Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Kejadian waktu itu


__ADS_3

Setelah mengunci kedua orang tuanya di kamar. Zee melenggang pergi mendekati Jefry yang tengah duduk di teras rumah, sembari mengerjakan pekerjaannya.


Jefry mengernyitkan dahinya melihat Zee senyum-senyum sendiri. Jefry menutup laptopnya yang berada di pangkuannya dan meletakkan laptopnya di meja kecil tepat di samping kursi yang di dudukinya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? kaya orang gila." Tanya Jefry yang heran melihat Zee senyum sendiri.


Zee duduk di kursi yang satunya lagi, masih dengan senyumannya yang mengembang.


"Aku mengurung ayah dan ibu di kamar," cetus Zee melirik Jefry.


"Serius? Kok bisa?"


"Bisalah, kan pakai ini." Tunjuk Zee ke kepalanya.


"Pinter kamu, tapi kalau Mba Janet marah gimana?"


"Biarin aja. Yang penting ibu sama ayah harus menyelesaikan masalahnya. Aku nggak mau melihat ibu terus memasang wajah jutek dan marah kepada ayah. Mudah-mudahan, ayah dan ibu secepatnya baikan." Harapan Zee.


"Amien... Mudah-mudahan saja," timpal Jefry.


*


*


Haris yang akan keluar dari kamar Mami Janet, mengernyitkan dahinya karena tidak bisa membuka pintunya.


"Kenapa pintunya tidak bisa di buka," gumam Haris bingung dan terus menekan handle pintunya.


"Kenapa masih berdiri di situ!" Ketus Mami Janet dan menatapnya sinis.


"Pintunya tidak bisa di buka."


"Kamu jangan ngada-ngada deh!" sergah Mami Janet yang mendelikkan matanya.


"Aku nggak ngada-ngada. Ini pintunya memang terkunci, kalau nggak terkunci aku pasti sudah keluar dari tadi," timpal Haris meyakinkan Mami Janet.


"Awas kalau bohong!"


Mami Janet yang tidak percaya dengan perkataan Haris, langsung melangkahkan kakinya dan menyingkirkan tubuh Haris yang berdiri di depan pintu.


"Minggir!"


Mami Janet menekan handle pintunya dan memang terkunci. Mami Janet menggeram kesal dengan kelakuan anaknya itu dan pastinya anaknya itu sengaja mengunci pintunya dari luar.


"Zee...!!" Mami Janet menggeram memanggil anaknya.


Zee? apa jangan-jangan ini ulah zee....

__ADS_1


Haris tersenyum tipis. Haris baru menyadarinya kalau Zee sengaja menguncinya dan pastinya dirinya punya kesempatan untuk berduaan dengan istri tercintanya itu.


Terima kasih anakku. Ayah suka di kurung berdua sama ibumu.


"Zee!! Buka pintunya!!" Mami Janet terus berteriak dan menggedor-gedor pintunya.


Haris melangkah ke arah ranjang dan duduk menyederkan punggungnya di kepala ranjang.


"Percuma teriak-teriak juga. Zee nggak akan membuka pintunya," cetus Haris yang melipat kedua tangannya di dadanya.


Mami Janet mendengus dan menatap tajam wajah Haris.


"Kamu pasti menyuruh Zee kan! Agar kamu bisa berduaan sama aku!" Tuding Mami Janet.


"Nggaklah. Itu semua rencana Zee dan aku nggak tahu menahu soal ini. Sudahlah... Sini duduk," ajak Haris dan menepuk kasur di sebelahnya.


"Nggak! Aku nggak sudi duduk di sebelah kamu!" Ketus Mami Janet dan tetap berdiri di tempatnya.


"Ya sudah... Terserah kamu sayang." Haris mengulum senyumnya melihat Mami Janet terlihat kesal dan dirinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


Keduanya saling diam. Mami Janet tetap berdiri di tempatnya, sedangkan Haris tengah berpikir dari mana dirinya memulai pembicaraan yang selama ini ingin dirinya sampaikan.


"Janet...."


Mami Janet hanya melirik saja, tanpa menyahuti panggilannya.


"Asal kamu tahu. Saat aku sampai di rumah orang tuaku, ternyata di sana ada Sheena. Dia wanita yang ingin di jodohkan oleh Mama dan saat mama mengungkapkan keinginannya untuk memintaku menikahi Sheena, aku langsung menolaknya. Tapi... Ternyata mama dan Sheena sudah merencanakan sesuatu untuk menjebak aku, agar aku mau menikahinya. Sheena pura-pura sakit dan mama meminta aku untuk mengantarkan dia pulang. Awalnya aku menolaknya, tapi mama memaksa aku dan mengancam aku kalau aku nggak boleh menemui papa lagi. Kamu tahu sendiri, kala itu papa tengah sakit." Haris menjeda kalimatnya sesaat dan menatap wajah Mami Janet yang tetap diam.


Haris melanjutkan ceritanya, dimana dirinya di jebak.


Flashback.


Tiba di rumah Sheena. Sheena yang kala itu tengah pura-pura sakit, meminta Haris mengantarkan dirinya ke kamarnya.


"Terima kasih ya sudah mengantarkan aku sampai kamar," ucap Sheena.


"Hmm... Aku pulang dulu."


"Nanti...!" Sheena langsung menahan tangan Haris dan menatapnya dengan tatapan memohon.


"Kepalaku masih sakit," rengek Sheena seraya memegang kepalanya dan pura-pura terlihat kesakitan.


"Baiklah, tapi hanya sebentar saja," jawab Haris dan Sheena pun mengangguk.


"Kamu mau minum apa?" Tawar Sheena.


"Apa saja." Jawabnya dan Haris memilih duduk di kursi meja rias.

__ADS_1


Sheena segera menghubungi ARTnya lewat interkom rumah dan meminta membuatkan dua gelas teh hijau.


Tidak lama ART itu datang membawa dua gelas teh hijau dan meletakkan di atas nakas.


"Ini minumannya." Sheena menyodorkan teh hijau itu ke Haris, tapi sebelum Haris menerimanya, dering handphonenya bunyi.


"Sebentar...." Tukas Haris dan mengangkat telpon tersebut.


"Hallo, Ma...." Haris melangkah keluar kamar Sheena, karena permintaan mamanya yang tak ingin pembicaraannya di dengar orang lain.


Pada saat itulah, Sheena mencampurkan minuman Haris dengan obat perangsang. Sheena tersenyum mekar karena rencananya dengan Bu Cahyani berhasil.


Haris kembali ke kamar Sheena, setelah telponnya dengan Bu Cahyani selesai.


"Sheena, aku pulang dulu ya."


"Ntar dulu, kamu kan belum minum. Kasihan pembantu aku yang sudah capek-capek buat minuman untuk kamu."


"Ya sudah, aku akan meminumnya." Haris meminumnya tanpa ada rasa curiga.


Sheena tersenyum melirik Haris yang menghabiskan minumannya. Haris meletakkan gelas itu ke atas nakas.


"Aku pulang dulu."


"Iya, terima kasih ya...."


Haris keluar dari kamar Sheena dan melangkah turun. Baru saja kakinya menginjak tangga terakhir, tiba-tiba tubuhnya mendadak terasa panas dan gerah.


Sheena yang mengikuti Haris, tersenyum sumringah melihat minuman itu mulai bereaksi dan Haris terlihat gelisah tak karuan.


Sheena buru-buru menghampiri Haris.


"Kamu kenapa, Ar?"


"Aku nggak tahu. Tiba-tiba tubuhku terasa panas dan gerah," jawab Haris gelisah.


"Mungkin kamu kecapekan. Lebih baik kamu istirahat saja di kamarku."


Tanpa persetujuan Haris, Sheena segera menarik Haris kembali ke atas dan tiba di kamarnya, tubuh Haris semakin terangsang saat tangan Sheena menyentuh lengannya. Apalagi tangan Sheena mengelus si jantannya Haris, membuat Haris semakin terpancing dan terangsang dan terjadilah kejadian itu. Dimana Haris mencumbui Sheena, bahkan Haris tidak menyadari kehadiran Janet.


Obat itu benar-benar membuat Haris kalap dan tidak memperdulikan sekitarnya.


Saat Haris mengetahui kalau dirinya di jebak oleh mamanya sendiri dan Haris yang kalut karena tidak bisa menemukan Janet membuat Haris frustasi.


Haris yang malam itu tengah mabuk berat, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membuat Haris hilang kendali, sehingga mobilnya menabrak pembatas jalan. Mobilnya terguling ke jalur jalan yang berlawanan hingga mobilnya ikut terseret oleh mobil kontainer. Tubuh Haris terpelenting keluar mobil dan kepalanya terbentur aspal.


Flashback off.

__ADS_1


__ADS_2