
Sigit sudah tiba di tempat yang sudah di janjikan dengan Zee. Sigit duduk di warung bakso dan menunggu Zee datang. Tidak lama Zee datang dan tersenyum kepada Sigit.
"Maaf ya telat," ujar Zee dan duduk di samping Sigit.
"Nggak apa-apa, santai aja, Zee," balas Sigit. Lalu Zee dan Sigit memesan dua porsi bakso dan minumnya Es teh manis.
"Kamu mau bicara apa, Git?" Tanya Zee, yang memang penasaran hal apa yang ingin di bicarakannya.
"Nanti saja dulu, kita habiskan dulu baksonya."
"Baiklah."
Zee dan Sigit melahap bakso tanpa ada pembicaraan. Keduanya tetap fokus menghabiskan baksonya.
"Oke... Sekarang kamu mau bicara apa?" Ucap Zee, sesaat setelah menghabiskan baksonya.
"Aku, mau tanya. Apa kamu sudah menikah?"
"Menikah?" Zee mengernyitkan dahinya. Heran dengan pertanyaan dari Sigit.
"Iya, soalnya aku sudah dua kali melihat kamu menggendong anak kecil dan laki-laki yang memanggil kamu dek." Sigit langsung bicara ke intinya, dirinya sudah tidak sabar ingin mendengar pengakuan dari Zee.
"Maksud kamu Leo?"
"Aku nggak tahu siapa nama anak kecil yang kamu gendong dan lelaki yang memanggil dek ke kamu."
Kemudian Zee tertawa dan Sigit merasa heran melihat Zee tertawa. Apa perkataannya ada yang lucu?.
"Aku tuh belum menikah," jawab Zee masih dengan tawanya.
"Terus?" Sigit sedikit merasa lega. Apa yang di pikiran oleh Marshall salah. Sigit tersenyum senang.
"Jadi... Leo itu anak dari sepupu aku, namanya kak Ilham. Dia itu seorang duda di tinggal mati oleh istrinya. Jadi aku dengan sukarela membantu merawat Leo." Terang Zee menjelaskan semuanya.
"Oh... Syukurlah. Aku pikir kamu sudah menikah dan anak itu anak kamu," ucap Sigit lagi.
Zee menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. Rupanya Sigit salah paham. Zee tidak bisa menghentikan tawanya, bisa-bisanya Sigit punya pikiran kaya gitu.
"Besok pagi-pagi, sekitar jam enam. kamu bisa nggak kita ketemuan lagi."
"Mau ngapain lagi memangnya?"
"Ada hal yang ingin aku tunjukkan sama kamu,"kata Sigit serius.
"Oh ya. Apa yang ingin kamu tunjukkan?" Zee kembali bertanya, dan kali ini membuat Zee semakin penasaran.
"Ada deh. Pokoknya aku tungguin kamu di ujung jalan sana yang mengarah ke villa."
__ADS_1
"Kamu bikin aku penasaran," ucap Zee seraya menyipitkan matanya ke arah Sigit.
"Makanya kamu harus datang," timpal Sigit setelah itu Sigit menghabiskan es teh manisnya.
"Ayo... Aku antar kamu pulang."
"Nggak usah. Aku kesini bawa motor," tolak Zee halus.
Setelah itu Zee dan Sigit berpisah. Sepanjang perjalanan pulang, Zee terus kepikiran soal perkataan Sigit.
"Kira-kira apa ya, yang akan di tunjukkan Sigit? Apa ini ada hubungannya dengan Marshall?" Gumam Zee.
Keesokan harinya. Sigit sudah bangun lebih pagi dan membangunkan Marshall yang masih meringkuk di bawah selimut.
"Shall, bangun...." Sigit terus membangunkan Marshall.
"Hmm... Apaan sih!" Parau Marshall yang masih teramat mengantuk.
"Cepat bangun! Aku mau ngajak kamu joging sekaligus ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu." Sigit menarik selimut yang membungkus tubuh Marshall.
"Kenapa nggak ngomong disini saja!" Kesal Marshall yang merasa tidurnya terganggu.
"Nggak bisa. Pokoknya kamu harus bangun dan akan aku pastikan kamu bakal senang." Sigit tidak menyerah membangunkan Marshall, meski sedikit kesal karena Marshall susah untuk di bangunkan.
"Cepat bangun!" Sigit kembali menarik kaki Marshall dan usahanya membuahkan hasil, meski harus mendapatkan gerutuan dari Marshall.
"Jangan lama-lama mandinya," sambung Sigit lagi.
Sekitar dua puluh menit, Marshall sudah rapi dan wangi. Meski wajahnya masih memperlihatkan mimik kesal terhadap Sigit. Sigit langsung merangkul pundak Marshall dan tidak peduli dengan gerutuan Marshall.
"Lepaskan! Aku nggak suka di rangkul-rangkul," ketus Marshall seraya menyingkirkan tangan Sigit di pundaknya.
Sigit diam saja dan tetap melanjutkan langkahnya ke tempat yang sudah di janjikan dengan Zee.
Sigit dan Marshall sudah tiba di ujung jalan lebih dulu, karena keduanya berangkatnya lebih awal.
"Kita ngapain berdiri disini," cetus Marshall yang kembali kesal.
"Tunggu sebentar lagi. Dia mungkin lagi di jalan," timpal Sigit yang tetap santai.
"Maksud kamu, dia siapa? Sebentar tadi kamu bilang ada hal yang ingin kamu bicarakan. Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Nah, itu dia sudah datang."
Marshall mengikuti arah pandang Sigit dan terkejutnya Marshall melihat Zee berhenti di depannya.
Zee juga sama terkejutnya melihat Marshall, tapi Zee berusaha terlihat santai. Marshall dan Zee saling diam, tapi Marshall terus menerus melirik Zee.
__ADS_1
Sigit mendengus melihat dua orang di dekatnya tidak saling sapa.
"Zee, sesuatu yang ingin aku tunjukkan ialah dia." Sigit menunjuk ke Marshall.
"Sekarang kamu jelaskan Zee, apa kamu sudah menikah atau belum," pinta Sigit, tapi mulut Zee terasa Kelu. Untuk berkata hai saja rasanya sangat sulit.
Karena Zee tetap diam, akhirnya Sigit yang mengatakannya ke Marshall.
"Shall, apa yang ingin aku bicarakan itu tentang Zee. Semua yang ada dalam prasangka kamu mengenai Zee salah. Zee itu belum menikah dan anak itu adalah anak sepupunya Zee," terang Sigit.
"Kalau tidak percaya kamu tanyakan saja sama Zee." Lanjut Sigit lagi.
"Benar, Zee?" Tanya Marshall dan Zee mengangguk sebagai jawabannya.
Senyuman Marshall terbit, ternyata apa yang ada dalam benaknya salah. Marshall senang bukan main dan rasanya Marshall ingin membawa Zee ke dalam pelukannya.
"Nah, sekarang kalian berdua mau lanjut jalan atau pulang. Itu terserah kalian. Yang terpenting aku sudah membantu kalian sampai disini," timpal Sigit.
Setelah itu Sigit meninggalkan Zee dan Marshall yang masih saling diam.
"Zee...."
"Apa...."
"Apa kabar."
"Baik," jawab Zee.
Setelah itu Zee dan Marshall diam dan tetap saling pandang. Kecanggungan di antara keduanya benar-benar terasa.
"Emm... Hari ini kamu sibuk nggak," kata Marshall dan Zee menggelengkan kepalanya.
"Kalau gitu... Mm... Kamu mau jalan sama aku," ucap Marshall dan berharap Zee mau pergi jalan dengannya.
Hati Marshall membuncah saat Zee menganggukkan kepalanya. Marshall tersenyum senang dan setelah itu Marshall naik ke motornya Zee, begitupun juga dengan Zee.
Marshall terus memacukan motornya, meski dirinya tak tahu kemana tujuannya. Marshall berhenti di dekat pedagang bubur ayam.
"Kita makan dulu ya," ajak Marshall.
"Iya...."
Marshall dan Zee makan bubur ayam terlebih dulu, sebelum melanjutkan kemana Marshall akan membawa Zee.
Zee dan Marshall segera memakan buburnya dan setelah itu, Marshall dan Zee kembali mengendarai motornya. Ternyata tidak jauh dari pedagang bubur ayam, ada alun-alun kota. Marshall membelokan motornya dan berhenti.
Kini Marshall dan Zee sudah duduk di alun-alun kota.
__ADS_1
"Zee... Aku kangen sama kamu. Bahkan sampai detik ini namamu masih terukir di dalam hatiku."
"Apa... kamu juga merindukan aku?" tanya Marshall yang menatap lekat wajah Zee.