Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Tidur bersama


__ADS_3

Mami Janet terdiam mendengar penjelasan Haris. Tapi tetap saja hatinya masih menyimpan rasa sakit ketika melihat Haris tengah bergumul dengan wanita lain. Walau Haris melakukan itu di luar kendalinya.


Mami Janet sampai sekarang belum bisa melupakan kejadian itu, dimana dirinya melihat dengan kepalanya sendiri, bagaimana Haris mencumbui Sheena dengan sangat liar.


Haris lalu bangun dari duduknya dan mendekati Mami Janet yang masih tetap berdiri di dekat pintu. Di pandanginya wajah wanita yang sangat di cintainya itu, lalu Haris menarik kedua tangan Mami Janet dan di letakkan di atas dadanya.


"Aku minta maaf. Maaf atas kebodohanku yang sudah menyakiti hati kamu."


Mami Janet diam dan menundukkan pandangannya.


"Sayang... Apa kamu mau memaafkan kesalahanku. Jujur... Aku sangat tersiksa dengan kepergian kamu dari hidupku."


Haris menyentuh dagu Mami Janet dan kedua bola mata Mami Janet menatapnya. Kedua bola mata Mami Janet, menyiratkan kesedihan yang selama ini ia tutupi.


"Bahkan di dalam hati ini hanya ada namamu. Sayang... Apa masih ada cinta untukku."


Lalu Mami Janet memalingkan wajahnya. Jujur di dalam hatinya masih ada rasa cinta untuknya, tapi rasa sakit melihat Haris bercumbu dengan wanita lain mengalahkan rasa cintanya.


"Tatap aku, jika kamu tidak mencintaiku lagi," sambung Haris.


Ternyata Mami Janet tidak berani menatap wajah Haris, malah Mami Janet mendorong tubuh Haris.


"Zee!!" Mami Janet memilih meneriaki anaknya dan menggedor pintunya.


Haris tersenyum samar, sekaligus bahagia karena Mami Janet tidak menatapnya. Yang artinya istrinya masih mencintainya.


Haris terus saja memperhatikan Mami Janet yang terus memanggil Zee.


Hingga waktupun cepat beralau dan sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Mami Janet berkali-kali mencibir Zee di dalam hatinya, karena Zee sampai detik ini tidak membuka pintunya.


"Mungkin Zee sudah tidur. Lebih baik kita juga segera tidur."


"Gimana mau tidur, kamu aja tidur di kasurku!" Mami Janet tetap bersikap ketus.


"Terus aku harus tidur dimana?" Sahut Haris.


"Kamu tidur di bawahlah!"


"Ngapain aku harus tidur di bawah, sedangkan kasur ada," jawab Haris tidak mau kalah.


Mami Janet mendengus kesal dan mendelikkan matanya.


"Kamu itu laki-laki dan kamu harus mengalah. Lagian aku nggak mau tidur sama suami orang!"


"Suami orang?" Gumam Haris menautkan kedua alisnya.


"Aku memang suami kamu. Kamu lupa kalau kita tidak bercerai."


"Cih... Pura-pura lupa! Mentang-mentang sekarang kamu terkurung sama aku, kamu sampai lupa sama istri kamu," sergah Mami Janet.


"Siapa yang di maksud istri?"


"Wanita yang di jodohkan sama kamu!"


"Maksudnya Sheena?"


"Aku nggak tahu siapa namanya!"


"Jadi... Kamu berpikir kalau aku nikah sama Sheena?" Lalu harus tertawa dan menggelengkan kepalanya. Ternyata selama ini istrinya itu berpikir kalau dirinya menikahi Sheena.


"Kenapa kamu tertawa?" Dengus Mami Janet.

__ADS_1


"Aku nggak nikah sama Sheena. Lagian ngapain aku harus nikahin dia. Ngehamilin juga nggak, ya... Walau sudah mencicipi tubuhnya," timpal Haris yang masih tertawa kecil.


Mami Janet menggeram kesal, mendengar mencicipi tubuhnya.


Dasar laki-laki. Maki Mami Janet di dalam hatinya.


"Sudah sini. Mau sampai kapan berdiri terus, memangnya nggak ngantuk."


Dengan teramat terpaksa Mami Janet menaiki kasurnya dan di tengah-tengah kasur, Mami Janet memberi pembatas, agar Haris tidak mendekatinya saat dirinya sudah tidur lelap.


Haris hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah lucu Mami Janet yang membatasi tempat tidurnya.


"Awas kalau kamu melewati pembatas ini!"


"Iya...."


Kemudian Mami Janet merebahkan tubuhnya dan tidur memunggungi Haris. Haris juga tidur miring menghadap punggung Mami Janet.


Haris tersenyum dan akhirnya bisa merasakan tidur bersama lagi dengan istri tercintanya.


Aku harus lebih keras lagi untuk meluluhkan hati Janet dan sepertinya aku harus meminta bantuan Zee.


Lama Haris menatap punggung Mami Janet dan Haris menoel pinggang Mami Janet. Haris tersenyum karena Mami Janet diam saja saat di toel olehnya. Kemudian Haris menyingkirkan guling yang sebagai pembatasnya.


Lalu Haris memeluk Mami Janet dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di tengkuknya Mami Janet.


***


Sekitar pukul satu malam. Zee membuka pintu kamar ibunya dan Zee membuka sedikit pintunya, hanya untuk memastikan kedua orang tuanya baik-baik saja.


Zee tersenyum kecil melihat kedua orang tuanya saling berpelukan dalam tidurnya.


Semoga ayah dan ibu selalu rukun dan kita bisa hidup bersama-sama seperti yang aku harapkan.


Enak nggak Om tidur disini. Disini, di temani dengan nyamuk-nyamuk genit.


Zee lalu meninggalkan Jefry yang tengah menggaruk sekaligus memukul tubuhnya yang terkena gigitan nyamuk.


Triiingg Triiingg


Bunyi alarm berbunyi nyaring. Mami Janet membuka matanya karena harus pergi ke pasar.


Mami Janet membulatkan matanya melihat wajah Haris di depan wajahnya dan juga dirinya dan Haris saling berpelukan.


Plak plak


Mami Janet menampar lengan kekar Haris.


"Kurang ajar kamu! Bisa-bisanya mencari kesempatan dalam kesempitan," sentak Mami Janet seraya memukul Haris.


"Aduh...."


Haris mengaduh dan menangkap tangan Mami Janet. "Kamu kenapa pukul-pukul aku."


"Kenapa kamu bilang! Sekarang aku tanya, mana gulingnya? Kemanain gulingnya!"


"Mana aku tahu. Mungkin di gondol tikus," jawab Haris asal.


"Tikus dari Hongkong! Yang jelas kamu tikusnya!" Kesal Mami Janet seraya mencebikan bibirnya dan segera turun dari kasur.


"Kamu mau kemana?" Haris ikut bangun dan melirik jam di dinding.

__ADS_1


"Jam tiga pagi," gumam Haris, lalu melangkah keluar mencari Mami Janet.


"Zee kamu sudah bangun? Ibu mana?" Tanya Haris.


"Lagi di kamar mandi," jawab Zee seraya menguap.


"Memang jam segini mau kemana?" Tanya Haris lagi.


"Ke pasar. "


"Oh...."


Mami Janet sudah keluar dari kamar mandi dan segera bersiap-siap untuk pergi ke pasar.


"Zee ayo berangkat."


"Iya...."


Zeebsegera mengeluarkan motornya, di ikuti oleh ibunya dan ayahnya.


Zee melirik ibunya yang sudah berdiri di teras, menunggu dirinya menghidupkan motornya.


"Aku ambil hape dulu di kamar," seloroh Zee dan segera mengambil handphonenya di kamar. Setelah mengambil handphonenya, Zee kembali melangkah keluar rumah. Kali ini Zee berpura-pura tersandung tepian pintu dan....


Brugh


"Aw...." Ringis Zee.


"Zee...!" Teriak Haris dan membantu Zee bangun.


"Aw... Sakiiit," rengek Zee.


Mami Janet mendengus melihat kelakuan anaknya. Pasti ini hanya akal-akalannya saja. Begitu pikir Mami Janet.


"Mana yang sakit?" Kata Haris yang terlihat khawatir melihat Zee menahan sakit.


"Kakiku, yah. Kayaknya kakiku terkilir," jawab Zee.


Kamu duduk disini."


Zee duduk di kursi dan baru saja menekan kakinya yang terkilir, Zee tiba-tiba berteriak kesakitan.


"Aduh... Sakit, Yah," ucap Zee seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah ayahnya dan Zee kembali berteriak mengaduh sakit. Haris tersenyum dan mengerti kode dari Zee.


"Jangan pura-pura, Zee!" Sungut Mami Janet.


"Aku nggak pura-pura, Bu. Ini beneran sakit."


"Kakinya memang terkilir dan kamu menuduh Zee pura-pura. Jahat kamu sebagai ibu," timpal Haris.


"Terus aku gimana ke pasarnya?"


"Ibu ke pasar sama ayah saja kalau gitu. Kakiku sakit banget." Lalu Zee bangun dan melangkah masuk ke dalam rumah dengan berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit bohongan.


"Bagaimana?" Tanya Haris.


"Ya sudah! Mau gimana lagi!" Kesalnya.


Yes! akhirnya bisa jalan berdua lagi setelah tadi bobo bareng. Terima kasih anak ayah yang paling pengertian.


****

__ADS_1


Mungkin 2 atau 3 bab akan menceritakan perjuangan Haris meluluhkan hati Janet.


Jadi yang sabar ya, menunggu babang Marshall muncul.


__ADS_2