Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Keserempet mobil


__ADS_3

Marshall dan Zee tiba di sekolah. Zee membuka helmnya dan menyerahkan kepada Marshall. Detik berikutnya Zee melangkah lebih dulu menuju kelas. Marshall yang melihat Zee pergi, buru-buru mengunci stang motornya dan menyusul langkah kaki Zee.


"Zee, tunggu...!!" Teriak Marshall dan mensejajari langkahnya dengan Zee.


"Lain kali jangan asal keluyur pergi. Kamu kan berangkatnya bareng aku, maka masuk ke kelas pun juga harus bareng aku," tegur Marshall yang tak suka dengan kebiasaan Zee yang suka pergi duluan.


Zee hanya memutarkan bola matanya, malas menjawab omongan Marshall. Bagi dirinya mau duluan atau nggak, toh hubungan antara dirinya dan Marshall hanya sebatas teman sekelas.


Tanpa sungkan Marshall menarik tangan Zee dan menggenggam tangan Zee. Zee mendelikkan matanya,saat Marshall menggenggam tangannya.


"Lepas...." Pinta Zee.


"Aku nggak mau," tolak Marshall.


"Aku tuh risih. Orang-orang pasti beranggapan kalau kita tuh pacaran."


"Biarin aja, aku nggak peduli."


Zee mendengus kesal, dan pada akhirnya Zee membiarkan Marshall menggandeng tangannya karena Marshall tak mau melepaskan tangannya hingga sampai kelas.


"Katanya nggak pacaran. Tapi kok... Hampir setiap hari berangkatnya barengan Mulu," seloroh Tieta seraya mendorong bahu Zee dengan telunjuknya.


"Terserah kamu, mau beranggapan apa. Yang penting aku udah jelasin kalau aku dan dia tuh nggak pacaran."


"Ya deh iya... Kamu nggak pacaran tapi sayangkan kamu sama Marshall." Tieta kembali berceloteh.


Marshall yang mendengarnya, hanya tersenyum dan tak lupa Marshall menoleh ke belakang dimana Zee duduk. Sedangkan Zee mendelikkan matanya sebal.


***


Jam Pelajaran pun di mulai, dan sekarang pelajaran olahraga. Zee dan yang lainnya sudah berkumpul di lapangan, sedangkan Marshall berlari ke arah kantin guna membeli dua botol air mineral.


Zee dan Tieta duduk di undakan tangga, sambil menunggu guru olahraga datang.


"Eh, kamu tahu nggak. Katanya guru olahraga yang menggantikan Pak Faisal ganteng loh...!" Cakap salah satu teman sekelasnya Zee. Tieta pun penasaran dan bergeser mendekati temannya itu.


"Siapa namanya?" Tanya Tieta kepo.


"Gue nggak tau siapa namanya, tapi yang jelas guru olahraga kita yang baru ganteng banget," selorohnya lagi.


"Eh... Tuh gurunya datang," tunjuknya ke guru olahraga yang baru.


Semua mata tertuju ke guru olahraga yang tengah berjalan mendekati semuanya. Semua siswa perempuan berbinar suka dengan ketampanan sang guru, di tambah lagi tubuhnya yang atletis, tinggi dan gagah.


"Ini mah, gantengnya kebangetan," gumam Tieta seraya memangku kedua tangannya di dagunya. Zee yang duduk di sampingnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Tieta yang begitu terpesona dengan sang guru.


"Semuanya kumpul...!" Lantang pak guru, yang meminta semua murid kumpul di lapangan.


Semua siswa langsung berkumpul dan berbaris di lapang.


"Perkenalkan nama bapak adalah Ghifari, kalian bisa panggil bapak dengan sebutan Pak Fari."

__ADS_1


"Hai, Pak Fari...." Seru murid perempuan menyapa Ghifari.


Ghifari hanya tersenyum simpul menampilkan rentetan giginya yang rapi.


"Sebelum memulai, kita pemanasan dulu," perintah Ghifari.


Semua murid melakukan pemanasan dan mengikuti gerakan Ghifari. Selesai pemanasan, Ghifari langsung mengajarkan beberapa tehnik cabang olahraga yang sedang di ajarinya.


Pelajaran olahraga pun selesai dengan bersamaan waktu jam istirahat tiba. Marshall menghampiri Zee yang akan melangkah pergi.


"Zee, tunggu!"


Zee memutarkan tubuhnya menghadap Marshall.


"Apa?"


"Nih... Aku tahu kamu pasti haus," ucap Marshall sembari menyodorkan sebotol air mineral. Zee mengambilnya, " Terima kasih," jawab Zee dan di anggukan kecil Marshall.


Zee memilih berganti pakaiannya, saat sudah selesai berganti pakaian. Zee bertemu dengan Liora yang menatapnya bengis. Zee yang malas meladeni Liora memilih keluar dari toilet.


***


"Zee, aku antar kamu pulang," kata Marshall, saat ini mereka tengah berada di depan gerbang sekolah dan siap untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Nggak usah, aku mau langsung ke tempat kerja."


"Nggak apa-apa, biar aku antar."


"Abang, antar Ais ke mal," ujar Aisyah dengan tatapan memohon.


Marshall menghela nafasnya dan melirik Zee yang ternyata pergi meninggalkan dirinya. Dengan terpaksa, Marshall menuruti kemauan Aisyah.


Zee sudah menyetop angkot dan naik ke dalam angkot. Di pertengahan jalan, angkot yang di tumpangi nya mogok.


"Maaf, ya ibu-ibu, Mas-mas. Angkot saya mogok," ujar Mang angkot sembari menengok ke belakang.


"Yaaah... Gimana sih Mang." Gerutu ibu-ibu.


"Sekali lagi maaf ya...." Sambung Mang angkot.


Semua penumpang terpaksa turun dari angkot. Zee berjalan sedikit menjauh dari tempatnya turun dan menunggu angkot lagi.


Saat sedang berdiri di pinggir jalan sembari mengetik pesan kepada seseorang, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menyerempet Zee. Zee yang tidak sempat menghindar langsung terguling di pinggir jalan. Mobil yang menyerempet Zee kabur begitu saja.


"Aargh...." Erang Zee, merintih sakit saat Zee akan duduk.


Semua yang ada di sana, langsung menolong Zee dan membantu Zee bangun dari aspal.


Ghifari yang melewati jalan tersebut, seketika menghentikan laju motornya saat melihat muridnya terluka di pinggir jalan. Ghifari mendekati Zee yang tengah di papah oleh bapak-bapak yang menolongnya.


"Kenapa dia, Pak?" Tanya Ghifari dengan mengangkat dagunya ke arah Zee.

__ADS_1


"Si Neng ini keserempet mobil, Mas," jawab si Bapak itu.


Ghifari yang merasa tak tega melihat muridnya, meminta si bapak itu membantu Zee naik ke atas motornya.


"Aww...." Ringis Zee saat naik ke atas motor.


"Terima kasih, Pak. Sudah menolong murid saya," ucap Ghifari.


"Sama-sama, Mas."


Ghifari membawa Zee ke klinik dan saat sudah tiba di depan klinik. Ghifari membantu Zee turun dari atas motornya.


"Hati-hati turunnya."


Setelah itu Ghifari menghela tubuh Zee masuk ke dalam klinik. Selesai mendapatkan perawatan, Ghifari memapah Zee keluar.


"Dimana rumah kamu, biar saya antar kamu pulang."


Zee menyebutkan alamatnya, dan setelah itu Ghifari mengantarkan Zee pulang sampai kosannya. Ghifari mengernyitkan dahinya, saat memapah tubuh Zee ke depan kamar kosannya.


"Kamu ngekos sendiri?" Tanya Ghifari.


"Iya, Pak."


"Orang tua kamu kemana?" Tanya Ghifari lagi.


"Di... di kampung, Pak. Kebetulan saya sekolah sambil kerja."


"Oh... Ternyata kamu mandiri ya," sambung Ghifari lagi.


"Kalau gitu, saya pergi dulu dan semoga lekas sembuh."


"Iya, Pak dan terima kasih sudah menolong sekaligus mengantarkan saya pulang," ucap Zee.


"Iya, sama-sama."


Ghifari melangkah menuju motornya yang terparkir di depan kos, lalu Ghifari meninggalkan kosannya Zee.


Marshall yang baru datang ke kosannya Zee, menatap heran melihat guru olahraganya pergi meninggalkan kosannya Zee.


"Itukan Pak Fari? Ngapain Pak Fari dari kosannya Zee?" Gumaman Marshall.


Marshall menghentikan motornya dan segera melangkah ke kamar kosan Zee.


"Zee...." Seru Marshall memanggil Zee.


Zee yang baru saja akan merebahkan tubuhnya, mendengus kesal saat mendengar suara Marshall dan Zee membiarkan Marshall berada di luar. Dirinya malas bertemu dengannya, karena pasti Marshall akan sangat cerewet menanyakan dirinya yang terluka akibat keserempet mobil.


🌺🌺🌺🌺🌺


Jangan bosan meninggalkan jejak like, agar othor semangat melanjutkan cerita ini.

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2