
...Abaikan Sakitnya atau kamu tidak akan bahagia...
...Ali Bin Abi Thalib...
...🍁...
Sepanjang perjalanan Annisa begitu tidak sabar untuk segera sampai di apartemen sang suami. Ingin sekali Annisa menanyakan secara langsung kenapa Emran melakukan hal ini pada dirinya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit, tibalah Annisa di basemen sebuah gedung bertingkat yang begitu megah.
Dengan sigap sang supir membuka kan pintu mobil untuk Annisa.
"Terima kasih pak" Ucap Annisa , yang kemudian di jawab dengan anggukan kepala oleh sang supir.
"Bapak tidak perlu mengantarkan saya, Annisa bisa sendiri pak" Ucap Annisa dengan suara lembut
"Tapi saya harus memastikan nyonya baik-baik saja, setidaknya izinkan saya mengantarkan hingga ke lobby" pinta sang supir dengan Sopan.
Mendengar ucapan sang supir Annisa hanya tersenyum kecil.
"Baiklah"
Setelah mendapatkan persetujuan Annisa di temani sang supir yang berjalan di belakangnya, kini berada dalam satu lift menuju lobby.
***
Ting
Lantai 28 . Tibalah Annisa di lantai tempat Apartemen Emran berada.
Segera Annisa mencari dimana Letak pasti pintu apartment tersebut, tidak butuh waktu lama,Annisa telah menemukannya.
Sejenak berdiri di ambang pintu ruangan tersebut, banyak pikiran berkecamuk yang tengah mengganggu Annisa, namun Annisa pun tidak ingin gegabah dalam hal ini, karena Annisa tahu betul bagaimana sifat dan watak sang suami.
Annisa pun menekan bel yang ada di pintu tersebut, Namun setelah beberapa kali tidak mendapatkan jawaban dari sang pemilik, Annisa pun memberanikan diri untuk menekan Smart Lock pintu tersebut, dan benar saja pintu dengan begitu saja terbuka, seolah mempersilahkan Annisa masuk kedalamnya.
Mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, terasa begitu dingin dan bersih itu lah kesan pertama yang Annisa rasakan setelah memasuki apartemen tersebut.
Pandangan mata Annisa tertuju pada sebuah ruangan yang begitu luas namun tidak tertutup pintunya, sehingga Annisa bisa dapat dengan leluasa melihatnya.
Ruangan tersebut tampak lebih berantakan dari kamar lainya di apartment tersebut, ya benar saja kamar tersebut merupakan kamar Emran, tempat dimana selama beberapa hari ini dia tempati.
Tidak menunggu aba-aba Annisa segera meraih beberapa pakaian yang berserakan dan segera membersihkan kamar tersebut.
Dengan telaten Annisa Merapikan kembali kamar tersebut , hingga Annisa tak menyadari sepasang mata tengah mengamatinya dari balik pintu.
Setelah menyelesaikan tugasnya Annisa pun segera berbalik dan merapikan kembali vakum yang sebelumnya dia gunakan.
"Astagfirullah"
"Mas !, Sejak kapan mas Emran sampai ?"
__ADS_1
"kok nggak salam ?"
Mendengar pertanyaan Annisa , Emran hanya terdiam, namun guratan di wajahnya tak dapat di tutupi, seolah Emran tengah menyimpan kebencian yang begitu dalam.
"Mas sudah makan ?"
"Em.. Annisa buatkan makanan ya " ucap Annisa dengan lirih dan begitu hati-hati
Menyadari sang suami hanya diam, Annisa pun memilih untuk berlalu, berencana menuju dapur untuk membuatkan beberapa makanan untuk sang suami.
Namun belum juga Annisa melangkahkan kaki, Emran lebih dulu meraih pergelangan tangan Annisa, mencengkeramnya dengan begitu erat, hingga yang terasa oleh Annisa adalah rasa sakit.
"Sedang apa kau di sini ?" Ucap Emran dengan dingin
"Mas !. Sakit " lirih Annisa yang berusaha melepaskan tangannya.
Menyadari hal itu Emran pun segera melepaskan tangannya, sadar akan perbuatanya yang membahayakan Annisa.
Emran pun memilih membuang pandangan, dan berlalu dari hadapan Annisa. Begitu juga dengan Annisa yang juga beranjak menuju pantry.
Annisa berencana membuatkan Segelas teh Hangat untuk sang suami, Minuman yang selalu dia suguhkan untuk sang suami setiap kali Emran pulang dari kantor. Berharap dengan begitu Emran tidak akan lagi marah.
Selain teh Annisa juga menyiapkan beberapa makanan untuk sang suami, dengan bahan makanan yang ada di dalam kulkas, tidak banyak yang Annisa bisa buat, karena keterbatasan bahan masakan yang ada.
Emran terlihat begitu segar dengan kaos yang membalut tubuhnya, dengan titik air yang membasahi rambutnya.
"Makan dulu mas, Annisa sudah siapkan" Ucap Annisa di iringi dengan senyuman
Annisa dengan sigap melayani sang suami, mengambilkan beberapa makanan untuknya, dan segera meletakkan ya dihadapan Emran.
"Dimakan mas"
Emran hanya menghela nafas dalam dan memejamkan matanya sejenak.
"Ada tujuan apa kau kemari ?"
Mendengar pertanyaan sang suami, Annisa hanya terdiam sesaat.
"Bukankah seharusnya Annisa yang bertanya, sedang apa mas Emran disini ?"
"Sementara di rumah mas Emran ada aku istrimu dan juga anak kita Yasmine?"
Mendengar penuturan Annisa, Emran pun hanya terdiam menatap dalam mata Annisa yang saat ini mulai berkaca-kaca.
"Aku membebaskan mu melakukan apa pun yang kau inginkan" Ucap Emran dingin sementara Annisa hanya menatap dalam ucapan Sang suami.
"Namun aku meminta satu hal darimu untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan lelaki manapun, terlebih itu Laki-laki yang pernah akan menikahi mu" Tegas Emran dengan tatapan dingin.
"Tapi Annisa tidak menjalin hubungan apapun mas, terlebih dengan mas Zyan!" Ucap Annisa dengan linangan air mata, Nyatanya ucapan Emran sebelumnya cukup membuat Annisa merasa ketakutan.
"Lalu ini apa ?"
__ADS_1
Emran menyodorkan handphone nya, disana terdapat video antara dirinya dengan Zyan sebelumnya, dimana Annisa saat itu terlihat pembicaraan dengan Zyan sewaktu di kampus. Namun dalam video tersebut tidak terdapat percakapan yang jelas antara keduanya.
Annisa sangat yakin Video itu diambil dengan sengaja oleh seseorang yang berniat tidak baik terhadap rumah tangganya dengan sang suami.
"Demi Allah mas, Annisa tidak pernah menjalin hubungan apapun dengan ya !"
"Lalu bagaimana dengan video itu, aku rasa itu memang lah dirimu dan laki-laki itu"
Mendengar ucapan yang terasa begitu menyakitkan dari sang suami, seketika Annisa merasa lemas.
"Demi Allah mas, Annisa pun telah berusaha menghindari dan memperingatkan mas Zyan, namun dia selalu memaksa dan berusaha untuk mengajak Annisa berbicara"
"Itulah kenyataan adanya, silahkan mas Emran pikirkan siapa yang ingin mas percayai "
"Apakah Annisa atau Video yang mas lihat itu"
"Video yang jelas jelas ingin mengganggu rumah tangga kita" Ucap Annisa dengan begitu tegas, meski dengan nada lirih dengan air mata yang berusaha dia tahan.
Mendengar ucapan Annisa , sejenak Emran tertegun, begitu mudahnya dia menyalahkan Annisa , sementara dia tidak pernah mempertanyakan hal itu secara langsung pada Annisa. Sementara itu Annisa memilih beranjak dari duduknya.
"Mau kemana ?" Tanya Emran dengan wajah berkerut.
Mendengar pertanyaan sang suami Annisa hanya diam, berjalan menuju sofa, tempat dimana dia meletakkan tas nya.
Menyadari Annisa yang mungkin saja akan beranjak pergi Emran segera mengejar Annisa dan meraih tangannya.
"Kemana ?" Tanya Emran , sementara itu Annisa tetap diam.
"Maafkan aku Sayang"
"Maaf aku yang tidak bisa berfikir jernih" tukas Emran , namun Annisa tetap diam dan meraih tas miliknya.
"Sayang.. Please!"
"Sayang mau pulang?"
"Oke Oke kita pulang sama-sama yaa" Panik Emran yang melihat sang istri hanya terus diam.
"Siapa yang mau pulang ?"
"Lalu ?"
"Annisa mau hubungin pak supir?"
"Untuk apa, Kan ada aku?" Ketus Emran
Annisa pun menghela nafas "Mas, Annisa mau ngasih tau kalau nanti kita pulang sama-sama, jadi biar pak supir pulang dulu"
"Ooohh"
Emran pun merasa lega setelah mendapatkan jawaban dari Annisa
__ADS_1
***