Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Ade sayang Abang


__ADS_3

Lima hari Marshall di rawat dan hari ini Marshall sudah di perbolehkan pulang. Marshall, Hana dan Zee bergegas meninggalkan kamar rawat. Bejo sudah menunggunya di depan pintu keluar.


Bejo segera membukakan pintu mobilnya, saat melihat majikannya datang. "Silahkan, mas Marshall," ucap Bejo mempersilahkan Marshall masuk ke mobil.


"Terima kasih, pak Bejo."


Marshall duduk di depan, sedangkan Hana dan Zee duduk di bangku belakang. Bejo segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Sekitar empat puluh menit, mobil yang di kendarai oleh Bejo memasuki halaman rumah dan memarkirkannya di depan teras. Marshall, Hana dan Zee segera turun dari mobil dan kedatangannya di sambut oleh adik-adiknya yang sudah menantinya.


"Abang...!" Panggil si kembar dan si bungsu Andreo. Mereka senang melihat Marshall sudah sembuh.


Andreo memeluk tubuh Marshall, lalu menatapnya. " Abang , ndong," pinta Andreo.


"Nggak boleh, Ade. Abang kan baru sembuh," ucap Adelia yang melarang Andreo.


Andreo langsung memanyunkan bibirnya. Marshall tersenyum melihat Andreo yang manyun. Lalu Marshall mensejajarkan tubuhnya dengan Andreo. Di usapnya kepala Andreo dengan sayang.


"Nanti ya, kalau Abang benar-benar sembuh."


"Bagaimana kalau kakak Zee yang gendong," tawar Zee.


Andreo menggeleng. " Ndak, Ade kan belat," tolaknya.


"Kalau gitu ayo masuk," timpal Marshall.


Andreo langsung menggandeng tangan Marshall, memasuki rumah. Tiba di dalam rumah, Andreo melepaskan gandengannya dan berlari menghampiri kakak kembarnya bermain.


"Zee, tante simpan barang-barang Marshall dulu di atas."


Iya, Tante."


Marshall mendudukkan dirinya di sofa dan menarik tangan Zee, untuk duduk di sampingnya. Marshall mengedarkan pandangannya dan tersenyum karena merasa aman. Marshall langsung menyosor pipi Zee.


Zee langsung mendelikkan matanya. Bagaimana jika ada yang melihatnya. Marshall kembali mendekati pipi Zee, tapi kali ini Zee menahan wajah Marshall.

__ADS_1


"Shall...." Zee melototi Marshall. "Kebiasaan deh. Bagaimana kalau ada yang lihat."


" Biarkan saja," jawab Marshall sekenanya sembari merangkul pundak Zee.


Andreo datang mendekatinya dan duduk di tengah-tengah Zee dan Marshall.


"Abang, Ade mau ntundukan gambal buatan Ade."


"O ya... Gambar apa?" Tanya Marshall antusias.


"Ayo ikut Ade."


Marshall dan Zee mengikuti Andreo dari belakang dan naik ke lantai dua. Saat akan berbelok ke kamarnya, Marshall dan Zee berpapasan dengan Hana yang akan turun.


"Mau pada ngapain?"


"Ade, katanya mau menunjukkan hasil gambarnya," jawab Marshall.


"Oh...." Setelah itu Hana melanjutkan langkahnya turun ke bawah.


Marshall, Zee dan Andreo tiba di kamar Marshall. Andreo segera mengambil gambar buatannya dan menyerahkannya kepada Marshall.


"Abang suka?" tanyanya dengan mata yang berbinar.


"Suka, malah suka sekali "


"Ade juga ada gambal yang lain na. Ade ambil dulu gambal na," ucapnya seraya berlari keluar dari kamarnya.


Sekarang di dalam kamarnya, hanya berdua saja. Marshall tersenyum menatap wajah Zee, dan langsung menarik tubuh Zee dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh Zee.


"Shall, lepaskan aku. Nanti ada yang lihat bagaimana?" Cemas Zee sembari melihat ke arah pintu, takut kalau ada orang masuk.


"Tidak akan ada yang melihatnya. Zee... Aku kangen kamu." Marshall mendekati wajah Zee dan menyatukan bibirnya dengan bibir Zee.


Ciuman Marshall yang lembut, membuat Zee memejamkan matanya. Zee terlena dengan rayuan bibir Marshall yang menjemaah bibirnya.

__ADS_1


Tidak lama terdengar suara kaki yang berlari mendekati kamarnya. Marshall menyudahi ciumannya dan mengelap bibir Zee yang basah.


"Abang! Ini gambal na," seru Andreo yang masuk membawa buku gambar di tangannya dan menyerahkannya kepada Marshall.


"Bagus," puji Marshall, meski gambarnya tidak jelas Marshall tetap memujinya. "Ade hebat, ih. Masih kecil tapi pandai menggambar."


Andreo tersenyum lebar dan senang mendapat pujian dari Marshall. Andreo memeluk Marshall, lalu mengadahkan kepalanya menatap wajah Marshall.


"Ade sayaaang Abang. Abang jangan sakit lagi. Ade kan jadi sedih kalau Abang sakit."


Marshall tersenyum menatap wajah polos Andreo. "Abang nggak akan sakit lagi."


"Janji...." Kata Andreo seraya mengangkat jari kelingkingnya.


"Janji," jawab Marshall dan menautkan jari kelingkingnya ke jari Andreo. Kemudian Marshall mencium kepala Andreo.


***


Zee pulang diantar oleh Pak Harto. Marshall menemui Aries di ruang kerjanya. Marshall ingin menyampaikan keinginannya kepada Aries dan berharap Aries menyetujuinya.


"Ayah, boleh Abang bicara?"


"Bicara saja. Memangnya mau ngomong apa?"


"Abang... Mau nikah sama Zee."


Aries menghembuskan nafasnya, lalu menatap Marshall.


"Abang boleh nikah sama Zee, tapi Abang harus selesaikan dulu kuliahnya. Nikah itu bukan soal tentang cinta saja, tapi tentang semuanya. Abang harus sabar, jika sudah saatnya ayah akan memperbolehkan Abang nikahi Zee."


"Nggak ada negosiasi."


"Nggak! Pokoknya Abang selesaikan dulu kuliahnya baru nikah." Tegas Aries menolak keinginan Marshall.


"Baiklah...." Jawabnya lesu

__ADS_1


Jadi dirinya harus bersabar untuk meminang sang pujaan hati. Meski Marshall ingin sekali secepatnya menikahi Zee.


Baiklah, mulai sekarang Marshall harus bersemangat menyelesaikan kuliahnya. Toh, kuliahnya tinggal dua setengah tahun lagi dan saat itu Marshall akan langsung melamarnya.


__ADS_2