HIJRAH CINTA ANNISA

HIJRAH CINTA ANNISA
109. Keputusan Emran


__ADS_3

...Jangan pernah Meninggalkan Sholat, Karena Untuk Mati tidak Butuh Notifikasi. ...


...🥰...


...🍁...


Menempuh perjalanan panjang yang terasa cukup melelahkan, tak jarang Annisa merasa mual dengan lamanya perjalanan yang keduanya lalui.


Bisa di katakan kesehatan Annisa memang tengah kurang baik, terlebih pasca kelelahan menemani sang Abi di rumah sakit. Beruntung tidak terjadi masalah apapun dengan kandungan Annisa.


"Tidurlah, mungkin akan lebih baik" ujar Emran menenangkan, dan di jawab dengan anggukan oleh Annisa.


Tidak butuh waktu lama, Annisa benar benar terlelap dalam tidurnya, dalam balutan selimut, terlihat wajah damai Annisa yang kini tak mengenakan cadar. Terbersit sebuah senyum tatkala Emran menatap wajah teduh nan ayu tersebut.


Sementara Annisa tengah terbuai dalam alam bawah sadarnya, Emran tengah sibuk dengan laptop dan beberapa email laporan yang telah di kirim oleh sang asisten.


Cukup lama meninggalkan kantor, hingga banyak pekerjaan yang harus Emran kerjakan dalam waktu dekat.


Emran akan membangunkan Annisa bila waktunya makan telah tiba, dan akan kembali meminta sang istri untuk kembali beristirahat setelahnya. Bukan tanpa alasan, sungguh hal itu tidak lain karena memang perjalanan panjang yang cukup menguras tenaga dan kesabaran.


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya Emran dan Annisa kembali menginjakkan tanah di negara Dubai.


Seperti yang telah di rencanakan sebelumnya jika Yasmine akan ikut bersama Amir untuk menjemput keduanya.


Benar saja dari jarak yang cukup jauh Yasmine terlihat begitu bersemangat, melambaikan tangan kearah dua orang tua nya yang kini tengah berjalan menghampirinya.


"Mommy!" teriaknya beberapa kali.


Begitu juga dengan Annisa yang tak kalah bersemangat ketika menyambut putri kecilnya, bersiap berjongkok untuk memeluk Yasmine.


"Mommy aku sangat merindukanmu " ujar Yasmine yang kini tengah berada dalam pelukan Annisa.


"Mommy juga sangat merindukan Yasmine, Maafkan mommy ya pergi tidak memberitahu Yasmine" sesal Annisa


"Tidak apa mommy. Apa Daddy marah sama mommy, lalu mommy pergi" celoteh tak terduga dari Yasmine.


Sejak kepergian Annisa memang Yasmine selalu menganggap jika hal itu karena Daddy nya yang memarahi Annisa, sehingga sang mommy pergi begitu saja tanpa berpamitan, dan tak memberikan kabar setelahnya, oleh karena itu dia selalu melampiaskan kemarahannya pada Emran.


Masih begitu jelas di ingatan Yasmine ketika dulu pertama kali bertemu, bahkan Emran sangat menentang keras kedekatan antara Annisa dan Yasmine. Dan ketika saat ini Annisa pergi, itu lah yang menjadi sebab Yasmine berfikir demikian.


"Tidak sayang, Daddy tidak marah Mada mommy" Ucap Annisa dengan lembut.

__ADS_1


"Lalu kenapa mommy pergi?"


"Mommy pergi karena Kakek sedang sakit, maka dari itu Mommy harus segera pulang waktu itu" tutur Annisa dengan lembut.


Mendengar ucapan Annisa, Yasmine pun mengangguk paham. Seolah tidak ada lagi pikiran buruk tentang kepergian mommy nya.


"Sini anak Daddy . Peluk Daddy " ucap Emran dengan meraih tubuh mungil Yasmin dalam pelukannya.


Nyatanya tidak hanya Annisa saja yang merindukan Yasmine, Emran pula merasakan hal yang sama, keduanya saling melepas rindu, tak lupa Emran menghujani Yasmine dengan ciuman di wajah mungilnya.


"Yasmine tidak merindukan Daddy ?"


"Em. Iya sih "


"Kok iya sih ?"


Mendengar jawaban asal Yasmine, Emran merasa putrinya benar-benar menggemaskan, hingga Yasmine tak luput dari ulah jahil Daddy nya. Tentu Emran kini telah menggelitik Yasmine hingga gadis kecil itu tertawa terbahak-bahak.


***


Hari baru.


Rutinitas yang di lalui Emran kini kembali seperti semula, Tidak banyak yang berubah meski telah di tinggalkan kurang lebih selama 3 Minggu. Nyatanya sang asisten begitu cekatan dan selalu dapat di andalkan meski tanpa pendampingan Emran.


"Em"


"Siapkan agenda hari ini" pinta Emran


Dengan sigap Amir menyerahkan Layar pipih yang biasa dia gunakan kepada sang bos.


"Untuk semua jadwal penting dan pertemuan dengan beberapa kolega sudah terjadwal Tuan"


"Em. Bagus"


"Ohya tuan, em. Mengenai Sania ap--"


Belum juga Amir menyesuaikan pertanyaan nya, Emran telah lebih dulu menimpali.


"Asingkan dia !!" Tegas Emran tanpa bantahan.


"Baik Tuan"

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Emran mengambil keputusan tersebut, hal itu dikarenakan Sania selalu membuat kegaduhan dan selalu meresahkan.


Belajar dari pengalaman sebelumnya, kini Emran benar-benar tidak ingin berurusan dengan wanita tersebut, Seolah jijik , Emran telah memutus semua mata rantai komunikasi dengan Sania.


Meski mengasingkan Sania, Namun bukan berarti dia akan di biarkan begitu saja, sebelumnya Emran telah menyiapkan tempat tinggal, meski hanya ala kadarnya. Tidak hanya itu Emran juga telah menyiapkan uang untuk menunjang kehidupan Sania, persalinan, dan biaya hidup yang akan cukup samai lima tahun mendatang.


Sudah dapat di pastikan Emran benar-benar mengirim Sania ke tempat yang begitu jauh, sangat jauh hingga Sania tidak akan sanggup lagi untuk menjangkau kehidupan Emran dan keluarga kecilnya.


Afrika Selatan. Ya itu lah tempat yang Emran pilih untuk Sania tingga dan menghabiskan waktunya, mungkin untuk 5 atau 10 tahun atau bahkan selamanya , selama sisa hidup Sania. Merupakan hukuman yang Emran berikan karena telah berani bermain-main dengan Emran Al-Fatih.


***


Setelah kembalinya Annisa dan Emran, seolah Annisa selalu merasa khawatir dengan kondisi Abi nya, tak lupa Annisa selalu memantau kesehatan sang Abi, memastikan jika Abi nya baik-baik saja.


"Sayang kenapa melamun?"


Tanya Emran yang menyadari sang istri hanya berdiri dengan pandangan kosong di balkon kamar nya.


Annisa pun tersenyum tipis dengan pertanyaan sang suami. "Tidak mas, hanya saja aku merasa sepi jika kau dan Yasmine tidak di rumah" tutur Annisa


Sejak kehamilan Annisa memang Emran begitu membatasi kegiatan sang istri, bahkan mengantar jemput Yasmine pun juga sudah tidak Emran perbolehkan.


Hal itu tentu membuat Annisa merasa jenuh, dan Emran sadar betul dengan keluhan sang istri.


"Lalu bagaimana ?" tanya Emran balik.


"Entah lah"


"Apa kau ingin bekerja?" tawar Emran yang akhirnya mencoba memahami kondisi psikologis sang istri.


Sebagai seorang laki-laki yang pernah membersamai kehamilan mendiang istri pertama cukup membuat Emran paham tentang kondisi psikologis ibu hamil yang sangat sensitif.


Selain tubuh yang mudah lelah, nyatanya pikiran dan hati seorang ibu hamil juga sangat lah mudah lelah, terbukti dari cepatnya berubah mood ibu hamil.


Namun meski begitu, Tentu hal itu tidak akan baik untuk bayi dalam kandungan dan tentu untuk ibu hamil. Emran yang memang tidak menginginkan terjadi hal buruk sekecil apapun pada Annisa Memilih mengalah dan mencoba berdamai dengan sikap over protektif nya.


Beruntung Annisa memiliki bekal dari sang kakak dan kakak ipar berkaitan tentang kehamilan.


***


Jangan lupa selalu beri dukungan untuk author yaaa..

__ADS_1


Like, komen, Subscribe, dan Vote nya sangat berarti untuk Author. Dan tentunya Author Ucapkan banyak terima kasih Untuk Reader Fillah semuanya tanpa terkecuali.


DOA Terbaik dari Author untuk Reader Fillah semua semoga di mudahkan Dalam segala hal, dan selalu di lancarkan rezeki nya. 🥰🙏


__ADS_2