HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
49. Senam Jantung


__ADS_3

...Cobalah menghargai sekecil apa pun usaha seseorang , Kerena Berusaha itu tidak semudah berbicara ...


...🍁...


Keduanya telah merebahkan diri di atas tempat tidur, dengan kasur berukuran besar tersebut, posisi Emran maupun Annisa saling memunggungi.


Entah apa yang ada dalam pikiran Emran maupun Annisa, saat ini, yang jelas keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.


Waktu menunjukkan pukul 02.45 Nyatanya Annisa juga masih belum dapat memejamkan mata, entah karena sebab apa, namun Annisa merasa tidak terbiasa tidur dengan di temani seorang laki-laki. Meski Annisa tahu jika laki-laki tersebut telah sah menjadi suaminya.


Rasanya tidak nyaman, atau mungkin belum merasa nyaman, meski Annisa berusaha keras untuk memejamkan matanya. Nyatanya hal itu juga tidak dapat dia lakukan dengan mudah. Annisa masih saja terjaga hingga dini hari.


Annisa memberanikan diri untuk menatap Emran sekilas, merasa Emran telah mengunjungi alam mimpi, Annisa pun merasa lega. Hal itu diyakini Annisa karena tidak ada sedikitpun pergerakan dari Emran saat itu. Annisa memilih untuk Mengambil wudhu dan melaksanakan sholat malam.


Annisa bergegas menuju kamar mandi, Dan mengambil wudhu, setelahnya Annisa bergegas melaksanakan Qiamul Lail.


Beberapa saat berlalu Annisa telah selesai dengan sholatnya, dan Masih ada jeda waktu setelah sholat hingga datangnya waktu sholat subuh tiba, Annisa mempergunakannya untuk membaca mushaf Al-Qur'an.


Suara yang begitu merdu, hingga kemerduan suara Annisa Sayup-sayup terdengar oleh pasang telinga Emran.


Emran pun yang tidak pernah mendengar hal itu sebelumnya, sedikit ada rasa terkejut, namun dia segera sadar jika suara tersebut merupakan Annisa sang istri.


Sejenak ingatan Emran pun menerawang jauh, dimana dirinya terakhir kali melaksanakan sholat, Bukan tidak pernah melaksanakan sholat, Emran hanya jarang atau bisa di katakan sholat nya masih bolong-bolong.


Emran bisa di bilang rutin sholat hanya saat sholat Jum'at, itu pun juga karena Amir selalu mengingatkannya untuk sholat.


Emran yang terbangun karena hal itu, bukannya marah justru larut dalam indahnya lantunan ayat suci Al Quran yang di bacakan Annisa, hingga pada saat Adzan subuh terdengar melalui handphone Annisa.


Annisa pun bergegas menyudahi Bacaan Nya, dan kembali dia menutup mushaf Al-Qur'an miliknya, kemudian bangkit dan melaksanakan sholat subuh.


Sementara Annisa tengah khusyuk dalam sholat nya, Emran pun juga tidak pernah bosan menatap lekat Annisa yang berbalut mukena putih yang dia kenakan.


Beberapa saat kemudian Annisa telah selesai dengan ibadahnya. Bergegas melipat kembali mukena dan sajadah yang dia kenakan.


Alangkah kagetnya Annisa ketika melihat Emran telah duduk dengan menyandarkan Punggungnya, menatap lekat pada Annisa, dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.


"Astaghfirullah"

__ADS_1


"Maaf. Apa aku mengganggumu ?" Tanya Annisa


"Em" jawab singkat Emran, namun tatapan lekat pada Annisa yang begitu gugup.


"Maafkan aku"


"Tidak masalah"


Jujur Annisa merasa tidak enak hati, Annisa tidak menyangka jika Emran akan terbangun, pasalnya dia telah benar-benar memastikan sebelumnya, jika Emran benar-benar telah tidur.


"Baiklah, Tuan bisa tidur kembali, aku akan kekamar Yasmine " ucap Annisa lirih.


Emran pun menautkan kedua alisnya, menatap heran pada Annisa.


"Tidurlah , Aku tahu kau belum tidur sejak semalam" ucap Emran memerintah.


"Ada apa dengannya, kenapa dia jadi perhatian" gumam Annisa dalam hati.


"Apa dia salah minum obat"


"Tidak, sebaiknya aku ke kamar Yasmine saja" Bergegas Annisa berlalu dari hadapan Emran.


Sejujurnya Emran tidak sengaja menarik tangan Annisa, hingga dirinya dan Annisa terjerembab di atas kasur dengan posisi sangat intim.


"Kau tahu bukan, aku tidak pernah suka penolakan !" Tegas Emran dengan suara lirih, dan hal itu tepat di telinga Annisa.


Annisa hanya dapat memejamkan mata, dan menarik nafas dalam. Berusaha menguasai ketegangan di dalam hatinya.


"Maaf tu tuan " ucap Annis gugup.


Annisa berusaha bangkit dari atas tubuh Emran, namun Emran justru mengeratkan kedua tangannya, hingga melingkar sempurna di pinggang Annisa yang ramping.


"Saya mohon tuan jangan seperti ini" Ucap Annisa dengan menundukkan wajahnya.


"Lalu seperti apa ?" Tanya Emran , dan Annisa hanya bergeming, karena jujur dirinya juga tidak memiliki jawaban.


"Atau seperti ini" Gerakan cepat Emran yang membalik tubuh Annisa, hingga saat ini keduanya bertukar posisi, dimana kini Annisa yang berada dalam kukungan Emran.

__ADS_1


Bukan menguntungkan , justru Annisa merasa semakin gugup, saat ini Annisa hanya dapat memejamkan mata, dengan memegang dadanya yang begitu bergetar.


Tidak berani sedikitpun membuka mata nya, karena Hal ini merupakan pengalaman pertama bagi nya, dan ini terasa sangat aneh bagi Annisa.


"T tuan saya mohon " punya Annisa dengan suara penuh permohonan.


Bukan melepaskan, Emran justru semakin senang, bahkan saat ini Emran mulai mengarahkan tangannya diatas pipi mulus Annisa.


Mendapat sentuhan yang begitu intim, seketika hal itu menggetarkan hati Annisa , tidak hanya hati saya yang bergetar, nyatanya bulu Roma annisa pun ikut bergetar.


"Apa kau gugup?" tanya Emran dengan senyum menggoda.


Annisa hanya bergeming, enggan memberikan jawaban, atau dirinya memang tidak memiliki jawaban atas pertanyaan Emran.


Sungguh Annisa begitu gugup, hingga untuk mengucapkan satu kalimat saja, lidahnya terasa begitu kelu.


Seharusnya tidak perlu bertanya Emran pun jelas sangat mengetahui kegugupan Annisa, Rona wajah Annisa yang bersemu merah, sudah cukup memberi penjelasan pada Emran. hanya saja Emran masih betah berlama-lama dekat dengan Annisa.


Entah perasaan macam apa, jujur ada desiran aneh ketika Emran dekat dengan Annisa.


Hal ini Bukan lah kali pertama bagi Emran dekat dengan seorang wanita, sejak kepergian mendiang istrinya. Emran jelas sering berdekatan dengan wanita, tak jarang justru Emran memperkenalkan wanita tersebut pada sang putri tercinta.


Namun tidak satupun dari mereka yang mampu menggetarkan hatinya, Hal ini berbanding terbalik ketika dirinya dengan Annisa, jangankan berdekatan, hanya memandang wajah cantik nya saja Emran sudah begitu terpesona.


Namun Emran sadar jika Annisa dan dirinya butuh proses dalam pendekatan ini, tidak mudah bagi keduanya untuk bisa menyatukan dua hati dan pikiran yang sebelumnya sama sekali tidak pernah bersama. Meski Annisa telah dekat dengan Yasmine. Namun hal itu tidak lantas di manfaatkan Emran untuk mengambil kesempatan.


Emran berjanji pada dirinya sendiri akan berusaha sendiri untuk mendapatkan hati Annisa sang istri, wanita solihah yang kini halal untuk dirinya.


Emran terus memandangi wajah Annisa yang begitu ketakutan dalam kukungan nya. Sementara itu Annisa juga tetap betah memejamkan mata.


Senyum renyah tergambar jelas di wajah Emran, namun Emran pun juga merasa kasihan pada Annisa, dan pada akhirnya Emran melepaskan Annisa, karena merasa sudah cukup berkenalan dengan tubuh istri barunya tersebut.


"Kau harus terbiasa, Karena bisa saja aku menginginkan lebih" Bisik Emran seraya bangkit dari tubuh Annisa.


Annisa pun membulatkan kedua matanya, menatap tidak percaya pada Emran yang telah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Barulah setelah itu Annisa dapat bernafas lega.

__ADS_1


***


__ADS_2