
Setelah selesai dengan serangkaian acara, Zee memilih mengistirahatkan tubuhnya sebelum lanjut ke acara resepsi yang akan diadakan pada malam hari.
Zee yang saat ini di temani oleh Aisyah, tengah membantu Zee membuka hiasan yang ada di kepalanya.
"Banyak banget jepit rambutnya," cetus Aisyah yang membuka jepit rambut.
"Aku nggak nyangka kalau sekarang kak Zee jadi kakakku," sambung Aisyah yang masih fokus dengan kepalanya Zee.
Zee tersenyum mendengarnya. Sebenarnya Zee juga tak percaya kalau sekarang ini dirinya sudah menjadi seorang istri dari lelaki yang sangat dicintainya.
"Aku mau kasih kado buat pernikahan kakak, tapi kado dariku khusus buat kak Zee. Nanti malam kakak buka ya kadonya."
Aisyah mengambil kadonya yang tadi diletakkan di atas ranjang, lalu kado tersebut diberikan kepada Zee.
"Terima kasih, Ais." Ucap Zee dan Aisyah mengangguk.
"Jangan lupa di buka nanti malam. Semoga kak Zee suka, terutama si Abang."
"Maksudnya, gimana?"
"Nanti juga kak Zee ngerti kalau kado ini sudah di buka."
Marshall masuk dan tersenyum kepada sang istri. Marshall mendekati Zee yang tengah duduk di depan meja rias. Lalu Marshall mencium pipi Zee mesra dan tidak memperdulikan keberadaan Aisyah.
"Mentang-mentang sudah sah. Seenaknya saja main cium. Ingat woy! Disini ada yang masih di bawah umur!" Sungut Aisyah yang mendelik menatap Marshall.
"Bodo! Emang Abang pikirin," jawab Marshall, yang kini malah memeluk Zee dari belakang.
"Ck...." Sebal Aisyah.
Marshall langsung menjulurkan lidahnya kepada Aisyah. Membuat Aisyah merengut kesal.
"Aku mending pergi saja deh dari sini. Daripada jadi obat nyamuk." Sungut Aisyah.
"Sana-sana pergi." Usir Marshall sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
"Iya, aku pergi!" Kesal Aisyah, yang bergegas menuju pintu.
__ADS_1
"Kak Zee, jangan lupa dibuka kadonya." Aisyah mengingatkan Zee lagi dan Zee menganggukkan kepalanya. Setelah itu Aisyah keluar dari kamar pengantin.
Merasa sudah tidak ada yang mengganggunya, Marshall berniat mencium bibir ranum Zee. Marshall mendekatkan wajahnya ke wajahnya Zee, satu centi lagi bibirnya mendarat di bibirnya Zee. Tiba-tiba pintunya terbuka lagi. Membuat Marshall menarik diri dan tidak jadi mencium Zee.
"Kak Zee, jangan lupa ya. Satu lagi jangan mau di apa-apain sama cowok rese itu," ucap Aisyah, sembari cengengesan. Apalagi melihat Marshall yang menggeram kesal terhadapnya. Aisyah menutup pintunya kembali.
"Dasar adik tak tahu diri," sungut Marshall, lalu Marshall berniat mencium Zee lagi, tapi lagi-lagi Aisyah membuka pintunya.
"Kak Zee, jangan lupa ya."
Zee mengangguk sembari mengulum senyumnya melihat Marshall yang kesal terhadap Aisyah.
"Ais...!!" Murka Marshall dan menatap Aisyah tajam setajam pisau.
"Jangan marah, ya...." ledek Aisyah, dan setelah itu Aisyah tertawa terbahak-bahak.
"Ais...!!" Teriak Marshall yang akan mendekatinya.
"Kabuuurr...." Seraya menutup pintunya.
"Awas kamu, Ais. Kali ini ganggu lagi, aku patahin bulu ketek kamu," kesal Marshall.
"Sudah marahnya?"
"Hmm...." Kemudian Marshall membalikkan badannya menghadap ke Zee. Marshall membalas pelukannya, lalu Marshall mendekatkan lagi wajahnya.
Pintu pun terbuka lagi. Marshall menutup matanya dan menggeram kesal, siap memelintir lehernya Aisyah.
"Kalian ini tidak sabaran banget sih!" Ucap Hana, yang datang untuk memberitahu kalau MUA sebentar lagi datang.
"Ibu...." Canggung Marshall, sedangkan Zee memalingkan wajahnya malu, karena kepergok oleh ibu mertuanya.
"Zee, cepat kamu mandi. Sebentar lagi orang MUA datang dan Abang mandinya di kamar ibu." Lanjut Hana.
Dengan lesu Marshall menganggukkan kepalanya, menuruti perintah sang mulia agung. Zee segera melangkah ke kamar mandi dan Marshall pergi meninggalkan kamarnya.
"Gagal lagi gagal lagi," gerutu Marshall, mendengus kesal.
__ADS_1
***
Acara resepsi pun tiba. Marshall dan Zee berjalan di karpet merah, melewati para tamu undangan yang menatap kagum melihat raja dan ratu sehari.
" Itu beneran, Zee?" Cetus Dhika, yang terkagum-kagum melihat kecantikan Zee yang memukau. "Boleh nggak sih, kalau gue saja yang berdiri di samping Zee."
Plak
Sebuah jitakkan mendarat di kepala Dhika, membuat Dhika mendengus kesal terhadap Byan.
"Kalau kedengaran oleh Marshall, kamu bisa di cekik," omel Byan.
Saat sedang kesal, Dhika menatap Aisyah dan membuat jiwa Playboy nya kembali tergugah. Dhika tersenyum melihat Aisyah, yang malam ini sangat cantik.
Lagi-lagi Byan menjitak kepala Dhika.
"Byan...!" kesal Dhika.
"Jangan lihatin Ais. Nanti Om Aries bakal menghajar kamu. Kamu kan seorang playboy cap bebek." Ucap Byan.
"Iya-iya," sungut Dhika. Sigit dan Jojo tertawa melihat Dhika lagi-lagi ditegur oleh Byan.
"Ayo, kita segera mengucapkan selamat untuk Marshall dan Zee," ajak Byan, seraya menarik leher Dhika.
Byan, Dhika, jojo dan Sigit mengantri untuk bersalaman dengan sang pengantin. Setelah cukup lama mengantri, akhirnya kini giliran mereka berempat bersalaman dengan Marshall dan Zee.
"Selamat ya, Shall. Akhirnya kamu bisa bersanding dengan Zee. Semoga kalian berdua menjadi keluarga SAMAWA dan secepatnya mendapatkan momongan," ucap Byan.
"Thanks, By." Lalu Byan memeluk Marshall.
"Selamat menempuh hidup baru, bro," ucap Dhika. "Shall, nanti jika kamu buka segelnya dan kamu kesusahan membukanya, kamu bisa hubungi gue. Gue siap membantu kamu membuka segelnya," ucap Dhika.
"Sialan, elo!" Seraya meninju lengan Dhika. Byan, Jojo dan Sigit menggelengkan kepalanya mendengar celotehan Dhika.
Setelah itu giliran Jojo dan Sigit mengucapkan selamat atas pernikahannya.
Pesta resepsi pun semakin meriah dan semakin banyak tamu undangan yang hadir. Meski pegal harus terus berdiri, tapi hati kedua insan ini sangat bahagia.
__ADS_1
Bahagia yang selama ini Marshall dan Zee kejar, untuk terus bersama-sama bergandeng tangan meraih impian membangun rumah tangga yang sempurna.