
Akhirnya, acar resepsi pernikahan Marshall dan Zee selesai. Di tempat resepsi masih ada beberapa kolega ayah Haris dan Aries, seperti Darren, Aditya dan yang lainnya. Marshall dan Zee, duduk bergabung dengan keluarga besar.
Aisyah meninggalkan semua yang tengah duduk di sana dan memilih mengambil minuman yang dingin. Aisyah tersenyum melihat adiknya tengah berlari berkejaran dengan Rendi Athaya Alviansyah, anak dari Darren Alviansyah.
"Hati-hati, de," ucap Aisyah, memperingati Andreo yang tertawa lepas karena terus dikejar oleh Rendi.
Akan tetapi peringatan Aisyah tidak diindahkan oleh adiknya. Aisyah menggelengkan kepalanya, karena adiknya tidak mendengarkannya.
Aisyah mengambil air minum dan membawanya ke tempat semula, dimana dirinya duduk bersama keluarganya. Rendi yang terus mengejar andreo menabrak tubuh Aisyah yang tengah berjalan.
Aisyah terhuyung dan jatuh ke lantai.
"Aw...." Pekik Aisyah.
Rendi hanya meliriknya saja, setelah itu kembali mengejar Andreo.
Byan yang melihat Aisyah terjatuh, buru-buru menolongnya dan membantu Aisyah bangun.
"Aw...! Sakit," ringis Aisyah, yang ternyata kakinya keseleo.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu kursinya," ucap Byan, yang segera mengambil kursi.
"Duduklah," titah Byan.
Aisyah pun duduk dan Byan berlutut membuka high heels-nya Aisyah.
"Eh, Kak Byan mau ngapain?" Cegah Aisyah, melihat Byan memegangi kakinya.
"Mau ngurut kaki kamu yang keseleo."
"Nggak usah, nanti saja sama ibu," tolak Aisyah, yang merasa tak nyaman.
"Nanti kakinya malah semakin sakit." Byan tidak memperdulikan penolakan Aisyah, justru Byan tetap memijit kaki Aisyah yang keseleo.
__ADS_1
"Tahan ya kalau sakit. Mm... Kalau nggak gigit pundaknya aku," ucap Byan, yang kini sedikit membelakangi Aisyah. Bila nanti Aisyah menjerit sakit, Aisyah tinggal gigit bahunya untuk merendam jeritannya.
Aisyah mengangguk mengerti dan Byan pelan-pelan memijit kaki Aisyah.
Aisyah meringis dan segera menggigit bahu Byan, saat kakinya terasa sangat sakit saat di pijit. Byan memejamkan matanya, ketika Aisyah menggigit bahunya.
"Coba digerakkan," pinta Byan.
Aisyah menggerakkan kakinya dan Aisyah tersenyum.
"Apa masih sakit?" Tanya Byan.
"Sudah tidak terlalu. Terima kasih ya, kak Byan."
Byan mengangguk. Aisyah bangun, tapi Aisyah lupa kalau high heels-nya dilepas satu. Membuat Aisyah hampir terjatuh lagi. Dengan cepat, Byan menangkap tubuh Aisyah.
Di posisi sedekat ini membuat jantung Byan berdebar-debar, apalagi melihat wajah Aisyah yang memang sangat cantik.
"Terima kasih kak, sudah menolongku lagi," seloroh Aisyah, membuyarkan pandangan Byan terhadapnya.
"Aku pergi dulu, kak."
Byan mengangguk dan terus menatap punggung Aisyah yang melangkah menuju keluarganya.
"E'hem... Hentikan tatapan matamu itu," kata Marshall, yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Apaan sih...."
"Awas saja kalau kamu deketin Ais. Akan aku pelintir leher kamu," lanjut Marshall lagi.
"Hmm...."
"By, pulang yuk. Udah malam nih. Marshall juga pasti mau bersenang-senang dengan Zee," ucap Sigit.
__ADS_1
"Shall, kami pulang dulu dan selamat bersenang-senang. Semoga sukses membelah duren pulennya," celetuk Dhika.
Marshall pun mengangguk tertawa kecil menanggapi ucapan Dhika. Byan, Dhika, Sigit dan Jojo pergi dari sana, sebelum benar-benar pergi. Byan sekali lagi melihat Aisyah dan Byan memegangi dadanya yang merasakan debaran jantungnya.
***
Marshall segera meninggalkan tempat resepsi, dan membawa Zee ke kamar pengantinnya. Dengan langkah tergesa-gesa, Marshall segera menarik tangan Zee untuk segera masuk ke dalam kamar dan tidak lupa mengunci pintunya.
Marshall langsung memangut bibir Zee, yang sejak tadi ingin di pangutnya. Zee menahan wajah Marshall, dan menghentikan ciuman Marshall yang menggebu-gebu.
"Nanti, aku mau membersihkan diri dulu," ucap Zee.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama," pinta Marshall dan Zee mengangguk.
Zee segera ke kamar mandi dan membersihkan diri, setelah itu mempersiapkan diri untuk di rayu oleh Marshall. Zee membuka kado pemberian dari Aisyah dan betapa tercengangnya Zee, saat melihat isi kadonya. Ternyata Aisyah memberikan kado berupa lingerie berwarna merah dan sangat transparan.
Zee menelan Salivanya, saat mengangkat lingerie itu. Zee jadi ragu untuk memakainya.
"Pakai nggak ya...." Bimbang Zee, tapi mengingat malam ini malam pertama untuknya dan Marshall, membuat Zee memberanikan diri memakainya.
Marshall menunggu Zee dan terus melirik ke arah pintu kamar mandi. Marshall sudah mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek.
Sebenarnya jantungnya berdegup kencang dan juga gugup, untuk melakukan hal yang menyenangkan bersama Zee. Akan tetapi malam ini Marshall tidak mungkin mundur, dia harus tetap maju merayu tubuh sang istri.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Marshall menoleh dan menelan Salivanya, melihat Zee yang mengenakan pakaian seksi dan sangat transparan. Terlihat jelas di matanya lekuk tubuh Zee, apalagi melihat sesuatu yang menyembul dari balik bra yang dikenakan Zee.
Zee menggigit bibir bawahnya dan melangkah mendekati Marshall. Begitupun juga dengan Marshall yang melangkah mendekati Zee.
Zee menundukkan pandangannya, tak berani menatap kedua bola mata Marshall. Lalu Marshall memegangi dagu Zee dan mendongakkan wajahnya Zee untuk di tatap.
"Apa kamu sudah siap?" Ucap Marshall, yang tak mau lepas menatap bola mata Zee.
__ADS_1
Zee menganggukkan kepalanya, dengan degupan jantung yang semakin kencang. Zee menutup matanya dan membuka sedikit mulutnya. Siap menerima ciuman sayang dari Marshall, suami tercintanya.