
Marshall terus saja menggedor-gedor pintunya. Membuat Zee menjadi geram, karena Marshall terus mengetuk pintu.
"Aargh...." Teriak Zee kesal. Dengan terpaksa Zee bangun dari atas kasur dan tertatih jalan untuk membuka pintunya.
"Kok lama sih! Emang kamu lagi ngapain?" Cecar Marshall, sedikit kesal, lantaran Zee lama membukakan pintunya.
"Tidur," jawab Zee asal.
Kedua mata Marshall menyimpit, melihat luka di tangan Zee yang kini sudah di perban dan melupakan soal Ghifari yang datang kesini.
"Ini kenapa?" Tanya Marshall seraya menunjuk ke luka di tangan Zee.
"Keserempet mobil," terang Zee yang kembali duduk di atas kasur. Marshall ikut masuk ke dalam dan duduk menyender ke tembok dekat Zee.
"Kamu sih ngeyel. Tadikan aku sudah mau nganterin kamu kerja," cetus Marshall.
"Ini pasti sakit banget," sambung Marshall yang kini menarik pergelangan tangan Zee, lalu meniup luka Zee.
Zee menatap Marshall lekat, tiba-tiba jantungnya terasa nyes. Marshall melirik Zee yang tengah memandanginya.
"Awas, nanti jatuh cinta," cetus Marshall.
Zee yang tertangkap basah memandangi wajah Marshall, langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Pipinya sedikit memerah, karena malu.
"Cie... Pipinya sampai merah gitu," Marshall kembali meledeknya.
"Apaan sih," sungut Zee setengah salah tingkah.
Marshall mengulum senyumnya, melihat Zee terlihat salah tingkah. Marshall terus-menerus menatap Zee, baginya terlihat menggemaskan melihat wajah Zee memerah.
"Nggak usah lihatin aku sampai kayak gitu!" Sungut Zee seraya mengusap sebal wajah Marshall.
Marshall malah tertawa kecil. Gemas rasanya meledek dan melihat wajah Zee.
"Ih... Malah ketawa lagi."
Zee semakin kesal, lalu Zee bergeser mendekati Marshall hanya untuk memukul Marshall.
Marshall semakin renyah tertawanya. Zee semakin kesal melihat Marshall terus tertawa.
"Aduh... Ampun," kalah Marshall, karena Zee terus-menerus memukulnya.
"Zee! Sudah...." Seru Marshall lagi, tapi Zee tetap memukul Marshall.
Marshall yang berusaha menghentikan pukulan Zee dan Marshall malah menarik Zee hingga terjatuh tubuh Zee ke tubuhnya. Zee dan Marshall saling pandang, kedua wajah mereka begitu sangat dekat. Debaran jantung keduanya semakin meningkat kuat.
Pelan-pelan Marshall semakin mendekat ke wajah Zee dan semakin dekat dengan bibir Zee. Sedangkan Zee menahan nafasnya saat Marshall mendekatkan wajahnya. Saat hampir satu centi lagi bibir Marshall mendarat di bibir Zee, tiba-tiba suara dering handphone Marshall menggelepar nyaring.
Sial... Keluh Marshall dalam hati. Ingin rasanya Marshall memaki yang menelponnya yang tak tahu situasi.
Cepat-cepat Zee menarik diri dari tubuh Marshall. Zee kembali duduk di kasur dengan sejuta rasa gugup dan degup jantung yang terus berdebar kencang.
__ADS_1
Marshall segera mengangkat telponnya, yang ternyata dari Hana.
"Halo, Bucan...." Jawab Marshall.
"Kamu dimana?" Tanya Hana, dan terdengar dari sebrang telpon kalau Adelio tengah menangis dan memanggil namanya.
"Di rumah teman, Bu."
"Cepat pulang! Adik kamu nangis dan ingin main sama Abang," ucap Hana.
"Iya-iya, Abang pulang."
"Awas! Jangan mampir-mampir lagi," peringatan keras Hana.
"Iya, Bucan!!" Gemas Marshall berucap.
Sambungan telepon pun terputus, lalu Marshall mengambil tasnya yang tergeletak di lantai.
"Aku pulang dan besok aku jemput kamu."
Zee hanya mengangguk saja. Percuma menolak pun, pasti Marshall tetap memaksa dirinya berangkat ke sekolah bersama.
***
Keesokan harinya, Marshall bangun pagi-pagi sekali. Tepat pukul enam pagi, Marshall sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Marshall turun dan langsung melangkah ke garasi mobil. Hana yang baru selesai membuat sarapan, menyipitkan matanya melihat Marshall memanaskan mobil.
"Bang, berangkat sekolah mau pakai mobil?" Tanya Hana.
"Tumben ...!"
"Lagi pengen bawa mobil aja, Bu," sambung Marshall lagi.
Selesai memanaskan mobil, Marshall kembali masuk untuk berpamitan kepada Hana.
"Bucan, Abang berangkat sekolah dulu," pamit Marshall seraya mencium punggung tangan Hana penuh takzim.
"Nggak sarapan dulu, Bang."
"Nggak, Bu. Nanti saja di sekolah," jawab Marshall seraya mencangklongkan tasnya ke bahu kanannya.
Marshall bergegas pergi menuju garasi mobil. Aisyah yang baru tiba di meja makan, mencari keberadaan Marshall. Sebab Aisyah sudah mencari Marshall ke kamarnya.
"Ibu, Abang mana?" Tanya Aisyah yang langsung duduk.
"Baru saja Abang ke garasi," jawab Hana.
"Kalau gitu, Ais berangkat dulu," pamit Aisyah buru-buru, dan tidak lupa mencium pipi Hana dengan gerakan cepat.
Hana menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya yang berlari kecil menuju Marshall. Hana terkejut dengan kecupan mesra yang mendarat di pipinya, dan siapa lagi pelakunya kalau bukan Aries, suami tercintanya.
"Kenapa, Ais tergesa-gesa?"
__ADS_1
"Nyusul, Abang. Berangkat sekolah bareng," balas Hana yang langsung menyiapkan sarapan untuk sang suami.
***
"Abang...! Tunggu, Ais ikut," ujar Aisyah sedikit berteriak, karena Marshall sudah akan menjalankan mobilnya. Kemudian Aisyah langsung masuk ke dalam mobil.
"Ngapain, Ais ikut bareng Abang," cakap Marshall merasa tidak suka Aisyah berangkat bersama.
"Memangnya kenapa, nggak boleh?" Aisyah mencebikan bibirnya sembari memasang wajah sedih.
Marshall mendengus kesal menatap wajah cantik adiknya itu. " Ya sudah deh!" Kesal Marshall dan terpaksa membiarkan Aisyah berangkat bersama dirinya.
Aisyah langsung menyunggingkan bibirnya, dan menatap Marshall dengan senang. Marshall hanya bisa menggerutu di dalam hatinya.
Marshall langsung saja menjalankan mobilnya keluar dari garasi dan melaju ke jalan raya dengan kecepatan sedang.
"Kenapa lewat jalan sini, Bang? Inikan bukan jalan ke sekolah?" Tanya Aisyah bingung, karena jalan yang di lewati bukan jalan yang bias?anya di lewati ke sekolah.
"Memang bukan, Abang kan mau jemput teman cewek Abang," terang Marshall yang begitu fokus menyetir.
"Oh... Pacar Abang," ucap Aisyah sembari manggut-manggut.
Marshall menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang tidak jauh dari mulut gang kosannya Zee.
"Ais, tunggu disini saja. Abang jemput teman Abang dulu," titah Marshall sembari melepaskan seat belt nya.
Aisyah pun mengangguk dan Marshall keluar dari mobil. Marshall sudah berdiri di depan pintu kamar kosannya Zee. Pintu kamarnya sedikit terbuka, Marshall membuka sedikit pintu kamarnya dan memperpanjang lehernya melihat Zee di dalam.
"Sudah datang rupanya," cetus Zee yang ternyata sudah siap.
Marshall tersenyum, lalu menuntun Zee keluar kamarnya. Kaki Zee masih terasa sakit jika di bawa jalan, maka dari itu Marshall menghela tubuh Zee sampai depan mobilnya.
Marshall membuka pintu depan mobilnya. " Ais, duduknya pindah ke belakang," suruh Marshall.
Tanpa membantah, Aisyah pindah ke belakang dan Zee duduk di samping Marshall. Aisyah berdecak sebal melihat Marshall memperlakukan Zee dengan manis.
"Sama pacar manis banget sikap Abang. Beda kalau sama Ais," gerutu Aisyah. Marshall hanya melirik tanpa menyahutinya, sedangkan Zee merasa tak enak hati kepada Aisyah.
Marshall melajukan kembali mobilnya menuju ke sekolah. Tiba di sekolah Marshall segera turun dari mobil dan saat akan melangkah untuk membuka pintu mobil. Marshall tidak sengaja menangkap percakapan Liora dan kedua temannya itu.
"Aku kemarin berhasil menabrak si Zee sialan itu," kata Liora.
"Oh ya? Terus si Zee nya gimana keadaannya?" Tanya Enzi.
"Nggak tahu, soalnya aku langsung kabur," jawab Liora lagi.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Jangan lupa tinggalkan jejak like π
To be continued....
__ADS_1