
"Axel...." Ucap Zee terkejut melihat Axel.
Axel tersenyum menatap Zee, lalu Axel mendekati Zee. Zee menatap Axel tajam. Zee tidak menyangka kalau Axel yang menculiknya.
"Hai, sayang... Bagaimana kamu suka berada disini?" Ucap Axel seraya mengelus rambut legam Zee.
Zee menjauhi tangan Axel yang sedang mengelus rambutnya. Zee menatap tajam wajah Axel, tapi Axel tetap tersenyum menatapnya.
"Lepaskan aku!" Sentak Zee.
"No... No... No...." Tolak Axel seraya menggoyangkan jari telunjuknya. "Gue nggak bisa lepaskan kamu, sayang."
Axel kemudian berlutut dan tangannya terulur untuk mengelus pipi Zee. Zee jelas menghindarinya dan tak mau di sentuh oleh Axel. Meski Zee terang-terangan menolak sentuhan tangannya, Axel tetap mengelus pipi Zee.
Zee jijik, pipinya di elus oleh Axel. Seandainya Zee tidak diikat, pasti selang kangan Axel sudah di tendang. Axel mendekati wajah Zee dan berbisik di telinganya.
"Besok gue akan membawamu pergi dari kota ini, tapi sebelum kita meninggalkan kota ini. Gue akan nikahin kamu dulu."
Nafas Zee tercekat mendengar perkataan Axel.
'Menikah.' ucap batin zee.
Lalu Axel mencium pipi Zee. Zee memalingkan wajahnya dan enggan menatap wajah Axel yang begitu dekat dengan wajahnya.
Axel tersenyum smrik menatap wajah cantik Zee, lalu Axel berdiri dan menatap ketiga orang itu.
"Jaga calon istri gue. Jangan sampai dia kabur dari sini," perintah Axel.
"Siap, bos," jawabnya bersamaan, lalu Axel kembali menatap Zee.
"Sayang, gue pergi dulu. Gue mau mencari pakaian pengantin untuk pernikahan kita."
Zee tidak menyahuti perkataan Axel, justru Zee geram menatap wajah Axel. Sebelum pergi, Axel mencium kepala Zee terlebih dahulu dan setelah itu, Axel pergi meninggalkan tempat tersebut.
Marshall... Ayah... tolong aku. Ucap Zee di dalam hatinya.
Zee hanya bisa berharap, semoga Marshall dan ayahnya segera datang dan melepaskannya dari sini. Sungguh, Zee tidak mau jika Axel sampai menikahinya dan membawanya pergi dari kota ini.
***
Ayah Haris yang mendapatkan kabar penculikan Zee. Segera menelpon adiknya, Jefry. Akan tetapi, panggilan teleponnya tidak di angkat oleh Jefry. Ayah Haris kemudian menelpon asisten pribadinya Jefry.
Asisten pribadi Jefry melihat panggilan masuk ke handphonenya dan memilih keluar dari ruang meeting.
"Hallo, Tuan Haris," jawab Gunawan.
"Gunawan, Jefry mana?" Tanya ayah Haris.
"Tuan Jefry lagi meeting."
__ADS_1
"Katakan padanya, kalau Zee di culik. Aku butuh bantuannya sekarang juga." Terdengar suara cemas dari perkataan ayah Haris.
"Baik Tuan, akan saya sampaikan sekarang juga."
Setelah menutup telponnya, Gunawan masuk kembali ke ruang meeting dan berbisik kepada Jefry.
"Tuan, Nona Zee di culik."
"Apa?!" Seraya menatap Gunawan.
"Barusan, Tuan Haris menelpon saya dan memberitahu kalau Nona Zee di culik. Tuan Haris meminta bantuan, Tuan."
"Siapa yang berani menculik Zee?" Geram Jefry. "Gunawan, bubarkan meeting ini."
Gunawan mengangguk, setelah itu Jefry meninggalkan ruang meeting. Jefry melonggarkan dasinya yang terasa mencekiknya dan merogoh kantong celananya. Jefry menelpon Antonio, orang yang pandai melacak keberadaan seseorang.
"Halo, Antonio. Aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa, bos?"
"Tolong kamu lacak keberadaan Zee, keponakan saya."
"Siap, bos."
***
"Zee tadi nelpon," gumam Marshall saat memeriksa handphonenya, kemudian Marshall menelpon balik Zee.
"Kok, Nggak aktif hapenya. Nanti aku telpon lagi deh."
Marshall segera memasuki perusahaan The Star Grup dan berjalan beriringan bersama Pak Didi. Saat sedang menunggu lift, dering handphone Marshall bunyi. Marshall mengambil handphonenya di saku jasnya dan menatap panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenalnya.
"Ini nomor siapa?" Gumam Marshall.
Marshall mengangkat telponnya dan siapa tahu kliennya yang menelponnya.
"Halo...."
"Ini Marshall. Pacarnya Zee?" Tanya orang itu.
"Iya, benar. Ini siapa ya?"
"Saya Jefry, Omnya Zee."
"Oh... Om Jefry. Ada apa ya, Om?"
"Zee di culik."
"Apa?! Serius, Om?" Tanya Marshall terkejut mendengar Zee di culik. Rasa khawatir dan cemas langsung menyergap hatinya.
__ADS_1
"Saya serius dan kita harus segera mencari Zee."
"Iya, Om. Terima kasih sudah mengabari aku. Aku segera mencari Zee." Jefry menutup sambungan teleponnya.
"Om Didi, aku nggak bisa ikut meeting sama ayah. Pacarku di culik dan aku harus segera mencarinya," jelasnya Marshall kepada Pak Didi, lalu Marshall meminta kunci mobilnya.
Marshall langsung meninggalkan Pak Didi, setelah Pak Didi menyerahkan kunci mobil dan mencari keberadaan Zee. Sebelum pergi Marshall memeriksa GPS-nya Zee, dan terakhir melihat posisi Zee di jalan Pattimura.
Marshall langsung meluncur ke jalan Pattimura. Marshall juga menelpon Byan untuk meminta bantuannya mencari Zee.
Tiba di jalan Pattimura dan berhenti di titik terakhir posisi Zee. Marshall mencari keberadaan Zee di sekitar sana, tapi sayang Marshall kesulitan menemukan Zee karena handphone Zee tidak aktif. Pikiran Marshall buntu dan tidak bisa berpikir jernih, karena rasa khawati, panik, cemas menjadi satu.
"Zee... Kamu dimana?" Gumam Marshall sambil terus berusaha mencari Zee di sekitar jalan tersebut.
Drrtt Drrtt
Handphone Marshall menggelepar nyaring. Marshall mengangkat telpon dari Byan.
"Shall, aku dan Dhika sudah di jalan Pattimura. Posisi kamu dimana?"
"Aku berada di depan Bank BCI."
"Oh... Aku segera ke sana."
Byan dan Dhika segera menemui Marshall. Byan merangkul pundak Marshall mencoba menenangkan Marshall yang terlihat kalut.
"Kamu tenang saja, aku dan Dhika pasti bakal bantu kamu," ucap Byan.
"Harus! Kalian harus bantu aku mencari Zee," jawab Marshall kalut.
"Kamu tahu alamat email-nya Zee?" Tanya Dhika.
"Tahu. Kenapa memangnya."
"Ikut aku," ajak Dhika menuju mobil Byan. Dhika mengambil laptopnya dan menyalakannya.
"Sebutkan alamat email-nya Zee," ucap Dhika.
Marshall menyebutkan alamat email-nya Zee dan Dhika mengotak-atik laptopnya. Marshall baru ingat kalau Dhika seorang hacker. Sekitar delapan belas menit, Dhika akhirnya menemukan posisi Zee.
"Ketemu...." Ucap Dhika.
"Dimana Zee?" Tanya Marshall, sedikit lega.
"Zee berada sekitar satu setengah kilometer dari sini dan berada di kompleks perumahan Griya asri."
"Kalau gitu kita harus segera ke sana," timpal Byan.
Marshall, Byan dan Dhika segera menuju keberadaan Zee dan berharap Zee baik-baik saja.
__ADS_1