Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Putus


__ADS_3

Brugh....


Liora jatuh tersungkur ke lantai, karena Zee kini membalas apa yang di perbuat Liora terhadapnya. Awalnya Zee tidak mau menanggapi perbuatan Liora, tapi dia sendiri yang memancingnya naik menjadi sebuah kemarahan.


"Aww.... " Pekik Liora saat bokongnya mencium lantai.


"Liora!!" Jerit teman-temannya.


Cepat-cepat Popi dan Enzi menolong Liora yang jatuh ke lantai.


"Kurang ajar kamu!" Berang Hanum menatap Zee.


"Apa...!" Seru Zee seraya mendorong bahu Hanum. Zee tidak takut dengan mereka semua.


Liora sudah bangun dan langsung nyerang balik Zee. Rambut Zee di tarik kuat oleh Liora.


"Aww...." ringis Zee sembari menahan tangan Liora.


"Pegang dia!" Suruh Liora kepada teman-temannya.


Kedua lengan Zee di jagal oleh Hanum dan Enzi, sedangkan Liora semakin kuat menarik rambut Zee. Zee semakin meringis, tapi Zee nggak tinggal diam dengan perbuatan Liora dan teman-temannya. Zee harus terbebas dari perbuatan kejam mereka, lalu kaki Zee menendang lutut Liora.


"Aduh...!! Sialan kamu!" Ringis Liora yang kesakitan.


Lalu Zee menginjak kaki Hanum sekuat tenaga. "Aww...! Sakit!!" Jerit Hanum dan langsung mengangkat kakinya yang di injak Zee.


Cekalan Hanum terlepas dan ini memudahkan Zee menyerang Enzi. Zee langsung menghadiahi Enzi sebuah cakaran yang tersayat di pipi mulusnya. Enzi juga kesakitan dengan cakaran yang di dapatnya. Liora semakin menggertakkan giginya melihat kedua temannya dapat di kalahkan oleh Zee dengan mudah.


Liora celingak-celinguk mencari sesuatu, pandangannya kini tertuju ke sabun cuci tangan. Liora dengan cepat menyambarnya dan membukanya, kemudian sabun cuci tangan itu di siram ke wajah Zee dan seketika mata Zee terasa perih karena kena air sabun cuci tangan.


"Argh...." Pekik Zee yang langsung menutup matanya perih.


Liora tersenyum jumawa, melihat Zee menutup kedua matanya yang perih. Liora maju dan menampar Zee.


PLAKK


Tamparan kali ini cukup keras, lalu Liora menarik baju Zee hingga kancing bajunya terlepas dan berhamburan.


***


Sebelum Tieta pulang, Tieta melihat Zee di tarik oleh Liora dan teman-temannya dan membawanya ke toilet yang sudah sepi. Tieta yang penasaran, mengikutinya dan melihat apa yang di lakukan Liora dan teman-temannya.


Aku harus beri tahu Marshall.


Tieta bergegas lari mencari Marshall di parkiran motor.

__ADS_1


"Shall...!!" Teriak Tieta memanggil Marshall yang akan menaiki sepeda motornya. Tieta berlari cepat mendekati Marshall.


"Ada apa?" Tanya Marshall karena tidak biasanya Tieta memanggilnya dan Marshall melihat air muka Tieta terlihat cemas.


"Itu... Liora. Aku melihat Liora dan teman-temannya lagi ngeroyok Zee di toilet," ujar Tieta.


"Apa?!"


Marshall langsung berlari menuju toilet dan di ikuti oleh Tieta. Dari luar toilet, Marshall sudah mendengar keributan di dalam toilet, bahkan Marshall mendengar suara jeritan Zee.


"Berhenti !!" Teriak Marshall yang sudah berdiri di ambang pintu toilet. Tatapan Marshall tajam menatap Liora dan teman-temannya. Rahang Marshall mengeras menahan emosi.


Liora menelan Salivanya melihat Marshall yang berdiri di ambang pintu toilet.


Marshall membuka jaketnya, karena melihat baju Zee basah dan terkoyak karena kancing bajunya terlepas.


"Tieta, bawa Zee keluar dari sini dan pakaian jaket ini ke Zee," titah Marshall seraya memberikan jaketnya ke Tieta.


Tieta pun mengangguk dan menyambar jaket Marshall, lalu Tieta masuk dan menutupi tubuh depan Zee dengan jaket. Setelah itu Tieta membawa Zee keluar dari toilet.


"Shall... Aku--" seraya melangkah mendekati Marshall.


"Stop!" Hardik Marshall yang geram dengan perbuatan tak terpuji Liora dan teman-temannya.


"Aku nggak nyangka kalau kamu bisa berbuat sejahat ini sama orang yang tidak bersalah," geram Marshall.


"Tapi nggak kaya gitu juga caranya! Ini sudah sangat keterlaluan dan nggak bisa di tolerin lagi. Perbuatan kamu sudah di luar batas dan aku sudah nggak bisa memaafkan perbuatan kamu ini." Kesal Marshall seraya menggelengkan kepalanya, dirinya benar-benar tak menyangka kalau Liora akan berbuat senekat ini. Biasanya Liora hanya akan menggertak saja jika ada yang mendekatinya, tapi kali ini entah setan apa yang merasuki pikirannya sampai-sampai Liora bisa berbuat kejam.


"Kecemburuan kamu tak berdasar ini membuat aku muak dengan sifat kamu. Aku kecewa dengan perbuatan kamu ini yang tak berperikemanusiaan." Marshall menarik nafasnya. " Mulai sekarang kita putus."


"Apa?! Nggak, aku nggak mau putus sama kamu!" tolak Liora.


"Maaf... Keputusanku sudah mantap. Kita putus."


Kemudian Marshall pergi meninggalkan Liora dan teman-temannya.


"Nggak! Shall, aku nggak mau putus!" Lantang Liora sembari mengejar Marshall.


Sambil menangis, Liora terus mengejar Marshall dan memohon agar tidak putus dengannya.


"Shall, aku mohon jangan putusin aku. Aku cinta sama kamu. Aku janji nggak akan ngulangi lagi, tapi aku mohon jangan putusin aku," ucap Liora penuh dengan permohonan sembari memegang tangan Marshall.


Marshall menghentikan langkahnya dan menatap kesal mantan kekasihnya itu. Marshall menarik tangannya yang di pegang oleh Liora.


"Keputusanku tidak bisa di ubah, jadi mulai sekarang kamu bukan lagi pacarku lagi." Tegas Marshall, kemudian dengan langkah lebar, Marshall meninggalkan Liora yang menangis sendu.

__ADS_1


Liora langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai, seraya menangisi hubungannya yang kandas.


***


Marshall langsung menemui Zee dan Tieta yang tengah duduk di bangku panjang depan kelas. Marshall langsung duduk di samping Zee. Tatapan mata Marshall tertuju kepada kening Zee yang benjol dan pipi yang yang merah. Marshall menghela nafasnya, mengingat jahatnya perbuatan Liora.


"Bagian mana lagi yang sakit?" Tanya Marshall.


"Aku lihat lututnya memar." Tieta yang menjawabnya.


Marshall langsung melihat lutut Zee yang memar.


"Aku nggak apa-apa," jawab Zee dan bangun dari duduknya.


"Tieta, terima kasih sudah membantuku dan kamu... Terima kasih juga sudah menolongku. Aku pulang duluan," pamit Zee.


"Iya, sama-sama," balas Tieta.


"Tunggu! Aku antar kamu pulang," cekal Marshall menahan tangan Zee.


"Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri, dan aku nggak mau ada kesalahpahaman lagi. Permisi...."


Marshall langsung mengejar Zee cepat dan mencekal tangan Zee.


"Nggak ada penolakan. Pokoknya aku akan tetap antar kamu pulang. Sekalian nanti aku belikan obat buat kamu."


"Tapi--,"


"Nggak ada tapi-tapian. Aku akan tetap memaksa kamu." Tegas Marshall.


Tiba di parkiran motor, Marshall menaiki motornya.


"Cepat naik," titahnya, karena Zee tidak segera naik ke boncengan motornya. Zee mendengus dan terpaksa naik ke motor Marshall.


Marshall langsung melajukan motornya membelah jalanan, melawan panas dan macet. Sebelum berbelok ke arah jalan pahlawan, Marshall menghentikan motornya di apotek.


"Kamu tunggu di sini. Aku beli obat buat luka kamu."


"Iya...." Angguk Zee.


Dengan segera Marshall membeli obat luka dan setelah itu, langsung kembali menjalankan motornya ke kosan Zee.


🌺🌺🌺🌺


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2