
Jam istirahat pun tiba, siswa yang lain memilih menghamburkan diri ke kantin, sedangkan Zee melangkah seorang diri ke sebuah tempat yang berada di belakang sekolah.
Marshall yang sedang bersama teman-temannya, tak sengaja melihat Zee berjalan sendiri.
Dia mau kemana?
Kedua manik Marshall mengikuti langkah Zee yang ternyata berbelok ke belakang sekolah. Marshall pun penasaran dengan apa yang di lakukan Zee di belakang sekolah.
"Bro, aku pergi dulu ya," cetus Marshall.
"Kemana?" Tanya Didi, teman sebangkunya.
"Ada deh...." seraya berlari meninggalkan teman-temannya.
Marshall bergegas pergi dan melangkahkan kakinya ke belakang sekolah. Dirinya benar-benar penasaran dengan Zee. Langkah kaki Marshall pun mulai pelan, ketika dirinya melihat Zee duduk seorang diri.
Zee duduk sendiri di bawah pohon yang rindang, sambil membaca sebuah buku di tangannya, tubuhnya bersandar di batang pohon. Di tempat seperti ini, membuat perasaan Zee jauh lebih baik dari pada berada di kantin sekolah dan berbaur dengan siswa yang lain. Bahkan di tempat ini, jarang ada orang yang lewat, karena memang letaknya berada di belakang sekolah, tapi terkadang ada siswa yang bersembunyi di belakang sekolah hanya untuk menghabiskan sebatang rokok atau pacaran dan di tempat ini para guru tidak akan ada yang tahu.
Zee menghabiskan waktu istirahatnya di sana. Membaca dan menulis cerpen. Hingga sebuah suara mengangetkan Zee yang tengah fokus membaca.
"Ngapain disini? Sendiri pula?" Cecar Marshall yang berdiri menjulang di depan Zee.
Zee mengadahkan kepalanya menatap Marshall sesaat, lalu Zee kembali fokus ke buku. Zee tidak memperdulikan keberadaan Marshall yang berdiri di depannya.
Karena nggak ada jawaban, Marshall akhirnya ikut duduk di samping Zee.
"Kenapa, kamu duduk di sini? Di bawah pohon rindang. Apa nggak takut sama penunggu pohon ini?" Tutur Marshall yang kini ikut menyenderkan punggungnya ke pohon.
"Nggak, biasa aja."
"Kenapa kamu selalu cuek sama aku, terus kenapa kamu nggak pernah bergabung dengan yang lain."
"Terserah aku. Mau punya teman atau nggak itu bukan urusan kamu," ucap Zee.
"Ya, memang bukan urusan ku. Tapi kenapa kamu selalu cuek sama aku." Marshall kembali mengulangi pertanyaannya sembari menatap wajah Zee dari samping. Wajah yang manis dengan bentuk wajah oval, matanya belo dan bibir yang tipis.
"Itu hanya perasaan kamu saja kali," ujar Zee melirik Marshall yang ternyata tengah menatapnya, kemudian Zee memalingkan wajahnya dan kembali menatap bukunya.
"Mungkin," ucap Marshall.
Keduanya diam dan menikmati angin yang sepoi-sepoi. Daun-daun kering berjatuhan dari rantingnya. Marshall kembali melirik Zee, yang entah kenapa membuatnya menjadi penasaran dengan gadis di sebelahnya.
__ADS_1
"Marshall...!!" Teriakkan Liora mengagetkan Marshall.
Liora menatap tajam kearah Zee. Nafasnya memburu menahan emosinya, lalu dengan tergesa-gesa Liora melangkahkan kakinya mendekati Zee dan Marshall. Liora tau keberadaan Marshall dari Byan, karena Byan melihat kemana Marshall pergi.
"Ngapain kamu disini sama cewek lain!" Hardik Liora dengan tatapan nyalang.
"Nggak lagi ngapa-ngapain. Aku cuma duduk dan ngobrol sama dia," jawab Marshall. Lalu pandangan Liora teralihkan kepada Zee. Liora menautkan kedua alisnya saat menatap Zee yang terlihat biasa saja.
"Kamu!! Kamu bukannya pelayan cafe heaven?" Ketus Liora bertanya seraya telunjuknya mengarah kepada Zee.
"Iya, " jawab Zee jujur dan nggak ada rasa minder sama sekali. Baginya bekerja di cafe itu adalah pekerjaan halal, beda lagi kalau pekerjaannya seperti ibunya.
"Pantas saja, waktu itu kamu belain dia," tuding Liora kepada Marshall. " Ternyata kamu selingkuh sama dia!" Tuduhnya lagi.
"Kamu ngomong apaan sih! Siapa yang selingkuh. Kamu jangan asal nuduh," sergah Marshall.
"Buktinya kamu berdua sama dia disini." Liora tetap dengan opininya. Apa lagi tadi dirinya melihat tatapan Marshall begitu lekat menatap wajah Zee.
"Kamu salah paham!"
"Sudahlah, aku kecewa sama kamu. Kamu jahat menduakan aku." Suara Liora memelan menahan tangis, lalu Liora pergi begitu saja.
"Kenapa kamu nggak ngejar cewek kamu," cetus Zee.
"Biarkan saja. Lagian percuma ngejar dia, pasti dia nggak bakalan dengerin penjelasan aku."
"Justru kalau kamu nggak ngejar cewek kamu, pasti dia berpikir kalau kita memang ada hubungan. Dah... Sana kejar, rayu hatinya," suruh Zee.
"Nanti saja," jawabnya.
"Ya... Itu terserah kamu," ucap Zee sembari mengedikan bahunya.
Kemudian keduanya mendengar suara bel berbunyi. Marshall dan Zee bergegas pergi dari tempat itu dan segera masuk ke dalam kelas.
***
Saat hendak pulang sekolah, Zee di hadang oleh Liora dan teman-temannya. Tatapan Liora begitu berang menatap wajah Zee. Sedangkan Zee tetap terlihat biasa saja, karena dirinya tidak bersalah.
"Cepat bawa dia ke toilet," titah Liora kepada teman-temannya.
"Oke," sahut Popi, lalu teman-teman Liora menghadang Zee.
__ADS_1
"Ikut kami," ucap Popi dan kedua temannya mencekal lengan Zee dan menarik Zee agar ikut dengan mereka.
"Lepas! Aku bisa jalan sendiri tanpa harus di tarik-tarik begini," tukas Zee, tapi mereka semua tak ada yang mengindahkan perkataan Zee.
Tiba di toilet, Zee langsung ditarik masuk dan di susul oleh Liora.
"Mau apa kalian?" Tanya Zee dan berusaha tetap bersikap tenang.
PLAKK
Zee terhuyung ke samping karena mendapatkan tamparan keras dari Liora. Tatapan Liora begitu nyalang menatap Zee, dan guratan kemarahan terlihat jelas.
Zee memegangi pipinya yang berkedut panas dan perih. Kemudian Zee menegakkan tubuhnya menghadap Liora.
"Dengar ya! Aku peringatkan kamu jangan pernah lagi kamu deketin Marshall!" Gertak Liora.
Zee tersenyum tipis mendengar gertakan dari Liora. "Kamu salah sangka. Aku dan cowok kamu itu nggak seperti yang kamu tuduhkan. Deket aja nggak aku sama cowok kamu!" Balas Zee dengan perkataan penuh penegasan.
"Nggak deket-deket! Buktinya tadi apa di belakang sekolah! Kalian berdua lagi duduk berdua kan!" Sentak Liora emosi.
" Kami memang duduk berdua, tapi cowok kamu yang tiba-tiba nyamperin aku dan duduk di dekatku. Jadi kamu jangan tuduh aku kalau aku deketin cowok kamu."
"Halah...! Aku nggak percaya sama kamu!"
"Ya sudah... terserah kamu. Mau percaya atau nggak, yang jelas aku nggak ada hubungan apa-apa sama cowok kamu."
Kemudian Zee menyingkirkan salah satu temannya Liora dan bergegas pergi dari hadapan mereka semua, tapi saat akan melangkah. Tubuh Zee di dorong oleh Liora dan Zee terjungkal ke lantai.
Brug....
"Aw...." jerit Zee. Kening Zee mencium tembok dan lututnya memar.
Dari tadi Zee tetap berusaha tenang menghadapi Liora dan teman-temannya, tapi kali ini Zee sudah tidak bisa lagi menahan kemarahannya. Baginya ini sudah keterlaluan, bahkan sudah membuatnya terluka.
Zee bangun dan berdiri tegak, Zee menatap tajam kepada seluruh teman-temannya Liora termasuk Liora nya sendiri.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
Satu like dari kalian, itu sangat berarti buat othor agar othor tetap semangat up nya.
__ADS_1