
Sekitar pukul tiga pagi, keluarga ayah Haris dan Jefry tiba di rumah Bu Cahyani. Rumah yang sudah lama tak di kunjunginya, semenjak berkumpul lagi bersama keluarga kecilnya.
Suasana di rumah tersebut sangatlah sepi, apalagi sang pemilik rumah tengah berada di rumah sakit.
Zee masih tertidur dan bersandar ke bahu ayahnya.
"Zee, bangun nak. Kita sudah sampai." Ayah Haris menepuk pipi Zee perlahan.
"Hemm...." Sahutnya menggeram dan tetap melanjutkan tidurnya di bahu ayah Haris.
"Zee, bangun." Sekali lagi ayah Haris membangunkan Zee yang masih betah nemplok di bahunya.
Zee pun mengerjapkan matanya yang terasa lengket itu dan menyimpitkan matanya, menyesuaikan pandangannya yang masih mengabur.
"Ayo bangun, kita sudah sampai di rumah Nenek," ucap ayah Haris lembut.
Zee meregangkan tubuhnya dan menatap sekeliling halaman rumah tersebut dari dalam mobil.
"Ini rumah ayah?" Tanya Zee, yang terkagum melihat rumah mewah tersebut. Pandangan Zee kini teralihkan kepada ayah Haris dan meminta penjelasan.
"Iya. Ayo kita turun," ajak ayah Haris dan Zee pun turun dari mobil.
"Wow...! Ternyata rumah ayah besar banget," seloroh Zee yang terkagum-kagum melihatnya.
"Ayo Zee masuk," ajak Jefry dan Zee mengikuti langkah Jefry memasuki rumah tersebut. Mata Zee terus menjelajahi isi rumah, ketika Zee sudah masuk di dalam rumah.
"Selamat datang kembali, Tuan," sambut Mbok Cicih dan Mba Imah seraya sedikit membungkukkan tubuhnya. Mereka berdua dan beberapa pekerja yang lain sengaja bangun demi menyambut Tuannya yang sudah lama tidak berjumpa.
"Iya. Gimana kabar kalian?" Balas ayah Haris kepada ART nya.
"Baik, Tuan," jawab Mbok Cicih seraya menyunggingkan senyumnya.
"Mba Imah, tolong tunjukkan kamarnya Zee," suruh Jefry.
__ADS_1
"Baik, Tuan Muda. Mari Non...."
Mba Imah membawa tasnya Zee dan menunjukkan letak kamarnya Zee yang berada di lantai dua. Sedangkan Mbok Cicih dan yang lainnya kembali ke kamarnya.
Ayah Haris dan Mami Janet, sudah berada di kamarnya. Barang bawaannya di letakkan begitu saja di lantai. Mami Janet duduk di tepi ranjang dan kedua tangannya saling bertautan. Hati Mami Janet sampai sekarang pun masih risau, apalagi mertuanya itu tidak mengharapkan dirinya.
"Kenapa?" Tanya ayah Haris, yang menyentuh pundak Mami Janet dan berdiri di sisinya.
Mami Janet menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut.
"Katakan, jika membuat hati kamu resah," kata ayah Haris, yang memahami kekhawatiran istrinya itu.
"Aku cuma takut," ungkap Mami Janet. " Takut kalau Mama meminta kamu meninggalkan aku lagi."
Ayah Haris menggenggam tangan Mami Janet dan mengelus punggung tangan Mami Janet lembut.
"Kamu nggak usah khawatir dan semua yang kamu takutkan tidak akan terjadi."
Kemudian ayah Haris menarik tubuh Mami Janet ke pelukannya. Ayah Haris berusaha menenangkan kekhawatiran istrinya itu.
Sudah sekitar tiga puluh menit, ayah Haris tidak bisa memejamkan matanya. Sedangkan Mami Janet sudah terlelap tidur. Ayah Haris memandangi langit-langit kamarnya, sembari memikirkan ketakutan Mami Janet. Karena tidak bisa tidur, ayah Haris memilih bangun dan melangkah ke kamar mandi. Dengan mandi siapa tahu otaknya menjadi lebih fresh.
Selesai mandi, ayah Haris melirik Mami Janet yang masih terlelap. Ia kemudian memilih keluar kamar dan melangkah ke arah dapur.
"Tuan, mau di buatkan apa?" Tanya Mbok Cicih yang ternyata sudah mulai bekerja.
"Buatkan saya kopi dan antarkan ke teras belakang," ucapnya.
"Baik, Tuan."
Ayah Haris segera melangkahkan kakinya menuju teras belakang, meski di luar masih gelap ayah Haris tidak peduli. Didudukkan nya bokongnya itu ke kursi besi dan tidak lama Mbok Cicih datang membawa secangkir kopi.
"Ini Tuan kopinya." Diletakkannya kopi tersebut di meja kecil.
__ADS_1
"Terima kasih, Mbok."
"Sama-sama, Tuan."
Ayah Haris segera meminum kopi tersebut, setelah itu ayah Haris duduk terdiam sembari menanti matahari memancarkan biasnya.
***
Ayah Haris dan Jefry berangkat ke rumah sakit bersama. Dengan langkah lebar, keduanya melangkah menuju kamar rawat Bu Cahyani.
Di bukannya pintu kamar rawat dan hati ayah Haris mencelos melihat ibunya itu yang terbaring di atas ranjang dengan beberapa alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
Ayah Haris mendekati Bu Cahyani yang tergolek tak berdaya di atas ranjang. Di genggamannya tangan keriput itu dan di cium punggung tangan Bu Cahyani. Setetes air matanya menetes tanpa bisa dicegah.
"Ma...." Panggilnya lirih.
Bu Cahyani mengerjapkan matanya perlahan dan membuka matanya, lalu Bu Cahyani tersenyum begitu melihat anak yang sangat di rindukannya sudah berada di sampingnya.
"Ar...." Panggilnya lemah dan sangat lirih. " Kamu sudah datang."
" Iya, ma. Ini aku sudah datang untuk menemani Mama," pungkasnya lembut.
"Mama senang kamu datang menemui Mama. Selama ini Mama sangat merindukan kamu."
"Aku juga merindukan Mama."
Kemudian Bu Cahyani mengedarkan pandangannya dan mencari sosok yang selama ini ia benci.
"Janet tidak ikut?" Tanyanya dengan kening mengkerut.
"Tidak, ma," jawab ayah Haris.
Bu Cahyani menghela nafasnya secara perlahan sembari memejamkan matanya.
__ADS_1
"Panggil Janet kesini. Mama mau bicara sama dia," cetusnya memandangi wajah putra sulungnya itu.