HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
40. Satu Tarikan Nafas


__ADS_3

...Tidak ada yang pergi. Karena sejatinya semua hanya kembali...


...🍁...


Terlihat Annisa menghela nafas panjang dan terasa dalam, kemudian menghembuskan perlahan.


"Bismillahirrahmanirrahim"


"InshaAllah Annisa Menerima Pinangan Tuan Emran" Ucap Annisa penuh keyakinan dengan pandangan menunduk.


"Alhamdulillah" Ucap Abi Ali dan seorang penghulu yang berada di tempat tersebut.


Meski masih tidak percaya, Namun Abi Ali bersyukur Jiak putrinya kini tidak jadi batal menikah. Dan entah keyakinan dari mana, Abi Ali merasa begitu mantap menikahkan Emran dan Annisa.


Hanya Abi Ali yang merasa bahagia di ruangan tersebut, pasalnya Zyan dan kedua orang tuanya tengah mengalami kebakaran jenggot.


Bagaiman tidak Annisa mendapatkan lamaran dari seorang Emran Al-Fatih dan akan melangsungkan pernikahan di hari yang sama dengan rencana pernikahannya dengan Zyan


Namun Zyan dan kedua orang tuanya tidak dapat berlaku macam-macam jika sudah menyangkut nama Emran.


"Siapkan semuanya " Ucap Emran pada penghulu


"Saya ingin menikah dengan Annisa hari ini juga" Ucap Emran dengan suara datar.


"Maaf Pak Emran, Mungkin untuk pernikahan Anda baru bisa di lakukan secara siri, mengingat untuk mengurus semua berkas nya tidak bisa saat ini juga jadi" Ucap penghulu tersebut.


"Saya terserah pada anda, dan tentunya pada Annisa" Ucap Emran dengan melemparkan lirikan mata pada Annisa yang juga saat itu tengah menatap lekat Emran.


Sejenak tatapan keduanya beradu, namun segera Annisa tepis, untuk menghindari fitnah. Melihat tingkah Annisa Emran hanya tersenyum kecil.


"Baik Pak Emran , Untuk itu saya akan urus secepatnya, setelah pernikahan ini selesai" Ucap pak penghulu.


Hal itu memang karena berkas-berkas yang di siapkan sebelumnya atas naman Annisa dan Zyan. Namun pada kenyataanya pernikahan ini di lakukan oleh Emran dan Annisa, sehingga perubahan data perlu untuk di lakukan.


"Tuan " Panggil Amir yang baru saja muncul, disusul dengan kedatangan dua pengasuh Yasmine yang juga ikut datang dengan menggendong Yasmine yang saat itu tengah tertidur.


"Em" jawab Emran singkat.


"Bisa kita bicara ?" Tanya Amir dengan sopan seraya Membungkukkan badan.


"Baiklah tunggu sebentar " Jawab Emran.


"Apa tuan serius melakukan ini ?" Tanya Amir yang masih tidak percaya dengan keputusan tuan besarnya.


Keduanya terlah berada di tempat yang cukup sepi dan hanya ada Emran dan Amir saja.

__ADS_1


"Apa aku pernah bercanda ?" Tanya Emran balik.


"Tidak begitu tuan, Apa tidak perlu anda memberi kabar pada Oma Desi dan Opa Burhan " Ucap Amir mengingatkan.


"Aku akan mengurusnya nanti" Ucap Emran singkat, Dan setelahnya Emran berlalu.


***


11.30 waktu setempat.


Tidak terasa nyatanya perdebatan sebelumnya terjadi kurang lebih selama dua jam lamanya.


Kini Semua orang telah berada di masjid lagi, untuk kembali menyaksikan ikrar sakral ijab qobul yang akan di ucapkan oleh Abi Ali pada sang calon menantu Emran Al -Fatih


Tidak terkecuali Zyan dan kedua orang tuanya. Mereka semua pun turut hadir dalam acara tersebut, karena permintaan Emran sendiri, Dan Emran pula lah yang mengundang ketiganya untuk turut serta duduk di tempat tersebut, bukan sebagai mempelai pria dan dua orang tuanya, Namun sebagai tamu undangan pada akhirnya.


Ingin menolak pun rasanya mereka harus berfikir dua kali untuk melakukan hal itu. Mereka tidak cukup berani untuk melawan Emran. Karena memang ketiga nya tidak memiliki cukup kuasa untuk menolak permintaan Emran.


***


Suasana riuh bercampur tegang kini terasa kembali, Acara ijab kobul yang akhirnya kembali di laksanakan namun dengan mempelai pria yang berbeda, hal itu cukup menyita perhatian para tamu dan beberapa kerabat yang datang.


Namun hal itu tidak lantas mengganggu sakralnya acara, karena mereka tidak secara frontal mengatakan dan menanyakan hal itu. Mengingat semua keputusan tentu lah sudah melalui proses yang matang.


Emran menjawab dengan anggukan kepala, dan senyuman yang terukir di wajahnya, tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya, yang ada justru dia merasa bahagia saat itu.


Entah bahagia karena bisa menikahi Annisa atau kah bahagia karena bisa membawa Annisa untuk Yasmine sang putri, dan hak itu hanya Emran yang tahu.


Abi Ali pun akhirnya mengulurkan tangan pada calon menantunya, dan disambut oleh tangan Emran yang kemudian menautkan kedua tangan tersebut.


Dengan mantap Emran menjabat tangan calon ayah mertuanya tersebut.


“Ananda Emran Al-Fatih bin Alm. Said Pratama, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Putri saya yang bernama Annisa Emilia Zahra , dengan maskawinnya berupa Uang Sebesar Satu Milyar Rupiah, dibayar Tunai.”


"Saya Terima Nikah Dan Khawinya Annisa Emilia Zahra Binti Muhammad Ali Dengan Maskawin Tersebut Dibayar Tunai"


"Bagaimana Saksi , Sah???" Ucap penghulu


SAH


"Sah"


"Sah"


"Sah"

__ADS_1


Alhamdulillah .....


Seketika Penghulu Membacakan Doa kepada kedua mempelai.


اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ اٰدَمَ وَحَوَّاءَ وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَسَارَةَ وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ سَيِّدَنَا يُوْسُفَ وَزُلَيْخَاءَ وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَيِّدَتِنَا خَدِيْجَةَ الْكُبْرَى وَأَلِّفْ بَيْنَهُمَا كَمَا أَلَّفْتَ بَيْنَ سَيِّدِنَا عَلِيِّ وَسَيِّدَتِنَا فَاطِمَةَ الزَّهْرَاءَ


Allâhumma allif bainahumâ kamâ allafta baina Adam wa Hawwa, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Ibrâhîm wa Sârah, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Yûsuf wa Zulaikha, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ Muhammadin shallallâhu ‘alaihi wa sallama wa sayyidatinâ Khadîjatal kubrâ, wa allif bainahumâ kamâ allafta baina sayyidinâ ‘Aly wa sayyidatinâ Fâthimah az-Zahrâ


Artinya: “Ya Allah, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Adama dan Hawa, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Ibrahim dan Sarah, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Nabi Yusuf dan Zulaikha, rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Baginda Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallama dan Khadijah Al-Kubra, dan rukunkan keduanya sebagaimana Engkau rukunkan Ali dan Fathimah Az-Zahra.”


"Alhamdulillah" Ucap beberapa orang yang saat itu menemani Annisa di dalam kamar untuk menunggu kalimat sakral yang terucap dari mulut seorang Emran Al-Fatih.


Meski suasana bahagia mendominasi di tempat tersebut, namun tetap masih ada saja segelintir orang yang tidak terima.


Siapa lagi jika bukan Zyan dan kedua orang tuanya, mereka terpaksa harus tersenyum, meski hati tidak terima.


Mau bagaiman lagi, jika nyatanya rencana pernikahan yang telah di susun untuk Zyan dan Annisa berakhir pada pernikahan Emran dan Annisa.


Mendengar betapa lantang Emran mengucapkan kalimat sakral tersebut, hanya dalam satu kali tarikan nafas, seketika hati Annisa pun menghangat, Bersyukur semua di berikan kelancaran, meski sebelumnya ada satu hambatan.


"Nis, Kita ke masjid sekarang ya" Ucap Aisha dan Khadijah yang saat itu berada di kamar Annisa.


Annisa pun menjawab dengan anggukan kepala.


Disusul oleh Ummi Fatimah yang baru saja datang dari masjid.


"Alhamdulillah. Sudah siap ?" Tanya ummi Fatimah ketika mendapati putrinya sudah berjalan hingga ambang pintu.


"InshaAllah Ummi" Jawab Annisa


"Baiklah temui suamimu di masjid nak " Ucap ummi Fatimah lagi. dan Annisa menjawab dengan anggukan kepala.


Berjalan dengan di iringi oleh Aisha dan Khadijah sang Kakak dan kakak ipar, Annisa berjalan dengan begitu anggun.


Sorot mata Annisa yang memancarkan keindahan meski tidak terlihat bagaimana wajah nya. Namun mereka yakin dibalik cadar tersebut terdapat sosok bidadari dalam perwujudan nyata.


Deg.


Sepertinya Annisa merasakan ritme jantungnya mulai tidak beraturan, ketika dirinya Duduk di sebelah Emran, meski tidak secara langsung menatap laki-laki tersebut, Namun Annisa merasakan ketegangan yang luar biasa.


Emran pun mengulurkan tangan pada Annisa, Dengan Ragu-ragu Annisa pun akhirnya meraih tangan Emran dan mencium punggung tangan tersebut dengan takzim.


Setelahnya Emran meletakkan tangannya di puncak kepala Annisa dan seraya mencium lembut kening Annisa.


***

__ADS_1


__ADS_2