HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
42. Bukan Pernikahan Kontrak


__ADS_3

...Apa yang menjadi takdirmu, Akan mencari jalannya sendiri untuk menemukanmu...


...Ali bin Abi Thalib...


...🍁...


Setelah kepergian Annisa, Mau tidak mau Emran pun akhirnya mengikuti langkah kaki Annisa.


Annisa membalikkan tubuhnya ketika menyadari Emran mengikutinya dari belakang.


"Tunggu lah di kamar, aku akan membawanya kesana" ucap Annisa


Mendengar kalimat perintah yang di ucapkan Annisa, Emran merasa tidak begitu suka.


"Baiklah "


"Oya ingat ini bukan Karena aku mau, tapi karena kau yang memaksa !" ucap Emran dengan suara datar.


Annisa membulatkan kedua bola matanya "Terserah anda tuan " jawabnya kemudian.


***


"Nis, Mau buat Apa ?" Tanya Aisha, menyadari adiknya tersebut tengah berkutat di dapur.


"Makanan untuk Daddy nya Yasmine Mba" Ucap Annisa dengan malu-malu.


"Suamimu kali Nis" Ucap Aisha menyenggol lengan Annisa.


"Apa sih mba"


"Nggak papa kali Nis, Orang kenyataanya emang udah suami istri"


Aneh sih sebenernya, sesuatu yang tidak pernah Annisa bayangkan sebelumnya, Bersanding dengan seorang Emran Al-Fatih, Namun kenyataanya saat ini dia lah yang menjadi suami Annisa.


Mengingat kesan pertama pertemuannya dengan Emran, bahkan Emran begitu sangat tidak menyukainya, dan menolak keras kedekatannya dengan Yasmine.


Ceklek.


Annisa masuk kedalam kamar dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman.


Pemandangan pertama yang menyambut Annisa saat itu adalah Emran yang tengah duduk bersandar pada sandaran tempat tidur dan mengusap lembut kepala Yasmine.


Ini mungkin pemandangan pertama bagi Annisa, karena selama ini dia hanya melihat wajah tegas Emran. Senyum manis di balik cadar seketika terbit begitu saja.


"Makanan Sudah siap , Sebaiknya Tuan makan dulu"


"Terima kasih"


Setelah meletakkan makanan diatas meja, dan mendekatkannya pada Emran. Annisa memilih untuk kembali ke depan menyambut para tamu Abi dan Umminya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian acara syukuran telah selesai, menyisakan lelah yang memang telah terasa sejak tadi.


"Ummi, Annisa langsung ke kamar ya " Pamit Anisa pada ummi Fatimah, dan ummi Fatimah pun mengangguk kan kepala.


Suasana kamar sedikit redup karena memang Emran telah mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur yang ada di ruangan tersebut.


Ketika dalam suasana sepi seperti ini, Annisa merasa sangat gugup, bukan karena takut, hanya saja statusnya saat ini yang membuat dirinya takut untuk berada di kamar tersebut.


Namun setelah mengedarkan pandangan nyatanya Annisa tidak mendapati Emran tengah berada di ruangan tersebut. Hanya ada Yasmine yang masih tidur dengan pulas.


"Dimana tuan Emran" Gumam Annisa mencari sosok Emran yang memang tidak dia temukan di sudut mana pun .


Tidak ingin bergelut dengan pikirannya yang tidak penting, Annisa memilih untuk menyiapkan baju untuk dirinya berganti, kemudian membersihkan diri dan segera tidur, itulah harapan Annisa saat ini, karena memang tubuhnya butuh untuk segera beristirahat.


***


Pagi hari.


Sampai pagi ini pun Emran nyatanya tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Entah karena kesengajaan atau tidak.


"Annisa, Panggil suamimu, ajak dia sarapan bersama" Ucap Ummi Fatimah dengan suara lembut.


Annisa hanya tersenyum, bahkan Annisa pun tidak tahu semalam Emran pergi kemana. Entah mengapa Annisa merasa sedikit sakit hati atas perlakuan Emran tersebut.


"Baik Ummi"


Annisa berlalu dari dapur , Tujuan nya saat ini adalah melihat Yasmine apakah sudah bangun atau belum. Perkara Emran akan dia pikirkan lagi nanti, begitu kata hatinya.


"Tu Tuan ?"


"Ada apa ?, kamu mau tanya kenapa semalam aku tidak tidur di sini ?"


Seolah Emran mengetahui apa isi hati Annisa. Sebelum mendapatkan pertanyaan , Maka Emran akan memberikan penjelasan.


"Lihatlah kasur tempat tidur ini, bahkan untuk dua orang saja rasanya tidak mungkin, bagaimana jika aku juga tidur disana"


Ucap Emran dengan suara dingin. Mengarahkan pandangan ke arah tempat tidur yang memang benar apa yang di katakan Emran, tempat tidur tersebut nyatanya dia gunakan dengan Yasmine saja memang tidak bisa bergerak bebas.


"Lalu, dimana tuan tidur semalam ?"


Emran berbalik dan menatap sorot mata Annisa "Sungguh kau ingin tahu ?"


Annisa terlihat menautkan kedua alisnya, Perasaanya semakin berdebar, Terlebih Emran bergerak maju mendekat pada posisi dimana dia berdiri, namun dengan rasa penasaran Annisa pun menganggukkan kepala.


"Aku tidur di Masjid "


"Astaghfirullah" Batin Annisa yang menyadari sempat suudzon pada sang suami.


"Em..." kalimat yang akhirnya keluar dari mulut Annisa.

__ADS_1


"Mommy" Suara kecil Yasmine yang seketika memecah kecanggungan diantara Annisa dan Emran.


"Sayang" Annisa berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil di hadapannya "Putri Mommy cantik sekali" Ucap Annisa dengan mengulas senyum dibalik cadar yang dia kenakan.


"Terima kasih Mommy"


Senyum terkembang di wajah mungil Yasmine. "Kita sarapan yuk" Ajak Annisa pada Yasmine


"Tuan , Setelah berganti pakaian bergabunglah, Ummi dan Abi telah menunggu untuk sarapan"


Ucap Annisa sebelum beranjak meninggalkan kamar. Emran pun terlihat menganggukkan kepala.Dan kembali pada aktifitas sebelumnya.


***


Waktu menunjukan pukul 10.30


Amir terlihat tengah dalam kepanikan, setelah dirinya menerima telepon dari seseorang. Seseorang yang meminta Emran untuk segera kembali ke Dubai, Karena alasan pekerjaan yang memang tidak bisa di wakilkan.


"Siapkan keberangkatan hari ini juga" titah Emran memberi perintah pada asisten pribadi nya tersebut.


"Buk Tuan !"


Segera Amir berlalu, dan menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan.


"Amir , Tunggu !" Panggil Emran lagi pada sang asisten.


"Siapkan dua tiket saja" titahnya lagi.


"Kenapa begitu tuan, apa tuan tidak ingin membawa Nyonya Annisa dan nona Yasmine?"


"Biarkan mereka disini dulu"


"Baik tuan "


Bukan tanpa alasan Emran ingin berangkat sendiri ke Dubai.


Hal itu dia lakukan karena Emran sadar jika mungkin Annisa masih membutuhkan waktu untuk bersama keluarganya.


Dan lagi kenapa Emran tidak membawa Yasmine, jawabannya adalah karena Putrinya lebih membutuhkan Annisa yang menjadi mommy barunya dibanding dirinya sendiri yang merupakan Ayah kandungnya. Namun hal itu tidak masalah untuk Emran.


Sebelum keberangkatan Emran meminta seseorang untuk mengurus surat-surat Pernikahannya, agar tidak hanya sah secara agama namun sah secara negara, dan juga tercatat dalam dokumen negara.


Meski merupakan pernikahan dadakan, namun Emran juga menganggap ini bukanlah sebuah permainan.


Tidak pernah sedikitpun terbersit bagi Emran untuk mempermainkan sakralnya sebuah ikatan, dan tidak ada sedikitpun niatan bagi Emran untuk menjadikan ini pernikahan paksa, apa lagi pernikahan kontrak seperti kebanyakan cerita dalam novel.


Meski belum memiliki rasa terhadap Annisa. Namun yang terpenting baginya adalah Putrinya bahagia dengan hadirnya Annisa dalam kehidupan keduanya.


Persoalan cinta itu akan menjadi urusan Emran nantinya. Mungkin besok, lusa, satu bulan lagi, atau satu tahun lagi rasa itu baru muncul. Emran akan mengalir mengikuti Alur.

__ADS_1


***


__ADS_2