
Zee sudah rapi dan kini tengah memakai lipstiknya. Zee kembali memperhatikan dirinya di cermin dan mematut-matutkan dirinya. Apakah pakaian sudah oke atau dandanannya sudah cantik.
"Sepertinya sudah oke." Sekali lagi Zee merapikan tatanan rambutnya, setelah itu bergegas turun untuk sarapan.
"Wah, cucu Nenek sudah cantik," seloroh Bu Cahyani memuji Zee.
"Terima kasih, Nek." Zee langsung duduk dan segera sarapan.
"Selamat pagi," sapa Jefry yang kini bergabung di meja makan.
"Pagi juga, Om," jawab Zee, sedangkan yang lain hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka semua segera sarapan. Bu Cahyani bahagia melihat keluarganya berkumpul bersama. Hatinya menghangat melihat anak, cucu dan mantunya sarapan bersama-sama. Bu Cahyani berbisik di dalam hatinya, seandainya dari dulu seperti ini dan tidak menuruti egonya. Mungkin kehangatan yang tercipta saat ini bisa di rasakannya semenjak dulu.
Bu Cahyani berharap, semoga kehangatan ini tidak cepat berlalu. ia ingin terus merasakan kebersamaan dengan keluarga tercintanya dan ia juga ingin melihat Jefry bahagia dengan pasangannya kelak.
"Zee, hari ini ayah yang akan mengantarkan kamu kuliah dan nanti sepulang kuliah kamu akan di jemput sama pak Jeje," ucap ayah Haris setelah menyelesaikan sarapannya.
"Iya," jawab Zee sembari merengut manyun. Padahal Zee ingin Marshall yang mengantarkannya pulang.
Selesai sarapan, Zee berpamitan kepada Bu Cahyani dan Mami Janet.
"Zee berangkat kuliah dulu." Zee menyalami punggung tangan Bu Cahyani dengan takzim dan juga menyalami tangan Mami Janet.
Zee dan ayah Haris segera berangkat ke kampus. Sekitar tiga puluh menit, ayah Haris memarkirkan mobilnya di depan kampus.
Sebelum turun dari mobil, Zee juga menyalami tangan sang ayah. Zee segera membuka pintu mobilnya.
"Tunggu," tahan ayah Haris.
"Ada apa?"
"Ayah harap kamu jangan ketemuan sama Marshall."
"Memangnya kenapa?"
"Tuh anak suka nyosorin kamu. Ayah nggak suka!" Jelas ayah Haris yang tidak suka kelakuan Marshall yang selalu main peluk dan cium Zee.
"Tapi aku nggak janji, yah. Soalnya Marshall selalu datang tiba-tiba," kata Zee menimpali ucapan ayah Haris.
__ADS_1
"Pokoknya, gimanapun caranya kamu nggak boleh ketemuan sama tuh bocah," kekeuh ayah Haris.
"Iya!" Zee mengiyakan saja dari pada ribet.
Zee segera turun dari mobil dan melambaikan tangannya kepada sang ayah yang kini sudah meninggalkannya. Setelah itu, Zee segera melangkah menuju kelasnya.
"Zee!" Panggil Axel yang kini tengah berlari menghampirinya.
"Kamu mau ke kelas ya. Bareng yuk."
Zee mengangguk. Kini Zee dan Axel melangkah bersama menuju kelas.
"Cie... Kamu pacaran ya sama sama Axel," ledek Ria.
"E'hem... E'hem...." Friska berdehem meledek Zee.
"Nggak! Siapa yang pacaran!" Sergah Zee.
"Iya juga nggak apa-apa kali, Zee," timpal Ayu.
"Tapi kenyataannya aku nggak pacaran sama Axel," balas Zee.
"Iya deh... Iya...." Ucap Ria.
Selesai kelas pagi, Zee dan teman-temannya kini tengah duduk di taman kampus sembari membicarakan pelajaran. Zee dan teman-temannya tengah serius berdiskusi soal pelajaran yang tadi di berikan oleh dosen, hingga seseorang menghampiri Zee dan teman-temannya.
"Siapa disini yang namanya, Zee?" Tanya orang tersebut.
"Aku, kenapa ya?" jawab Zee.
"Oh, kamu. Kamu tengah di tunggu seseorang di lapangan."
"Siapa?"
"Nanti juga kamu tahu siapa dia. Kalau bisa kamu ke sananya sekarang juga."
"Oke...."
Setelah itu orang tersebut meninggalkan Zee dan teman-temannya. Zee menatap Friska. " Kira-kira siapa ya?" Ujar Zee dan Friska hanya mengedikan bahunya.
__ADS_1
"Daripada penasaran mending kamu temui orang itu sekarang," timpal Ria.
"Kalian temani aku ya," pinta Zee.
"Oke," jawab Friska.
Zee, Friska, Ria dan Ayu bergegas menuju lapangan. Tiba di lapangan, Zee menatap heran melihat sebuah tulisan yang di pegang oleh dua cowok.
'Sejak pertama aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta kepada kamu.'
'Bagiku, kau adalah wanita yang sangat cantik.'
"Cie... Ternyata ada yang mengagumimu," ledek Ayu seraya menyenggol bahunya Zee.
"Kira-kira siapa ya?" Ria juga penasaran, siapa cowok yang menyukai Zee.
Hingga seorang wanita mendekati Zee dan memberikan setangkai bunga mawar merah kepada Zee.
"Ini untukmu dari dia," ucap wanita itu.
Setelah wanita itu pergi, ternyata masih ada yang menghampiri Zee dan juga memberikan setangkai bunga mawar merah. Zee semakin bingung dan juga penasaran siapa orang itu.
Semua orang yang memberikan bunga mawar kepada Zee. Berkumpul di tempat dua orang cowok yang tadi memegang sebuah tulisan tadi.
Zee dan teman-temannya melihat ke arah orang-orang yang memberi Zee bunga dan sebuah suara menyerukan nama Zee.
"Zee! Kaulah wanita tercantik dan mampu menggetarkan hatiku," ucap lelaki yang masih berdiri di belakang kerumunan orang-orang yang tadi memberi bunga.
Lelaki itu mulai melangkah dan semua orang bergeser memberi akses jalan untuknya. Zee membelalakkan matanya setelah tahu siapa lelaki itu.
"E'hem, sepertinya bakal ada yang jadian nih," Ria meledek Zee lagi. Ayu dan Friska tersenyum menatap wajah Zee.
Lelaki itu mulai melangkah mendekati Zee dengan senyumnya yang merekah, serta di tangannya memegangi sebuket bunga mawar merah.
Lelaki itu kini sudah berdiri di depan Zee dan menatap mesra wajah Zee. Kemudian lelaki itu berlutut dihadapan Zee sembari mengangkat sebuket bunga mawar kepada Zee.
"Zee, sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Kamu sudah membuat hati ini bergetar dan setiap aku memandang wajahmu, hati ini selalu meleleh."
Zee hanya terpaku mendengar ungkapan cintanya, tapi lelaki itu tetap menyunggingkan senyum manisnya.
__ADS_1
"Dan hari ini aku sudah tidak bisa menahan rasa ini." Lelaki itu menarik nafasnya dan menghembuskan perlahan.
"Zee, maukah kamu menjadi pacarku?"