar oleh manusia sekalipun. Sebab dia berani menginvestasikan seluruh potensi terbaik miliknya, untuk melayani suami juga anak-anak nya. Dengan Syurga sebagai bayarannya....


...🍁...


4 Bulan berlalu.


Cukup melelahkan bagi Annisa yang tengah mengandung dengan kondisi kehamilan ganda atau kehamilan kembar.


Di usia nya yang baru menginjak 7 bulan saja Annisa sudah begitu merasakan berat dan begah di bagian perut. Tak jarang Annisa mulai merasakan kontraksi karena kelelahan, Beruntung Emran selalu menjadi suami yang siap siaga.


Emran pun kini juga lebih mentolerir jam kerja nya, pulang lebih awal, dan lebih banyak bekerja dari rumah. Hanya saat diperlukan saja Emran akan ke kantor. Atau jika ada pekerjaan yang tidak bisa Amir selesaikan barulah Emran akan turun tangan.


Seperti kali ini Emran tengah membaca beberapa email kiriman Amir sang asisten di ruang kerja nya. Memastikan semua berjalan dengan lancar, meski dirinya tengah duduk di rumah.


"Di minum dulu mas" ucap Nissa yang setelahnya meletakkan secangkir kopi di meja.


"Terima kasih sayang" jawab Emran dengan senyum manis.


"Sama-sama mas"


Tidak menyia-nyiakan Emran pun segera menyeruput kopi buatan sang istri yang tidak pernah gagal menurutnya. Selalu hanya Annisa lah yang dapat memahami keinginan sang suami dengan sangat baik, termasuk minuman yang satu ini.


Begitu juga Nissa yang begitu senang melihat ekspresi wajah Emran tatkala menikmati kopi buatannya. Tidak banyak hal-hal kecil seperti itu saja nyatanya bagi seorang istri sudah sangat membahagiakan.


Merasa diratu kan dari sikap dan perlakuan yang Emran berikan. Tidak perlu tas atau pakaian berharga mahal, hanya sikap manis dan romantis saja mampu melegakan dan membahagiakan Annisa.


Sejenak suasana menjadi hening, Annisa yang sibuk dengan buku bacaan nya, dan Emran yang juga sibuk menikmati kopi buatan Annisa.


"Sebaiknya toko kita serahkan saja pada Amir, atau kita percayakan pada orang lain yang mampu mengelola nya" ujar Emran masih dengan cangkir di tangannya.


Deg.


Annisa tampak terkejut mendengar ucapan sang suami yang tiba-tiba berkata demikian.

__ADS_1


Namun bukan tanpa alasan Emran melakukan hal itu, Emran hanya mengkhawatirkan kondisi Annisa saja saat ini.


Annisa tampak menimbang ucapan sang suami, karena hal itu memang ada benarnya juga, terlebih saat ini Annisa tengah hamil besar, jangankan untuk mengurus toko, terkadang mengurus dirinya sendiri saja Annisa kesulitan.


Sejujurnya Annisa begitu tidak ingin melepaskan kesibukannya di toko, terlebih saat ini toko yang di kelola Annisa berkembang cukup pesat.


Toko Desert yang pernah Emran jadikan hadiah ulang tahun Annisa, kini begitu maju dan cukup membantu banyak orang disana.


Tidak tanggung tanggung Dari berkembangnya toko tersebut Nissa telah mampu membuat beberapa cabang lain, dan tentu bukan satu atau dua saja karyawan yang Nissa pekerjaan, bahkan angkanya hampir menyentuh 100 orang karyawan, dan tentu itu sangat membanggakan bagi Annisa.


Meski tak sebanyak sang suami, nyatanya bisa memperkerjakan kurang lebih 100 orang sudah cukup membuat Annisa bahagia, setidaknya ada 100 orang yang juga kehidupannya tertopang dari hasil bekerja di toko nya.


"Tapi apa Amir sanggup ?, sementara dia juga harus mengurus pekerjaan kantor ?" tanya Annisa agak ragu.


Bukan tanpa alasan keraguan Annisa. hal itu tentu karena pekerjaan semacam itu cocok untuk di kerjakan wanita, meski tak jarang ada juga pria yang bergelut dengan usaha makanan. Namun rasa-rasanya Annisa tidak begitu yakin dengan Amir.


Kesetiaan dan loyalitas Amir dalam bekerja memang sudah tidak lagi dapat di ragukan, namun hal itu berlaku ketika dia bekerja dengan sang suami. Lalu apakah bisa di samakan jika dia harus di paksa mengurus toko Desert milik Annisa.


Apa lagi jika Amir harus membantu dua orang salam satu kesempatan, rasa-rasanya hal itu sangat tidak mungkin.


Sejujurnya bukan hanya keuntungan yang Annisa pikirkan, namun banyaknya pekerja disana yang Annisa lebih pikirkan, jika usahanya tidak berjalan dengan baik, bahkan mengalami penurunan , bagaimana orang-orang disana akan dapat menyambung hidupnya.


Tentu mereka akan kembali kesulitan mencari pekerjaan seperti sebelumnya, hal itu tentu sangat tidak di inginkan Annisa, namun melihat kondisinya saat ini yang juga tidak memungkinkan untuk selalu bekerja, membuat Annisa begitu dilema.


Sama hal nya dengan bisnis yang di jalani sang suami, toko Desert milik Annisa tidak hanya membutuhkan konsep dan pemikiran yang matang, namun juga inovasi dan kreatifitas yang juga harus terus berkembang.


Hal itu tentu sangat di butuhkan untuk tetap dapat bersaing dengan banyaknya pelaku usaha lainya.


Memikirkan hal itu sedikit membaut Annisa termenung, hingga belum adanya solusi, membuat nya hanya dapat menghela nafas panjang.


"Sudah , tidak perlu kau pikirkan, aku yang akan memikirkan solusinya" ucap Emran dengan santai.


Emran sangat tidak menginginkan sang istri stress memikirkan hal hal yang dirasa cukup berat, tentu hal itu karena tidak akan baik untuk kondisi anaknya yang masih di dalam kandungan.


Mendengar ucapan sang suami, agaknya Annisa sedikit lebih lega, dan berusaha untuk tetap santai, serta berharap semua akan tetap berjalan sebagai mana mestinya.

__ADS_1


Emran pun kembali meletakkan cangkirnya,dan kembali fokus pada layar di depannya. Sementara Annisa juga masih betah menemani sang suami di ruang kerja, meski Annisa hanya duduk di sofa dan sesekali membaca buku.


"Mas"


"Em"


"Bolehkan aku meminta sesuatu ?"


"Tentu sayang. Katakan"


"Em" Annisa tampak ragu untuk mengutarakan apa yang menjadi keinginannya.


"Katakan saja sayang" ucap Emran. Menyadari sang istri masih tetap diam sementara dia telah menunggu apa yang akan istrinya katakan.


"Bolehkah aku melahirkan anak kita di Indonesia ?"


Mendengar ucapan sang istri, Emran sejenak terdiam, entah apa yang kini tengah di pikirkan, begitu juga Annisa , menyadari perubahan sang suami, sudah dapat di pastikan jika Emran tidak menyetujuinya.


"Tapi tidak masalah jika mas tidak mengizinkannya, lagi pula sama saja melahirkan di sini atau di Indonesia" ujar Annisa.


Kini Emran tampak serius menatap wajah cantik sang istri , Emran jelas tahu jika meski mengatakan demikian tapi Annisa juga sedang merasa kecewa.


Emran pun beranjak dari duduknya dan mendekat pada sang istri yang tengah duduk di sofa.


"Sayang. Tentu saja boleh" ucap Emran lembut dengan kecupan di puncak kepala Annisa.


Wajah Annisa pun kini menjadi berbinar, setelah apa yang sebelumnya dia pikirkan tentang sang suami, nyatanya Emran memberinya izin untuk melahirkan di Indonesia.


"Benarkah ?"


"Tentu sayang"


"Alhamdulillah, Terima kasih mas" ucap Annisa penuh haru.


Annisa tampak memeluk sang suami dengan begitu erat, bahagia yang kini dia rasakan nyatanya terasa sempurna.

__ADS_1


***


__ADS_2