
Jefry menarik nafasnya, setelah keluar dari ruangan kepala sekolah. Setelah pembicaraannya dengan kepala sekolah, Jefry akan menuntut sekolahan ini dan Jefry pastikan akan menghukum orang yang sudah membuat masalah ini.
"Apa Yogi sudah memberi laporan mengenai Zee," tanya Jefry yang sembari berjalan keluar dari ruang guru.
"Belum, Tuan."
"Hubungi dia, dan pastikan dia terus mengikuti Zee, dan segera melapor jika ada sesuatu yang buruk mengenai Zee."
"Baik, Tuan. Saya akan menelpon Yogi."
Jefry masuk ke dalam mobilnya, begitupun juga dengan Gunawan. Meninggalkan sekolahan ini. Tujuannya saat ini adalah pergi ke pengacaranya, untuk membantu menyelesaikan kasus perundungan yang menimpa Zee.
***
Marshall dan Zee, tiba di rumah Marshall. Marshall langsung mengajak Zee masuk ke rumahnya. Saat sudah di dalam rumah, Marshall terkejut dengan adanya Liora di rumahnya dan di ruangan itu ada Aries dan Hana.
Marshall melihat air muka Ayahnya sangat dingin. Marshall sudah bisa menebak penyebabnya apa, pasti Liora mengadu ke orang tuanya mengenai siapa Zee. Marshall mengeratkan genggaman tangannya terhadap Zee.
"Bang... Ayah minta... Kamu putusin pacar kamu itu." Ucap Aries dingin dan tanpa basa-basi.
"Maaf, Yah. Sampai kapanpun, Abang nggak akan putusin Zee." Marshall mengucapkan dengan kata tegas dan jelas, Marshall menolak permintaan ayahnya.
"Buat apa kamu pertahankan pacar kamu, yang hanya seorang wanita murahan. Bahkan ibunya saja seorang mucikari. Ayah nggak mau Abang menjalin kasih dengan dia," ketus Aries seraya menunjuk Zee.
"Zee bukan wanita seperti itu. Zee wanita baik-baik, walaupun ibunya memang seorang mucikari. Bukan berarti Zee juga seorang wanita murahan."
"Darimana Abang tahu, kalau dia wanita baik-baik. Sedangkan Liora pernah melihat Zee dengan laki-laki lain dan malah melakukan hal tidak senonoh di dalam toilet."
Zee hanya menundukkan kepalanya, mencoba menahan air matanya yang berdesakan untuk keluar dari sumbernya.
Marshall melirik tajam Liora. Ia semakin membencinya.
"Karena Abang percaya Zee dan apa yang di katakan Liora belum tentu itu kebenarannya."
"Jadi Abang menuduh Liora berbohong, begitu! Harusnya Abang sadar, siapa Zee. Ayah tidak mau tahu apapun alasannya, ayah cuma minta putusin zee sekarang juga! Zee itu nggak pantas buat kamu!" Sentak Aries yang sudah terlihat geram.
Zee menarik tangannya dari genggaman tangan Marshall, dan demi kebaikan bersama, Zee akan mundur dari kehidupan Marshall. Mengalah bukan berarti kalah, tapi Zee tidak mau kalau Marshall menjadi anak yang tidak penurut sama orang tuanya.
"Om... Om tenang saja. Aku akan tinggalkan Marshall dan... Aku akan mutusin Marshall," ucap Zee dengan suara bergetar.
"Nggak! Kamu ngomong apaan sih! Sampai kapanpun aku nggak akan membiarkan kita ini putus." Marshall jelas menolak keinginan Zee.
__ADS_1
"Maaf, tapi... ini demi kebaikan bersama. Permisi...."
Zee langsung keluar dari rumahnya Marshall. Sudah cukup baginya melihat penolakan orang tua Marshall terhadapnya. Mungkin memang benar kalau berpisah adalah jalan yang terbaik demi hubungannya dengan Marshall.
"Zee...!!"
Marshall akan mengejar Zee keluar, ia tidak akan membiarkan Zee pergi begitu saja.
"Abang, berhenti!" Teriak Aries menahan Marshall agar tidak mengejar Zee.
"Biarkan dia pergi! Ayah minta sekarang kamu masuk ke kamar!"
Marshall tidak memperdulikan perkataan ayahnya dan ia tetap mengejar Zee. Dengan langkah cepat Marshall mengejar Zee.
"Zee berhenti!!" Marshall langsung menahan tangan Zee.
"Aku mohon jangan pergi. Kamu harus tetap bertahan bersamaku. Aku akan berjuang meluluhkan hati ayahku agar bisa menerimamu lagi." Ucap Marshall berusaha meyakinkan Zee.
"Maaf, mungkin ini yang terbaik buat hubungan kita dan benar apa kata ayah kamu, kalau aku itu nggak pantas bersanding dengan kamu."
"Jangan ngomong kayak gitu. Kamu itu pantas bersanding denganku. Ayolah Zee, kita harus berjuang mempertahankan cinta kita." Mohon Marshall.
Marshall benar-benar tidak mau kehilangan Zee. Ia sudah sangat mencintai Zee.
"Masuklah... Jangan biarkan ayah kamu kecewa sama kamu." Titah Zee sembari menahan air matanya. Sedih itu yang Zee rasakan.
"Aku nggak peduli dengan perasaan ayahku. Justru aku kecewa melihat kamu menyerah begitu saja."
Ya... Benar. Marshall kecewa dengan keputusan Zee yang tidak mau memperjuangkan cinta mereka berdua.
Zee sudah tidak bisa menahan desakan air matanya. Zee juga tidak mau kehilangan Marshall. Tapi keputusannya untuk berpisah dengan Marshall sudah benar. Mungkin hubungannya dengan Marshall memang harus berakhir sampai disini dan seharusnya sedari awal ia tidak menerima cinta Marshall, padahal Zee tahu akan berakhir seperti apa hubungannya ini.
Ditatapnya wajah Marshall, lelaki yang sangat di cintainya itu. Lelaki yang sudah memberinya banyak warna, lelaki yang selalu ada buatnya.
"Maaf... Sudah membuat kamu kecewa, tapi ini yang terbaik buat kita berdua. Terima kasih... Kamu sudah mengajarkan aku arti cinta yang sebenarnya. Terima kasih, karena kamu sudah memberikan cerita cinta yang sangat manis, dan hari ini aku harus mengakhiri hubungan manis kita."
"Zee...."
"Selamat tinggal...."
Zee langsung berlari meninggalkan Marshall, dengan membawa sejuta rasa sedih yang saat ini di rasakannya.
__ADS_1
Marshall terdiam berdiri melihat Zee pergi menjauh dari hidupnya. Air matanya turun berdesakan membasahi pipinya. Ini pertama kalinya dirinya merasakan yang namanya patah hati. Sungguh sangat sakit hatinya itu.
"Zee...." lirih Marshall.
Hujan pun turun dengan sangat deras. Marshall mengadahkan kepalanya dan membiarkan air hujan menerapa kulit wajahnya. Kini air matanya bersatu dengan air hujan.
Hana segera menghampiri putranya, sembari membawa payung.
"Nak...." Hana menyentuh pundak Marshall yang terlihat sangat menyedihkan. Hati Hana juga sangat sedih melihat anaknya begitu rapuh kehilangan Zee.
Marshall menoleh, lalu Marshall memeluk ibunya itu. Menumpahkan rasa sedihnya di pelukan ibunya.
"Bu... Hati Abang, Bu," bisik Marshall yang terdengar memilukan di telinga Hana.
Hana mengelus punggung Marshall yang bergetar karena menangis.
"Ikhlaskan dia. Jika memang Zee adalah jodohmu, pasti Zee akan kembali kepadamu."
Hana benar-benar tidak tega melihat Marshall yang sesedih ini dan ini kedua kalinya Hana melihat Marshall serapuh ini, setelah dulu kehilangan ibu kandungnya yang pergi untuk selama-lamanya.
"Ayo, kita masuk. Ibu nggak mau Abang sampai sakit."
Marshall mengangguk dan Hana membawa Marshall masuk ke rumah.
***
Zee terus berjalan tak tentu arah. Hatinya sakit dan menyesakan dada. Di bawah derasnya air hujan, Zee menumpahkan kesedihannya.
Hujan turun semakin deras. Sepertinya alam juga sedang bersedih. Zee menatap air hujan yang turun dari langit.
*Hujan... ajarkan aku kuat menahan sakit ini....
Hujan... ajarkan aku kuat melewati kesedihan ini....
Hujan... ajarkan aku kuat menerima ujianmu....
*
*
*
__ADS_1
*
To be continued*....