
"Panggil Janet kesini. Mama mau bicara sama dia," cetusnya memandangi wajah putra sulungnya itu.
Ayah Haris terdiam bingung dengan permintaan Ibunya itu. Apa dirinya harus meminta istrinya itu datang ke rumah sakit dan membiarkan istrinya berbicara dengan ibunya. Bukannya ibunya itu tidak mau bertemu dengan Janet? lalu kenapa sekarang ibunya itu ingin berbicara?
"Ar, kenapa kamu diam? Cepat kamu panggil Janet kesini. Mama mau bicara serius sama dia," pungkasnya dengan nada sedikit memaksa.
"Baiklah. Tapi... Mama mau bicara apa?" Balas ayah Haris dengan rasa ingin tahunya.
"Pokoknya kamu jangan banyak tanya! Mama minta segera telpon Janet dan suruh temui Mama," tegas Bu Cahyani.
"Maaf, ma. Bukannya Mama tidak mau bertemu dengan Janet?" Akhirnya lolos juga pertanyaan tersebut.
"Memang, awalnya memang tidak mau bertemu dengannya, tapi sekarang berubah pikiran. Sekarang cepat hubungi dia dan suruh dia datang kemari."
Dengan terpaksa ayah Haris menelpon Mami Janet dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit.
Dan disinilah sekarang, di rumah sakit dan tengah berdiri di samping ranjang Bu Cahyani dengan tatapan menunduk. Mami Janet tidak berani mengangkat kepalanya, walau sekedar menatap wajah mertuanya itu.
"Ar, tolong tinggalkan kami berdua," minta Bu Cahyani pelan.
Mami Janet menelan Salivanya dan menatap wajah suaminya itu dengan tatapan memohon. Memohon untuk tidak pergi meninggalkannya, tapi sayang seribu sayang permohonannya harus menguap entah kemana karena sekarang Haris mulai melangkah keluar meninggalkan dirinya bersama Bu Cahyani.
Berkali-kali Mami Janet menelan Salivanya dan melirik sekilas ke arah Bu Cahyani yang ternyata tengah menatapnya.
"Kenapa diam saja?" Cetus Bu Cahyani.
Mami Janet tetap diam dan tidak menjawab perkataan Bu Cahyani.
"Apa kamu takut kalau aku akan memisahkan kalian?" Sambungnya lagi.
__ADS_1
"Se-se benarnya anda mau bicara apa?" Pungkas Mami Janet memberanikan diri untuk bertanya.
Bu Cahyani mengalihkan pandangannya dan menatap langit-langit kamar rawatnya, dengan pandangan sesal.
"Apa kamu sangat mencintai, Ar?"
"Iya."
"Kalau gitu, tolong cintai dia dan jagalah dia untukku. Mungkin umurku sudah tidak lama lagi dan hanya kepada kamulah aku meminta untuk tetap bersamanya. Maaf... Maaf atas sikapku dulu yang sudah memisahkan kalian berdua. Mungkin kesalahanku di masa lalu tidak bisa termaafkan."
Kemudian, Bu Cahyani menatap wajah menantunya itu dan tangan Bu Cahyani terulur untuk menggenggam tangan Mami Janet.
Mami Janet hanya diam membisu dan dirinya tertegun mendengar permintaan maaf dari Bu Cahyani, tapi dirinya memberanikan menatap wajah Bu Cahyani.
"Mama minta maaf atas apa yang sudah Mama perbuat di masa lalu. Mama benar-benar minta maaf karena sudah menyakiti kamu dan memisahkan kamu dengan Haris."
Bu Cahyani berucap dengan derai air mata. Dirinya benar-benar menyesali perbuatannya dulu dan karena kesalahannya, Haris harus mengalami koma yang panjang.
Mami Janet pun ikut meneteskan air matanya dan dirinya bisa melihat kedua manik mertuanya itu penuh dengan penyesalan.
"Maafkan Mama...." Ucapnya parau dan tulus.
"Iya, ma. Aku sudah memaafkan Mama," kata Mami Janet dan membalas menggenggam tangan Bu Cahyani.
Rasa sesak yang sejak tadi menghimpit dadanya, kini berubah menjadi kelegaan di hatinya. Sebab kesalahannya yang sudah menghancurkan kebahagiaan anaknya kini sedikit berkurang, walau rasa sesal masih dirasakannya.
"Terima kasih, Janet. Terima kasih...." Ucapnya penuh kelegaan. Walau sudah mendapatkan maaf, tapi hatinya tetap masih ada rasa bersalah.
Mami Janet tak mampu menjawabnya, tapi Mami Janet berkali-kali menganggukkan kepalanya. Rasa bahagia yang kini tengah meluap-luap, karena Bu Cahyani yang akhirnya menerimanya dengan lapang dada dan juga merestuinya untuk hidup bersama Haris.
__ADS_1
Rasa syukur terus terucap di dalam hatinya. Kini Bu Cahyani dan Mami Janet saling peluk dengan Bu Cahyani yang terbaring di atas ranjang.
Bu Cahyani tersenyum lega dan mungkin dirinya bisa tenang bila sewaktu-waktu Tuhan memanggilnya, karena rasa bersalah terhadap Janet kini sudah termaafkan. Hatinya plong dan tidak terus merasa di hantui oleh rasa bersalah.
"Sekali lagi, Mama minta maaf," ucapnya sungguh-sungguh.
"Iya, Ma. Sudah lupakan yang sudah terjadi dan sekarang Mama lebih baik memikirkan kesehatan Mama. O iya... Aku mau kenalin seseorang sama Mama. Tunggu sebentar aku panggilkan dulu."
Mami Janet segera melangkahkan kakinya menuju keluar seraya mengusap air matanya yang masih membasahi pipinya.
Mami Janet tersenyum begitu melihat Zee tengah duduk bersama suaminya.
Ayah Haris yang melihatnya keluar segera berdiri dan menghampiri dirinya dengan wajah cemas.
"Kamu baik-baik saja?"
Mami Janet mengangguk cepat seraya menampilkan senyumannya.
"Syukurlah," ucap ayah Haris lega.
"Terus mama bicara apa saja? Apa ada kata-kata yang menyakiti hati kamu?" Ayah Haris kembali bertanya.
Mami Janet menggelengkan kepalanya.
"Justru Mama sekarang merestui pernikahan kita," cetus Mami Janet. "Dan Mama juga meminta maaf kepadaku."
Ayah Haris terkejut mendengar perkataan istrinya itu. "Kamu serius?" Ucapnya yang belum percaya dengan perkataan Mami Janet.
Mami Janet mengangguk ." Aku serius dan nggak bohong dan aku melihat ketulusan mama saat mengatakannya."
__ADS_1
"Alhamdulillah. Akhirnya Mama marestui pernikahan kita dan menyesali kesalahannya dulu," ucap ayah Haris penuh syukur.
Mami Janet tersenyum bahagia, karena kini sudah tidak ada lagi penghalang dalam rumah tangganya dan juga bisa hidup dengan tenang. Tidak ada lagi rasa takut yang selama ini dirasakannya dan sekarang berubah menjadi kebahagiaan.