Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Ngedate bertiga


__ADS_3

Tepat pukul tujuh malam, Marshall sudah berada di rumah Zee. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya pintunya terbuka dan yang membukakan pintunya adalah Mami Janet.


Mami Janet mengernyitkan dahinya saat melihat Marshall berdiri di hadapannya dan Mami Janet tengah mengingat siapa pemuda yang bertandang ke rumahnya.


"Malam Tante...." Sapa Marshall sopan seraya menganggukkan kepalanya.


"Malam juga. Tunggu. Sepertinya Tante pernah ketemu sama kamu, tapi dimana ya?" Mami Janet mengingat-ngingat dimana dirinya bertemu dengan pemuda itu.


"Siapa, Bu?" Tanya Zee yang baru keluar dari kamarnya. Mami Janet semakin heran melihat anaknya berpakaian rapi dan wangi.


"Kamu mau kemana malam-malam begini?" Mami Janet kembali bertanya.


"Mau pergi," jawab Zee sembari melangkah menghampiri ibunya.


"Hai...." Sapa Marshall ketika dirinya melihat Zee mendekati ibunya.


Zee hanya tersenyum menanggapi sapaan Marshall, tapi disini Mami Janet masih belum mengingat Marshall.


"Kamu kenal dia Zee?" Seraya menunjuk ke arah Marshall.


"Kenalah, Bu!"


"Tapi... Rasa-rasanya ibu pernah bertemu dengannya, tapi ibu lupa dimana ibu bertemu dengan anak ini," ucap Mami Janet.


"Ibu nggak ingat siapa Marshall?" Mami Janet menggelengkan kepalanya, mungkin karena faktor usia. Mami Janet sudah lupa kalau pernah bertemu dengan Marshall.


"Dia Marshall. Mantannya Zee, Bu," terang Zee.


"Eh'em...!" Marshall berdehem dan mendelikkan matanya ke arah Zee. Mantan Zee bilang? Marshall tidak suka kata-kata mantan.


"Oh... Ibu baru ingat. Rupanya dia mantan kamu? Siapa namanya? Ibu lupa."


"Marshall, Bu!" Jawab Zee lagi.


"Iya-iya, ibu sudah ingat. Tapi kok dia tahu kamu tinggal disini?" Mami Janet kembali melontarkan pertanyaan lagi.


"Kebetulan saya lagi liburan dan menginap di villa yang tidak jauh dari ujung jalan sana, Tan," jawab Marshall.


"Oh... Villa yang besar itu?"


"Iya, Tante...."


Mami Janet mangut-mangut dan setelah itu Mami Janet menyuruh Marshall masuk ke dalam rumah dan pada saat itu Haris keluar dari arah dapur sembari membawa secangkir kopi hitam.


"Ada tamu rupanya?" Seloroh Haris yang malam itu hanya mengenakan singlet dan bawahannya sarung kotak-kotak.


" Iya, nih mas," jawab Mami Janet. Setelah itu Mami Janet melangkah ke dapur untuk membuatkan minuman.


Haris ikut bergabung dengan Marshall dan Zee. Sambil menyeruput kopinya, Haris melirik Marshall dan Zee karena keduanya duduknya saling dempetan.

__ADS_1


"Eh'em... Zee, duduknya pindah ke sebelah ayah," suruh Haris. Haris sebagai orang tua, harus tetap menjaga putrinya dari cowok-cowok yang hanya ingin mempermainkan perasaan putrinya itu.


"Iya, yah." Dengan terpaksa Zee pindah duduknya ke samping ayahnya.


Marshall hanya merengut kecewa, karena Zee duduknya harus pindah. Mau protes juga nggak bisa. Marshall memberi kode lewat gerakan mata, agar dirinya dan Zee bisa segera jalan berdua.


"Yah, aku dan Marshall mau jalan-jalan," ucap Zee.


"Kemana?"


"Mau nonton."


"Nonton?"


"Iya...."


"Boleh ya, ayah," mohonnya.


"Boleh, tapi ayah harus ikut."


"Apa?" Marshall terkejut mendengar perkataan ayahnya Zee.


"Kenapa? Kamu nggak suka!" Ucap Haris kepada Marshall.


"Nggak kok, Om," balas Marshall yang langsung tertunduk lesu.


"Kapan berangkatnya?"


"Berangkat kemana?" Kali ini Mami Janet yang melontarkan pertanyaan. Mami Janet meletakkan secangkir teh hangat untuk Marshall.


"Nonton bioskop katanya," jawab ayah Haris.


"Kalian berdua mau nonton?" Kata Mami Janet.


"Iya, Tante."


"Mumpung belum terlalu malam, kalian berangkatnya sekarang saja tapi ingat pulangnya jangan malam-malam," ucap Mami Janet.


"Kalian berdua tunggu disini," tukas ayah Haris yang langsung bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke kamarnya.


Sekitar beberapa menit, ayah Haris sudah rapi siap untuk ngintilin anaknya. Mami Janet menautkan kedua alisnya melihat suaminya berpakaian rapi.


"Mas, mau kemana?" Tanya Mami Janet yang heran melihat suaminya itu.


"Mau nemenin anak kita ngedate," jawab ayah Haris santai.


"Ha...! Nggak salah!" Mami Janet terkejut mendengar jawaban suaminya itu, yang mengatakan nemenin anaknya ngedate.


"Kenapa kamu terkejut begitu?" Ucapa Haris yang heran melihat ekspresi wajah istrinya itu.

__ADS_1


"Mas! Ngapain nemenin Zee dan Marshall ngedate! Biarkan mereka nonton berdua."


"Nggak bisa gitu dong Yang. Aku sebagai ayah yang baik, harus nemenin Zee jalan sama cowok. Aku tuh nggak mau kalau nantinya Zee mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari dia," ucapnya seraya menunjuk ke arah Marshall.


Disini hati Marshall semakin tak karuan, niat hati mau pacaran. Eh... Ayahnya Zee harus ikut ngedate.


"Ayo, kita langsung berangkat sekarang." Ayah Haris lebih dulu melangkah keluar.


"Tante, kami berangkat dulu," pamit Marshall.


"Iya, maaf ya atas kelakuan ayahnya Zee dan mudah-mudahan suami Tante tidak menggangu kamu dan Zee."


"Iya, Tante. Mudah-mudahan," balas Marshall.


Zee dan Marshall menyusul langkah ayah Haris dan ayah Haris sudah duduk di atas motornya. Untung saja Marshall datang ke rumah Zee meminjam motor penjaga villa, kalau tidak mungkin nggak jadi ngedate nya.


Marshall sudah naik ke motornya dan Zee naik ke boncengan motor Marshall, tapi sebuah suara menggagalkan keinginan Marshall untuk memboncengi Zee.


"Zee! Naik ke motor ayah. Biar ayah yang boncengin kamu," titah sang ayah.


"Zee.... " Rengek Marshall.


"Maaf...."


Lagi-lagi Zee berpindah dan duduk di atas motor yang di kendarai oleh ayahnya sendiri.


Boleh nggak sih Marshall melempar batu ke kepala ayahnya Zee dan kenapa ayahnya Zee harus jadi pengganggu. Begitulah isi di dalam otaknya Marshall, saking kesalnya karena ayahnya Zee jadi benalu di acara ngedate nya bersama Zee.


Ayah Haris lebih dulu melajukan motornya dan di ikuti Marshall di belakangnya.


Sekitar dua puluh menitan, dua iring-iringan motor itu tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka bertiga berjalan berdampingan memasuki mal tersebut.


Ayah Haris sengaja berada di tengah antara Zee dan Marshall. Membuat Marshall semakin merengut kesal. Padahal dirinya ingin merangkul atau menggenggam tangan Zee, tapi ini apa. Boro-boro merangkul dan menggenggam, justru ayahnya Zee benar-benar jadi penghalang antara dirinya dan Zee.


Marshall menoel pinggang Zee dan Zee melirik Marshall.


"Apa," ucap Zee tanpa suara.


"Pindah sini," pinta Marshall tanpa suara juga. Zee mengangguk dan berpindah ke samping Marshall.


Marshall tersenyum senang, karena dirinya bisa menggenggam tangan Zee. Baru saja menggenggam, ayah Haris langsung berdehem keras.


Marshall langsung melepaskan genggaman tangannya dan mencebik kesal.


Tiba di tempat bioskop, Marshall memilih film bergenre horor. Jika Zee merasa ketakutan saat setannya muncul dirinya bisa memeluk Zee atau saat suasananya gelap dirinya bisa mencium Zee.


Tapi itu hanya hayalannya saja, sebab ayah Haris sudah lebih dulu memesan tiket bergenre komedi. Pupus sudah hayalannya.


Dasar calon mertua tidak punya perasaan.

__ADS_1


__ADS_2