HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
74. Mandi Bersama


__ADS_3

...Aku Mencintai dirimu karena Agama yang ada padamu, Jika kau hilangkan Agama dalam dirimu, maka hilanglah sudah cintaku padamu...


...(Imam An Nawawi)...


...🍁...


Emran begitu bahagia begitupun dengan Annisa, sejenak kedua tatapan itu menyatu sempurna.


Emran semakin mendekat kan tubuhnya pada Annisa, dan hal itu seketika membuat Annisa merasa gugup.


"Mas mau ngapain ?"


"Ohya mas , kalau mau mengulang lagi sebaiknya berwudhu dulu" ucap Annisa dengan penuh percaya diri.


Ptakk


Untuk ketiga kalinya Emran menjitak jidat Annisa, namun kali ini tidak sekeras pertama dan ke dua, kali ini jitak kan yang lebih lembut dan tidak begitu terasa sakit untuk Annisa.


"Mas ! "


"Siapa yang mau ngilangin , aku cuma mau ajak kamu membersihkan diri sayang !"


"Apa ?" ulang Annisa dengan begitu malu nya.


Melihat reaksi Annisa, Emran pun hanya tersenyum kecil.


"Baiklah, Mas Emran duluan saja"


"Kamu ?"


"Aku akan membersihkan diri setelah mas Emran selesai ?"


"Kenapa begitu , Jika bisa bersama kenapa harus sendiri sendiri"


"Tapi mas -- , Annisa malu mas !" ucap Annisa dengan menyembunyikan wajahnya dibalik selimut.


"Kenapa harus malu, bukankah beberapa jam yang lalu aku melihat semuanya ?"


"Mas !" teriak Annisa dengan suara memekik.


Mendengar hal itu Emran hanya tertawa lepas, bagaimana Annisa begitu lucu dan menggemaskan dengan rasa malunya.


"Percayalah, meski kau membersihkan diri setelah aku selesai, kau tetap akan membutuhkan bantuanku !" ucap Emran dengan begitu percaya diri.


"Bagaimana bisa begitu ?, Annisa bisa kok sendiri ?"


"Yakin ?"


"Tentu saja"


"Oke, coba jalan, aku pengen lihat istriku yang cantik ini jalan" ucap Emran dengan senyum menggoda.


Merasa di remehkan, Annisa pun merasa tidak terima, dan kini dirinya telah menurunkan kedua kakinya, hingga menapak sempurna pada lantai dingin kamar tersebut.


"Auchhhh"


Baru juga Annisa ingin berdiri, Annisa merasa lembah kesunyian ya begitu terasa sakit, seolah dirinya merasa di tempat tersebut telah jebol berkeping keping.


Tidak menunggu aba-aba dan tanpa permisi, Emran pun meraih tubuh Annisa, menggendongnya hingga ke dalam kamar mandi.


"Mas !"


Emran hanya tersenyum senyum geli , mendapati Annisa yang memukul dadanya.


"Kita akan mandi bersama sayang " bisik Emran tepat di telinga Annisa.

__ADS_1


"Mas kenapa harus seperti ini ?" kesal Annisa


"Memang tidak boleh ?"


"Boleh sih , Tapi kan ---"


Cup


Sebuah kecupan mendarat tepat di bibir ranum Annisa. Bukan nya senang Annisa lagi-lagi harus merasa malu dengan sikap sang suami.


"Mas kok gitu sih !"


"Pahala sayang " goda Emran dengan senyum smirk.


Keduanya kini tengah berada dalam rendaman air hangat yang begitu menenangkan, terasa begitu nyaman dengan posisi Annisa bersandar pada dada Emran.


"Apa kau bahagia ?" Tanya Emran dengan mengusap lembut bahu sang istri. Annisa pun mengangkat kepala dengan mengulas senyum di wajahnya.


"Apa kau ingin mencoba sensasi yang berbeda ?"


"Maksut mas Emran?"


"Kita coba lakukan lagi di sini" Ajak Emran dengan menarik turunkan alisnya.


Mendengar hal itu Annisa hanya dapat menepuk jidatnya, merasa Emran begitu semangat.


"Mas kita masih punya banyak waktu, lagi pula tempat yang lebih baik masih banyak, kenapa harus di sini ?"


Emea6pun hanya terkekeh mendengar jawaban dari Annisa.


"Oke kita akan melakukanya lagi nanti"


"Mas !"


"Mas , Yang ini aja masih sakit!"


"Tenang sayang semua akan terasa nikmat, setelah dilakukan berulang kali "


"Tapi nggak dalam satu hari kali mas !" Kesal Annisa Membalas ucapan sang suami.


"Oke oke sayang aku tidak akan melakukan lagi nanti "


"Janji ?" ucap Annisa.


"Janji " jawab Emran


Mendengar hal itu pun Annisa dapat bernafas lega dan merasa Bahagia, setidaknya Emran akan membiarkan dirinya untuk beristirahat.


"Tapi aku akan melakukanya satu jam lagi" goda Emran dengan kelakar bahagia, dapat menggoda Annisa nyatanya merupakan kegiatan baru yang di sukai Emran saat ini.


Annisa pun hanya berdecak kesal, dan membiarkan sang suami dengan semua hal yang ingin dia lakukan, pada akhirnya Annisa pun pasrah.


Keduanya kembali menikmati hangatnya sentuhan air yang menyapa kulit, sesekali terasa telapak tangan Emran menyentuh bagian perut datar Annisa.


Memberikan usapan lembut , meski terasa begitu geli, namun Annisa diam saja dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan Emran padanya.


"Kau mau anak kita nanti laki-laki atau perempuan mas ?"


Ucap Annisa dengan memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


Mendengar pertanyaan Annisa, seketika senyum Emran pun merekah sempurna.


"Kau sudah yakin ingin memiliki anak dariku ?" goda Emran


"Mas !"

__ADS_1


"Bukankah Setiap pasang suami istri menginginkan hal itu, atau jangan jangan mas Emran tidak menginginkannya ?"


"Hussss !" Ucap Emran dengan mencubit lembut hidung Annisa.


"Auch , sakit mas !"


"Jangan pernah punya prasangka buruk" ucap Emran, dan Annisa pun menyadari kesalahannya, segera dia beristighfarlah untuk memohon ampun.


"Maafkan Annisa mas "


"Tidak masalah "


"Hanya saja untuk mendapatkan keturunan tidak hanya di lakukan sekali lalu jadi, butuh proses panjang dan di lakukan berulang kali " ucap Emran dengan menahan tawa di balik tubuh Annisa.


Menyadari sang suami tengah menggoda nya Annisa pun berbalik "Itu namanya mas Emran yang pengen" Keduanya tertawa bersama.


"Tapi aku ingin bertanya serius" ucap Emran


Mendapati Emran yang begitu sungguh-sungguh dengan ucapannya, Annisa pun membenarkan posisi duduknya.


"Jika aku selalu meminta menancapkan meriam ku, apa kau akan menolaknya ?"


Mendapati pertanyaan sang suami yang begitu fulgar di telinga suci Annisa, seketika membuat Annisa merasa malu.


"Mas , Meski aku lelah,mungkin marah, atau pun jengah. Tapi Annisa sadar kewajiban seorang istri adalah melayani suami"


"Dan tentunya berapa banyak dan berapa kali pun mas Emran meminta Annisa akan tetap melayani nya"


Ucap Annisa lirih dengan wajah bersemu merah.


Mendapatkan jawaban yang begitu membahagiakan , Emran pun hanya dapat mengulas senyuman di wajahnya. Sungguh keberuntungan saat ini mungkin tengah berpihak padanya.


***


Annisa dan Emran telah selesai dengan ritual mandi nya, Emran membawa tubuh ramping Annisa ke Walk in closet, Emran memilih kan baju untuk Annisa kenakan, sementara Annisa memilih baju untuk Emran kenakan.


"Kanapa harus memakai ini lagi mas ?"


Tanya Annisa penasaran setelah melihat baju yang di pilih Emran nyatanya merupakan lingerie tipis, meski tidak menerawang, namun cukup terbuka di bagian dada dan paha nya.


"Aku sangat menyukai kau mengenakan baju ini, tapi ingat Kanakan hanya ketika ada aku dan ketika di kamar bersama ku saja !"


Ucap Emran penuh penekanan. Sementara Annisa hanya tersipu malu mendengar ucapan Emran, dan setelahnya meraih lingerie tersebut dari tangan Emran , Keduanya saling berganti pakaian dengan baju yang telah di siapkan oleh masing-masing pasangan.


Kini Emran dan Annisa berjalan pelan karena memang Annisa masih cukup merasa kesakitan di bagian inti tubuhnya.


Emran pun menyibak selimut untuk merapikan kembali, karena keduanya berencana beristirahat sejenak sebelum datangnya sholat subuh.


Namun kedua bola mata Emran membelalak sempurna tatkala melihat darah suci yang telah hampir mengering di atas selimut berwarna putih tersebut.


Melihat hal itu Annisa begitu merasa malu, seketika dia tangannya menutup sempurna wajah yang kini terasa panas.


"Sayang kenapa kau menutupi wajahmu ?"


"Aku malu mas !"


"Kenapa harus malu"


"Tanda itu mengingatkan ku betapa perkasa nya dirimu !"


Ucap Annisa lirih masih dengan posisi menutup wajahnya. Sementara Emran hanya tersenyum kecil.


Mendengar hal itu, Emran merasa dirinya begitu bahagia, seketika dia meraih tubuh Annisa dalam dekapannya, memeluk erat Annisa.


***

__ADS_1


__ADS_2