Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Memohon kembali


__ADS_3

Marshall dan Zee tiba di depan kosan. Keduanya melangkah ke teras kosan dan Zee membuka kunci pintu kamarnya.


"Boleh aku masuk," izin Marshall sebelum melangkah masuk ke dalam kamar kosan Zee.


"Boleh," jawab Zee dan pintunya di biarkan terbuka.


Marshall masuk dan duduk di dekat lemari plastik. Marshall mengedarkan pandangannya menelisik kamar kosannya Zee sembari menyenderkan punggungnya ke tembok. Kamar dengan luas dua kali tiga meter itu, hanya di lengkapi beberapa barang saja.


Zee membuatkan teh buat Marshall dan setelah itu di letakkan di lantai, depan Marshall.


"Ini minumnya," suguh Zee kepada Marshall.


"Iya...." Lalu Marshall meminumnya dan meletakkan lagi gelasnya di lantai.


"Sini, aku obatin," ucap Marshall sembari mengambil obat salep yang tadi di belinya.


"Nggak mau. Aku juga bisa ngobatinnya," tolak Zee.


"Jangan keras kepala, kali ini kamu harus nurut sama aku," pungkas Marshall maksa dan menarik tangan Zee agar duduk di dekatnya. Marshall membuka obat salep dan mengobati luka Zee.


Dengan telaten Marshall mengobati Zee dan saat Marshall tengah serius mengobatinya, Zee begitu intens menatap wajah Marshall yang tampan. Alis yang tebal, hidung mancung dan garis rahang yang tegas.


"Jangan kelamaan menatap ku, nanti yang ada kamu bakal jatuh cinta sama aku," seloroh Marshall melirik Zee sembari mengobati lutut Zee yang memar.


Zee langsung memalingkan wajahnya, sedikit malu karena ketahuan tengah curi pandang.


Marshall tersenyum tipis melihat Zee memalingkan wajahnya. "Sudah selesai," kata Marshall sembari menutup obat salepnya.


"Oh... iya... Terima kasih...." Ucap Zee sedikit kikuk.


"Hmm...."


Kruyuk... Kruyuk... Kruyuk....


Tiba-tiba perut Marshall bunyi, meminta haknya untuk segera di isi makan.


Kenapa perutku harus bunyi sekarang sih... Kenapa nggak nanti saja, sangat memalukan. Gerutu Marshall dalam hati.


"Kamu lapar?" Tanya Zee polos.


"Iya...." Jawab Marshall sembari menggaruk tengkuknya.


"Aku hanya punya mie instan. Apa kamu mau?" tawar Zee.


"Boleh, itu juga kalau nggak ngerepotin kamu," sahut Marshall.


"Nggak kok," ujar Zee, kemudian Zee bangun dan membuatkan mie instan. Zee memasak mie instan bukan menggunakan kompor tapi menggunakan teko listrik.


Mie buatan Zee sudah matang dan sudah di sajikan di depan Marshall. Zee juga menyediakan air putih untuk Marshall.


"Terima kasih ya sudah buatkan aku mie," ucap Marshall tersenyum simpul, sembari mengangkat mangkuk berisi mie.

__ADS_1


"Iya...."


Marshall dan Zee segera memakan mie rebusnya. Manik Marshall melirik Zee yang begitu lahap memakan mienya, kemudian Marshall tersenyum tipis setelah menatap wajah cantik Zee.


"Kenapa kamu ngekos dan nggak tinggal bareng sama orang tua kamu," ucap Marshall, setelah menyelesaikan makannya dan Marshall mulai penasaran dengan kehidupan Zee.


"Karena rumah orang tuaku sangat jauh dari sekolah. Makanya aku memilih ngekos dan sambil kerja," bohong Zee, mana mungkin dirinya mengakui siapa jati diri keluarganya. Selain itu juga kedekatannya dengan Marshall tidaklah sedekat itu. Zee lebih nyaman menyendiri dan tak mau memiliki seorang teman dekat.


Drrtt Drrtt


Handphone Marshall menggelepar nyaring. " Ibu...." Gumam Marshall.


"Halo, Bucan...." Jawab Marshall.


"Abang lagi dimana?" Tanya Hana di sebrang telpon.


"Di rumah teman. Kenapa memangnya?"


"Cepat pulang. Di rumah ada Liora, dia datang ke rumah sembari menangis dan katanya dia nangis gara-gara, Abang."


Marshall menghela nafasnya, mendengar Liora ada di rumahnya.


Dia mau apa lagi sih. Kenapa harus datang ke rumah dan mengadu sama ibu.


"Halo... Abang!" Seru Hana, karena Marshall tidak menyahutinya.


"Iya-iya, Abang pulang."


"Zee, aku pulang dulu ya," pamit Marshall yang langsung bangun dari duduknya, sembari mencangklongkan tasnya di punggungnya.


"Iya, dan terima kasih sudah menolongku," ucap Zee.


"Iya, sama-sama." Setelah itu Marshall pun keluar dari kamar kosan Zee dan segera menaiki motornya. Sebelum pergi, Marshall membunyikan klakson motornya dan setelah itu meninggalkan kosannya Zee.


***


Marshall tiba di rumah dan langsung memasukkan motornya ke garasi. Marshall masuk dari pintu samping dekat dapur, lalu melangkah ke ruang depan dimana Liora berada.


"Abang...." Panggil Hana.


"Iya, Bucan," sahut Marshall dan langsung mencium punggung tangan Hana dengan takzim.


"Abang kedepan dulu nemuin, Liora," ujar Marshall.


"Iya, urus sana. Dia datang ke sini sambil nangis-nangis, dan katanya Abang habis mutusin dia," terang Hana.


"Iya," jawab Marshall.


Marshall mendengus mendengar aduan Liora, setelah itu Marshall kembali melangkahkan kakinya ke depan. Marshall melihat Liora dengan wajahnya yang sembab gara-gara menangis.


"Liora...."

__ADS_1


Liora langsung menegakkan tubuhnya mendengar suara bariton Marshall.


"Shall...." Tubuh Liora langsung bangkit dari duduknya, dan menatap sendu Marshall. Hatinya sakit di putusin sama Marshall.


"Mau ngapain datang kesini?"


"Shall, aku mohon jangan putusin aku. Aku cinta sama kamu." Mohon Liora dengan suara mengiba.


"Maaf, aku tetap dengan keputusanku yaitu mutusin kamu. Asal kamu tahu, dari dulu aku tuh nggak suka sifat kamu yan posesif dan selalu mengekang aku."


"Shall...." rengek Liora.


"Aku tuh sudah capek jalani hubungan ini sama kamu. Jadi aku mohon... Kamu harus menerimanya. Kita tuh sudah nggak cocok lagi," lanjut Marshall bicara dan mengeluarkan unek-uneknya selama ini.


Liora langsung tertunduk lesu, ternyata sudah tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaikinya. Sungguh sedih yang di rasanya, padahal dirinya sangat-sangat mencintai Marshall sepenuh hatinya.


"Shall, aku mohon... Beri aku kesempatan kedua. Aku janji, aku akan mengubah semua sifat aku." Liora kembali memohon dan mengharapkan hubungan yang sudah di jalinnya berbulan-bulan lamanya bisa kembali seperti dulu lagi.


Marshall menghela nafas panjang, ternyata sulit memberi pengertian kepada Liora. Kalau di bilang cinta, jelas dirinya masih cinta sama Liora. Dia, perempuan yang sudah mengisi separuh hari-harinya, tapi balik lagi. Marshall tidak suka dengan sifat arogannya.


"Sudahlah... Lebih baik kamu pulang saja. Kamu tahukan dimana pintu keluarnya," usir Marshall.


"Kamu usir aku."


"Iya...."


Dengan lesu Liora keluar dari rumah dengan perasaan getir dan sakit. Hatinya terasa tersayat-sayat, sakit bukan main. Penolakan Marshall menegaskan bahwa berakhirnya hubungannya dengan Marshall dan tidak ada kesempatan untuk baginya meraih cintanya lagi.


Andai saja, perbuatan tadi tidak terjadi. Mungkin dirinya masih status pacarnya Marshall, tapi percuma waktu tidak bisa di ulang lagi.


Ini semua gara-gara cewek itu, si pelayan murahan. Awas saja nanti, akan aku balas si pelayan murahan itu. Aku nggak terima di putusin sama Marshall gara-gara cewek itu.


"Abang putus sama kak Liora?" Tanya Aisyah, karena tadi Aisyah tidak sengaja mendengar pembicaraannya dengan Liora.


"Iya, Abang mutusin dia."


"Kenapa Abang mutusin kak Liora?" Aisyah kembali bertanya.


"Karena Abang nggak suka dengan sifat arogannya," jawab Marshall.


"Oh...."


"Ya sudah, Abang ke kamar dulu," kata Marshall sembari melangkah naik ke anak tangga.


"Iya...."


🌺🌺🌺🌺


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2