
...Percayalah...
...Allah menggenggam semua Doa kita, dan akan melepaskannya satu per satu di waktu yang tepat...
...🍁...
Waktu menunjukan pukul 08.15. Jika sesuai rencana maka ikrar ijab akan dilakukan tepat pukul 08.30 berarti 15 menit dari saat ini.
Perasaan haru bercampur tegang menjadi satu dalam suasana bahagia saat itu, namun tidak dengan Yasmine yang merasa sedih.
Satu hal yang Yasmine pikirkan, Jika dirinya tidak lagi dapat memanggil Annisa dengan sebutan Mommy, maka Yasmine akan merasa sangat sedih.
Detik detik berlalu akhirnya waktu yang di nanti pun telah tiba.
08.30
Duduk di tengah masjid diantara beberapa orang yang menyaksikan, Zyan yang berhadapan dengan Abi Ali yang duduk tepat di depannya, dengan sejuta keyakinan dan kesiapan untuk mengucapkan kalimat ikrar ijab.
Deg.
Begitu terasa tegang suasana hati Zyan. Hanya Debaran jantung yang seketika mendominasi. Meski begitu senyum manis tidak sedikitpun lepas dari wajah tampannya.
"Sudah siap Nak Zyan" Tanya Abi Ali dengan suara lembut.
"Siap Abi !" Jawab Zyan dengan begitu yakin.
Dengan mantap Abi Ali menjabat tangan calon menantunya tersebut. Tidak ada sedikitpun keraguan disana.
"Bismillahirrahmanirrahim" Ucap Abi Ali lirih.
"Ananda Zyan Abdul Malik Saya ----"
"STOP !"
Suara lantang yang seketika itu memecah fokus diantara banyaknya orang yang tengah menyaksikan sakralnya acara ijab qobul antara Annisa dan Zyan.
Mendengar suara yang tidak asing baginya, Zyan menoleh dan mencari sumber suara. Memastikan pendengarannya tidak sedang terganggu.
"Tamara" Gumam Zyan lirih. Membulatkan kedua bola matanya, Menatap Tamara dengan tatapan terkejut. Untuk apa mantan kekasihnya itu datang. Seketika pikiran buruk pun menghampiri Zyan saat itu.
Terlebih mengingat sehari sebelumnya Tamara berusaha untuk memintanya kembali.
Berbeda dengan Zyan yang merasa terkejut, Pak Malik yang duduk di belakang Zyan pun juga tidak kalah merasa terkejut dengan kedatangan Tamara. Namun rasa terkejutnya tersebut seketika berubah menjadi kemarahan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Sialan !" Batin pak Malik
"Pernikahan ini harus di batalkan !" Ucap Tamara lantang.
Semua orang hanya tertegun menatap tidak percaya, menyaksikan keberanian sosok gadis yang tiba-tiba masuk dan men sabotase acara tersebut.
__ADS_1
Terlebih mengingat acara siapa yang saat itu sedang berlangsung, seorang kiai kondang yang memimpin pesantren ternama di kota tersebut dan pejabat pemerintahan yang namanya saat ini mulai meredup, dimana keduanya akan menikahkan putra putrinya, sudah dapat di pastikan ganjaran setimpal menanti Tamara saat itu.
Tapi hal itu tidak berlaku untuk Emran yang hanya menunjukan ekspresi datar dan tetap tenang, Seolah kegaduhan disana sangat tidak penting baginya.
"Tidak usah menghiraukannya, Dia itu gila ! " Suara tak kalah lantang yang seketika keluar dari mulut Pak Malik.
"Cih" Tamara hanya mendengus kesal mendengar ucapan mantan calon mertuanya tersebut.
"Saya ?. Gila !.Apa saya tidak salah dengan Pak Malik yang terhormat ?" Tanya Tamara dengan berani.
"Saya rasa anda pun juga Gila pak Malik " Ucap Tamara dengan memutar bola matanya, jengah dengan tingkah mantan calon mertuanya tersebut.
Pak Malik hanya mendengarkan ucapan Tamara dengan ekspresi wajah yang begitu marah, seolah tidak terima dengan ucapan Tamara yang juga mengatainya gila.
"Bagaimana bisa anda menyekap seorang wanita hamil di tempat terpencil, sementara dia tengah mengandung cucu anda !" Ketus Tamara dengan begitu berani.
Tidak ada sedikitpun rasa malu yang Tamara rasakan, saat ini yang ada hanyalah kemarahan yang ingin dia luapkan .
Mendengar ucapan Tamara, Pak Malik sampai dibuat melongo, bola matanya seakan ingin lepas dari tempatnya.
"Apa ? Hamil ! " Bisik -bisik beberapa orang disana yang tidak mengerti maksut dari ucapan Tamara.
"Ada apa ini, Malik bisa kau jelaskan ada apa ini" Ucap Abi Ali yang juga tidak kalah bingung dengan situasi saat itu.
"Tidak perlu kau dengarkan Ali, dia itu hanya Wanita sialan yang berusaha merusak kebahagiaan putraku" Ucap Pak Malik.
"Tapi kenapa dia mengatakan mengandung cucumu ?" Tanya Abi Ali yang masih belum mengerti. Seolah tidak mempercayai ucapan Pak Malik yang baru saja dia ucapkan.
"Bayu !" Panggil pak Malik pada sopir pribadinya.
"Seret dia, dan Bawa dia jauh-jauh dari tempat ini " Ucap Pak Malik lantang dengan emosi yang telah memuncak.
Bukan tanpa alasan pak Malik melakukanya, sudah dapat di pastikan jika lebih lama Tamara di sana maka akan lebih banyak boroknya yang terbongkar.
" Tunggu !"
Ucap Abi Ali lantang yang menolak keras tindakan Calon Besan nya tersebut.
"Sebaiknya kita bicarakan masalah ini di rumah" Ucap Abi Ali menengahi suasana Kacau saat itu.
"Untuk apa Ali !. Tidak perlu kita membicarakan hal ini, jelas-jelas ini tidak penting" ucap pak Malik menolak.
Namun Abi Ali merasa perlu adanya tabayun,untuk menjelaskan duduk permasalahan yang terasa kusut saat itu. Meskipun acara akan sedikit tertunda karena hal itu.
Namun hal itu juga di benarkan oleh pak penghulu yang kala itu juga memberi saran untuk membicarakan masalah tersebut, sebelum benar-benar melanjutkannya.
Setelah mengatakan hal itu, semua orang akhirnya menyetujui ucapan Abi Ali. Zyan yang di temani oleh kedua orang tuanya, bersama Tamara dan juga Abi Ali sendiri, serta bapak penghulu beranjak untuk menuju rumah.
Termasuk pak Malik yang mau tidak mau juga harus menyetujui ucapan calon besan nya tersebut, Meski dengan berat hati.
__ADS_1
Meninggalkan para tamu dan beberapa saudara yang masih memiliki segudang tanya di kepala.
Perasaan tidak tenang seketika menghantui relung jiwa Zyan saat itu, bagaimana bisa Tamara datang dan mengacaukan acara pernikahan dirinya dan Annisa.
Tidak ingin semakin pusing, Zyan memilih untuk bersikap tenang.
Sesampainya di ruang tamu, mereka segera membahas permasalahan yang terjadi.
Masih dengan rasa tidak percaya, namun Abi Ali berusaha untuk tetap tenang menghadapi semua ini, terlebih ini menyangkut masa depan sang putri bungsu.
Abi Ali tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan, yang nantinya justru akan merugikan salah satu atau kedua belah pihak.
***
"Daddy kenapa Acaranya berhenti " Tanya Yasmine yang juga merasa bingung.
"Dan kenapa Kakek dan orang-orang tadi pergi ?" Ucap Yasmine dengan suara celotehan.
"Siapa Bibi tadi dad " Tanya Yasmine lagi.
Emran hanya mengangkat kedua bahunya "Entah lah sayang, Daddy juga tidak tahu" Jawab Emran dengan suara datar.
"Kenapa kau lama sekali" ketus Emran yang menyadari asisten pribadinya itu baru saja sampai dan duduk tepat di sampingnya.
"Maaf tuan , tadi ada sedikit masalah di jalan" Jawab Amir jujur.
Emran hanya melemparkan tatapan dingin pada asisten pribadinya tersebut, dan meminta kembali ponsel miliknya.
Setelah membuka ponsel miliknya, Emran kembali menutup dan memasukkan nya kedalam saku jas yang dia kenakan.
"Sayang. Kita pulang sekarang " Pinta Emran dengan suara lembut.
Mendengar hal itu Yasmine hanya menautkan kedua alisnya "No ! Daddy" Jawabnya kemudian.
"Acaranya sudah selesai sayang" Ucap Emran asal.
Mendengar hal itu Yasmine semakin marah "Daddy!" Panggil Yasmine dengan suara keras, tidak terima dengan ajakan Emran sebelumnya.
Melihat tingkah sang putri Emran pun sedikit terpancing, pasalnya sore nanti Emran harus segera kembali ke Jakarta untuk bertemu dengan seorang klien dari Turki.
Tidak mungkin dia membatalkan begitu saja, klien yang sama sibuknya, namun masih menyempatkan waktu untuk menyusul Emran ke Indonesia, untuk sebuah kontrak kerja.
"Tuan . Sebaiknya anda ikuti permintaan Nona Yasmine, Maksut saya. Saya hanya takut jika kita menolak nya Nona akan jatuh sakit lagi" Ucap Amir memberi saran.
Sejenak berfikir dan ada benarnya juga ucapan Amir, Meski dengan berat hati, akhirnya Emran menyetujui Saran dari sang asisten. Lagi pula Yasmine merupakan Milik nya yang paling berharga.
"Baiklah " Meski dengan berat hati akhirnya Emran menyetujuinya.
"Ok. Kita tunggu Samapi acaranya selesai sayang, tapi setelah itu kita kembali ke Jakarta ya" Ucap Emran dengan pelan namun mengandung paksaan.
__ADS_1
Sedikit terlihat raut kecewa dari Yasmine, namun pada akhirnya gadis kecil tersebut menyetujuinya.
***