
Seminggu sudah Haris tinggal bersama anak dan istrinya dan Jefry sudah kembali lagi ke ibu kota sejak lima hari yang lalu. Sampai hari ini Haris belum berhasil meluluhkan hati Mami Janet dan sudah berbagai cara Haris lakukan untuk meluluhkan hati wanitanya, tapi tidak berhasil juga.
Saat ini Haris tengah duduk di teras rumah sembari berpikir, cara apalagi yang harus dirinya lakukan agar hati Mami Janet luluh.
"Ayo berpikir, Ar," ucap Haris kepada dirinya sendiri.
"Ayah! Kenapa ayah terlihat kusut begitu?" Tanya Zee yang baru pulang sekolah.
Zee menyalami punggung tangannya Haris dan duduk di kursi satu lagi. Zee masih memperhatikan ayahnya itu.
"Ayah bingung. Ayah sudah berusaha meluluhkan hati ibumu, tapi... Sampai detik ini ibumu masih tetap jutek dan belum memaafkan ayah. Padahal ayah sudah berusaha meluluhkan hati ibumu," keluh Haris dan Zee bisa menangkap ada rasa putus asa dari diri ayahnya.
"Zee, apa yang harus ayah lakukan. Masa iya, ayah menyerah begitu saja. Tolong bantu ayah, Zee...." Haris mengiba kepada anaknya itu. Haris sudah buntu mencari cara lain.
"Mmm...." Zee mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagunya dan berpikir bagaimana caranya membantu ayahnya.
"Gimana? Apa kamu punya ide?" Harus kembali bertanya.
"Nanti aku pikirkan lagi, bagaimana caranya meluluhkan hati ibu. Aku masuk dulu, mau ganti baju. O iya... Setelah ini aku mau ke rumah Dinda."
"Iya, tapi jangan kelayapan kemana saja," tukas Haris memperingati Zee.
"Iya...."
***
Zee sudah berada di rumah Dinda dan tengah tiduran di kamarnya. Dinda adalah teman sekolahnya sekaligus saudara Zee, anak bungsu dari bibi Na.
"Din, aku mau ngomong sama kamu," ucap Zee yang kini memiringkan tubuhnya menghadap Dinda.
"Ngomong apa?" Sahut Dinda yang tengah membaca novel di handphonenya.
"Ini soal ayah. Sampai detik ini ibu masih jutek sama ayah dan belum memaafkan ayah, sedangkan ayah sudah berusaha meluluhkan hati ibu. Kira-kira kamu punya ide nggak, bagaimana caranya membantu ayah," curhat Zee.
"Apa ya...." Dinda tengah berpikir keras, ide apa yang bisa membantu ayahnya Zee.
"Aah...." Dinda menjentikkan jarinya dan tersenyum karena sudah mendapatkan ide yang bagus.
"Sini aku bisikin." Dinda kemudian berbisik dan Zee mengangkat alisnya dengan mata yang berbinar. Kemudian Zee tersenyum menatap Dinda.
"Bagaimana?" Kata Dinda seraya menaik turunkan alisnya.
"Oke, aku setuju. Ayo, kita temui sekarang. Aku jadi nggak sabar melihat reaksi ibu, kira-kira bakal marah atau biasa saja," cetus Zee penuh antusias.
__ADS_1
"Pasti marahlah! Sudah, lebih baik kita segera menemui orangnya." Timpal Dinda yang langsung melangkah keluar kamar dan di ikuti oleh Zee.
Disinilah Zee dan Dinda. Di depan rumah seorang wanita janda yang di tinggal selingkuh oleh suaminya.
Dinda mengetuk pintunya dan terbukalah pintunya oleh si pemilik rumah.
"Dinda! Kamu ngapain kesini?" Tanya Rika, wanita cantik berumur tiga puluh lima tahun dan memiliki satu anak.
"Aku mau bicara sama Mba. Bisa?"
"Mau bicara apa?" tanyanya.
"Tapi ngomongnya di dalam, jangan disini," pinta Dinda.
"Ayo masuk."
Zee dan Dinda masuk ke dalam dan langsung duduk di sofa.
"Jadi kamu mau ngomong apa?" Rika kembali bertanya kepada Dinda.
"Aku kesini, sebenarnya mau meminta bantuan, Mba," ucap Dinda.
"Bantuan apa?"
"Gini... Mba maukan pura-pura menggoda ayahnya Zee. Soalnya ibu dan ayahnya Zee sedang tidak akur dan ayahnya Zee sudah berusaha meluluhkan hati ibunya Zee, tapi susah meluluhkan hatinya," terang Dinda, mengungkapkan tujuannya.
"Bisa ya Mba...." Mohon Zee dengan tatapan puppy eyes.
"Baiklah. Tapi ada bayarannya nggak?"
"Ada," jawab Zee cepat.
"Oke. Terus kapan aku memulainya." Rika bertanya lagi kepada Zee.
"Kalau bisa hari ini."
***
Sesuai dengan rencananya. Rika datang ke warung Mami Janet dan menggunakan pakaian ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang molek. Zee juga sudah memberi tahu perihal rencananya kepada Haris dan Zee meminta ayahnya menuruti permainan Rika.
Rika duduk sembari celingak-celinguk mencari Haris dan muncullah Haris dari arah belakang. Rika tersenyum melihat incarannya kini melangkah ke depan.
"Mas Haris...." Panggil Rika dengan suaranya yang di buat semerdu mungkin.
__ADS_1
Mami Janet mengernyitkan dahinya, melihat Rika mengenal Haris dan di dalam hatinya bertanya-tanya darimana Rika tahu nama Haris. Sedangkan dirinya tidak pernah melihat Haris pergi keluar rumah, kecuali mengantarkan dirinya ke pasar.
"Iya, kenapa, Mba?" Jawab Haris mendekati Rika yang duduk di seberangnya.
"Boleh temani aku ngobrol," kata Rika.
"Boleh. Memangnya mau ngobrol apa?" balas Haris.
"Ngobrol apa saja, tapi... Mas Haris duduknya disini, jangan di situ." Rika menyuruh Haris duduk di sampingnya.
Mami Janet yang tengah melayani pembeli, melirik Haris dan Rika yang terlihat akrab.
Haris pun menuruti perkataan Rika. Padahal dirinya belum pernah bertemu dengannya. Tapi demi Mami Janet cemburu, Haris harus melakukannya. Haris kini duduk di samping Rika dan Rika tersenyum genit melihat Haris berada di sampingnya.
"Ternyata kalau di lihat dari dekat kayak gini, mas Haris terlihat lebih ganteng dan gagah," cetus Rika sembari mengulum senyumnya dan pundaknya menyenggol pundak Haris.
"Ah, masa... Padahal saya sudah tua loh," balas Haris dan matanya melirik Mami Janet.
Di dalam hatinya Haris tengah tersenyum, karena dirinya melihat Mami Janet tengah mencebikan bibirnya.
"Mba juga cantik dan masih muda," balas Haris dan sengaja mengucapkannya dengan suara lantang.
Prang
Haris dan Rika terkejut mendengar wadah sayur yang sudah kosong terjatuh ke lantai. Haris semakin senang melihat Janet terlihat kesal, apalagi barusan Mami Janet sengaja menjatuhkan wadah sayur yang sudah kosong.
"Mas Haris, hari ini ada waktu nggak?" Ucap Rika manja dan tangannya mengelus lengan kekar Haris.
Prang
Lagi-lagi Mami Janet menjatuhkan sendok sayur dan melirik tajam Haris dan tidak lupa bibirnya semakin mencebik kesal.
"Nggak. Hari ini aku free," jawab Haris penuh semangat. Semangat membuat wanitanya cemburu.
"Kalau gitu, kita bisa jalan dong."
"Bisa, memangnya mau jalan sama aku." Rika mengangguk sembari tersenyum genit.
" Kalau gitu, kita langsung berangkat saja," tukas Rika dan menarik tangan Haris.
"Oke...."
Haris pun bangun dari duduknya dan Rika sengaja melingkarkan tangannya di lengan Haris, sembari melemparkan senyum genitnya.
__ADS_1
Mami Janet semakin geram melihat Haris jalan berdua dengan wanita lain, lalu Mami Janet membanting lagi wadah sayur itu dengan wajah menahan marah, lebih tepatnya cemburu.
"Awas kamu!" geram Mami Janet.