Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Melamarmu


__ADS_3

Waktupun terus berputar dan berganti musim. Seperti janjinya kepada dirinya sendiri, Marshall akan melamar Zee jika dirinya sudah lulus kuliah dan hari ini adalah hari kelulusan Zee. Sedangkan Marshall sudah lulus lebih dulu.


Zee datang ke kampusnya di temani oleh kedua orang tuanya. Zee berkali-kali menoleh ke arah pintu aula, berharap Marshall segera datang. Zee mendengus saat melihat jam di tangannya, karena sebentar lagi acara wisuda-nya akan segera dimulai. Akan tetapi sampai detik ini Marshall belum datang juga.


Suara pengumuman dari arah panggung, membuat Zee segera ke tempat duduk. Selama acara wisuda berlangsung sampai selesai, Marshall tidak menampakkan batang hidungnya.


"Selamat ya sayang... Akhirnya lulus kuliah juga," ucap Mami Janet sembari memeluk Zee. Begitupun juga dengan ayah Haris memberi ucapan selamat kepada Zee.


"Kenapa anak ayah cemberut?" Tukas ayah Haris sembari merangkul pundak Zee.


"Aku kesel! Marshall nggak datang ke acara wisuda ku, padahal dia sudah janji akan datang, tapi sampai acaranya selesai Marshall nggak datang-datang," kesal Zee.


"Mungkin Marshall terjebak macet. Sudah jangan cemberut lagi, nanti juga Marshall datang menemuimu," sambung ayah Haris, sembari mengajak Zee dan Mami Janet pergi.


Zee tetap memasang wajah masam. Dirinya kesal karena Marshall tidak menepati janjinya, padahal semalam Marshall janji akan datang.


Zee mengambil handphonenya di tas dan mengecek handphonenya. Lagi-lagi Zee harus menelan kecewa, Marshall bahkan tidak memberinya kabar sama sekali.


Dengan wajah ditekuk, Zee mematikan handphonenya. Tidak peduli kalau nanti Marshall menelponnya.


Tiba di parkiran dan masuk kedalam mobil. Ayah Haris melirik Zee lawat kaca spion.


"Ayah akan ajak kamu makan di sebuah restoran mewah. Kamu pasti bakal suka."


"Iya," jawab Zee malas.


Ayah Haris segera melajukan mobilnya keluar dari area kampus dan membelah jalanan yang hari ini sangat padat. Sekitar hampir satu jam, akhirnya ayah Haris, Mami Janet dan Zee sampai juga di restoran yang di tuju. Zee terlebih dahulu membuka toga-nya dan melipatnya.

__ADS_1


Ayah Haris dan Mami Janet turun dari mobil di ikuti juga oleh Zee. Meskipun hari ini adalah hari bahagianya, Zee tetap memasang wajah masam.


"Zee masih manyun," bisik Mami Janet.


Ayah Haris hanya tersenyum menanggapi bisikan istrinya itu. Mereka berdua bergandengan memasuki restoran tersebut, dengan Zee lebih dulu melangkah masuk.


"Kok sepi, yah?" Tanya Zee, yang heran melihat keadaan restoran.


"Mana ayah tahu," jawab ayah Haris.


"Kita pindah saja deh. Masa iya kita makan cuma bertiga,' pungkas Zee, tapi ayah Haris malah mengajaknya duduk.


"Permisi, apa benar ini dengan bapak Haris?" Tanya sang manager restoran.


"Iya, betul. "


"Kalau gitu, silahkan ke tempat yang sudah di persiapkan," sambung manager restoran itu dan ayah Haris mengangguk.


"Memang ayah booking restoran ini?" Tanya Zee, sembari mengikuti langkah manager restoran.


"Bukan ayah."


"Kalau bukan ayah, terus siapa?" Kali ini Zee penasaran.


"Ada, seseorang," jawab ayah Haris sekenanya.


Zee mencebikan bibirnya mendengar jawaban ayahnya. Mereka berhenti di depan pintu yang di tutupi tirai. Mami Janet menarik Zee untuk berdiri di tengah antara Mami Janet dan ayah Haris.

__ADS_1


Pintu pun di buka dari luar. Zee terbelalak melihat seseorang yang tengah berdiri di atas panggung dengan baju batik yang sama persis dengan yang rok yang dikenakannya.


Marshall tersenyum melihat Zee yang berdiri jauh di ambang pintu. Hatinya berdegup kencang merasakan gugup dan juga bahagia. Zee melihat di sekitarnya dan disana ternyata ada nenek Cahyani, Jefry dan keluarganya yang dari kampung. Zee juga melihat keluarga besarnya Marshall yang kini tengah berdiri menyambutnya datang.


Ini benar-benar surprise dan Zee tak menyangka kalau Marshall mempersiapkan pesta untuknya.


"Ayo, Zee kita jalan," titah Mami Janet.


Zee berjalan dibimbing oleh kedua orang tuanya. Hati Zee membuncah mendapatkan kejutan dari Marshall. Zee tak henti-hentinya menatap wajah pujaan hatinya dan senyum yang terus tersungging di bibirnya.


Marshall segera mengulurkan tangannya, saat Zee sudah berdiri di depan panggung. Sedangkan ayah Haris dan Mami Janet bergabung duduk dengan Bu Cahyani.


"Selamat siang untuk semua para tamu yang hadir disini. Terutama kedua orang tuaku dan keluarga besarku. Terima kasih juga kepada Om, Tante dan keluarganya." Marshall menjeda kalimatnya dan menghela nafasnya, membuang rasa gugupnya.


"Sebelum ke inti acara. Aku mau mengucapkan selamat untuk wanitaku yang hari ini telah lulus kuliah. Semoga impian dan cita-citanya tercapai."


"Amien...." Seru semua orang.


Zee tersenyum haru. Jika tidak ada orang di tempat ini, Zee pasti akan langsung memeluknya. Marshall menatap Zee dengan mesra. Aisyah datang dan memberikan kotak beludru kepada Marshall.


"Om, Tante... Terima kasih sudah mengizinkan aku untuk terus bersama dengan Zee dan di hari ini izinkan aku untuk melamar anak Om dan Tante."


Ayah Haris mengangguk, mengizinkan Marshall melamar putri tercintanya.


Zee terbengong mendengar penuturan Marshall yang meminta izin untuk melamarnya. Zee pikir ini adalah acara pesta untuk kelulusannya, tapi ternyata salah. Marshall kemudian menarik tangan Zee dan berlutut di hadapan Zee.


"Zee... Wanitaku yang paling cantik. Terima kasih sudah mau terus bersamaku dan menemani hari-hariku.. Di hari ini aku sudah meminta izin kepada kedua orang tuamu untuk melamar mu."

__ADS_1


"Zee... Dihadapan semua keluarga besar kita. Aku ingin mengatakan. Apa kamu mau menikah denganku?"


Dengan mata berkaca-kaca, Zee menganggukkan kepalanya." Iya, aku mau."


__ADS_2