Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Apa benar Zee sudah....


__ADS_3

Waktupun cepat barlalu. Dua tahun sudah Marshall dan Zee berpisah. Sejak perpisahannya dengan Zee, Marshall tidak lagi mencari pengganti Zee sebagai tambatan hati. Dirinya tetap fokus dengan pendidikannya.


Sebenarnya banyak para wanita yang mendekatinya, apalagi di kampusnya. Sudah puluhan wanita mengungkapkan rasa sukanya terhadap Marshall, tapi Marshall selalu saja menolaknya. Di hatinya masih terukir nama Zee dan Marshall masih berharap bisa berjumpa lagi dengannya.


Selesai kuliah, Marshall, Dhika, Jojo, Sigit dan Byan tengah berada di sebuah cafe yang tak jauh dari kampusnya.


" Jadi elu mau liburan ke kampung bokap elu?" Cetus Sigit.


"Yap, betul. Di sana, di kampung bokap gue ada tempat wisata yang keren banget," ujar Byan.


" Tempat wisata apaan, memangnya?" Tanya Dhika sembari menyedot air minumnya.


"Ada Curug dan masih ada lagi. Gue lupa nama tempat wisatanya, tapi yang jelas wisata alam. Apa kalian mau ikut liburan?" Byan menatap keempat sahabatnya itu secara bergantian.


"Gue sih suka wisata alam. Tapi beneran keren kan tempatnya?" Tanya Dhika kepada Byan.


"Soal itu jangan di tanya. Gue yakin kamu bakal suka."


"Oke. Kalau gitu gue ikut," tukas Dhika.


"Kalau kalian bertiga gimana?"


"Aku ikut deh. Anggap saja merefleksikan diri dan memang aku juga sudah lama nggak liburan ke tempat seperti itu," jawab Marshall.


"Kalau gue nggak bisa ikut," timpal Jojo.


"Kalau elu, Git?"


"Ikut deh."


"Bagus, nanti kita akan menginap di villa bokap gue."


Marshall, Dhika dan Sigit sepakat ikut liburan ke kampung halaman papanya Byan.


*


Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, dimana Marshall, Dhika dan Sigit akan ikut liburan di kampung halaman papanya Byan.


Perjalanan menuju kampung papanya Byan sekitar empat jam lebih. Marshall dan yang lainnya tiba pada siang hari dan Marshall, Dhika dan Sigit langsung di ajak ke villa.


Marshall menyukai desa ini, karena udaranya masih sejuk dan pastinya masih asri. Tidak seperti di kota metropolitan, yang penuh dengan hiruk pikuk dan polusi.


"Ini kamar kalian," ucap papanya Byan, menujukan kamar yang akan di tempati oleh Marshall, Dhika dan Sigit.


" Iya, Om." Jawab Sigit.

__ADS_1


Marshall meletakkan tasnya di atas kasur, lalu melangkah ke balkon untuk melihat lingkungan sekitar. Di pandanginya desa itu dari atas balkon. Udara yang sejuk, membuatnya nyaman berdiri di sana.


Dirinya teringat kembali dengan Zee yang entah dimana keberadaannya. Marshall menghela nafasnya, rasa rindu kian menggunung tapi apalah daya, dirinya tidak bisa lagi bertemu dengannya. Wanita yang sudah berhasil memporak porandakan hatinya.


Marshall pernah menelpon Zee, tapi ternyata nomornya tidak aktif. Zee benar-benar pergi meninggalkan dirinya dengan sejuta kesedihan yang mendalam.


"Zee... Aku sangat merindukan kamu. Apa kamu juga merindukan aku," lirih Marshall dan menundukkan kepalanya. Tersirat kepedihan di hatinya.


"Shall, kita di suruh makan siang dulu," seloroh Byan di ambang pintu.


"Oke...."


Selesai makan siang, Marshall, Byan, Sigit dan Dhika duduk-duduk di pinggir kolam renang sambil bermain gitar.


Semuanya tampak menikmati suasana villa. Bernyanyi dan bercanda.


"Eh, Yan. Kapan kita pergi ke Curug yang elu sebutkan," cetus Dhika yang sudah tak sabar ingin bermain air di Curug tersebut.


"Besoklah. Lagian sekarang terlihat mendung dan nggak memungkinkan untuk pergi ke Curug."


"Tapi tempatnya jauh nggak?" Tanya Marshall sembari meminum es jeruk.


"Nggak. Hanya melewati satu desa dari sini," sambung Byan.


"Nanti sore kita jalan-jalan yuk, aku pengen tahu daerah sini," timpal Sigit.


Sesuai dengan rencananya. Mereka berempat jalan-jalan di lingkungan sekitar kampung. Mereka berjalan kaki sembari bersenda gurau.


Marshall dan teman-temannya berhenti di warung dan membeli minuman.


"Gila cewek-cewek disini pada cantik-cantik ya," ujar Dhika si playboy cap kadal.


"Kamu mah, tiap lihat cewek pasti bilangnya cantik. Dasar si playboy kodok," ejek Sigit sambil tertawa.


Hingga seorang perempuan yang tengah menggendong anak kecil berusia satu tahun, lewat di depan mereka.


"Shall, itu bukannya... Zee!" Ucap Sigit menoel lengan Marshall yang tengah membayar minumannya.


"Mana?"


"Itu, yang gendong anak kecil," tunjuk Sigit .


Marshall mengernyitkan dahinya melihat orang yang di tunjuk oleh Sigit. Marshall merasa tidak yakin kalau yang di tunjuk oleh Sigit itu adalah Zee. Apalagi dirinya hanya melihat tubuh belakangnya saja.


"Kamu yakin itu, Zee?" Tanya Marshall.

__ADS_1


"Iya... Itu Zee. Mana mungkin aku salah lihat." Sigit meyakinkan Marshall dengan apa yang lihatnya memang Zee.


Marshall terus memperhatikan perempuan itu, sembari bertanya-tanya apakah yang di lihat oleh Sigit benar kalau perempuan itu Zee.


"Kalau kamu nggak percaya, kita ikutin saja dia," sambung Sigit lagi.


"Bagaimana kalau dia bukan, Zee." Marshall masih tidak yakin kalau itu Zee.


"Makanya, ayo kita buktikan sendiri. Benar nggak kalau dia Zee, tapi aku sih yakin kalau dia itu Zee."


"Sudah... Mending kita buktiin saja. Benar nggak dia adalah Zee," timpal Byan.


"Baiklah. Ayo kita ikutin perempuan itu," jawab Marshall.


Marshall dan yang lainnya mengikuti langkah Zee. Hingga Zee berhenti di rumah yang tak tahu rumah siapa yang di datangi oleh Zee.


Marshall terus saja memperhatikan Zee dari balik pohon jambu dan memastikan kalau perempuan itu benar-benar Zee atau bukan. Hingga seorang lelaki datang dan memanggilnya.


"Dek...." Panggil lelaki itu kepada Zee.


Lelaki tersebut tersenyum kepada Zee dan Zee menyalami tangan lelaki itu. Marshall benar-benar tertegun, apa yang di lihatnya memang benar itu Zee.


"Aduh... Anak papa sudah ganteng rupanya," seloroh lelaki itu.


Marshall tercekat mendengar perkataan lelaki itu, yang mengatakan kalau dirinya papa dari anak yang di gendong Zee. Apalagi Marshall melihat wajah Zee yang tersenyum hangat kepada lelaki itu.


Dunianya terasa runtuh seketika, melihat Zee dengan lelaki itu yang mengaku papa dari anak yang di gendong Zee. Harapan-harapan yang selama ini di impikannya hancur begitu saja.


Apa mungkin Zee sudah menikah dan memiliki seorang anak?.


Hatinya sangat perih menyaksikan kehangatan di antara Zee dan lelaki itu.


"Ayo masuk," ajak lelaki itu kepada Zee.


Zee dan lelaki itu masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.


Marshall langsung tertunduk sedih, air matanya sudah menumpuk di pelupuk matanya.


"Yang sabar ya...." Ucap Sigit menepuk punggung Marshall. Dirinya tahu bagaimana perasaan Marshall dan sesedih apa Marshall saat kehilangan Zee.


"Kamu jangan sedih dulu. Siapa tahu lelaki itu bukan suaminya Zee," cetus Byan.


"Cengeng banget sih, Shall. Cuman gara-gara cewek, elu jadi rapuh gitu," celetuk Dhika.


Sigit menonjok lengan Dhika. "Kamu nggak tahu apa-apa, lebih baik diam," sungut Sigit.

__ADS_1


Akhirnya Marshall pergi meninggalkan tempat itu dengan sejuta kesedihan di hatinya. Sekarang dirinya benar-benar sudah tidak punya harapan lagi untuk memiliki Zee lagi.


__ADS_2