Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Rencana pindah


__ADS_3

Dua jam sudah, Zee menemani ibunya dan sekarang keadaan ibunya sudah baik-baik saja. Mami Janet sudah di perbolehkan pulang oleh dokter dan Joko sudah mengurus administrasinya.


Zee memapah ibunya yang terlihat lesu dan tidak semangat. Beliau tengah memikirkan bagaimana dengan rumah indehoy nya yang sudah di bangunnya dengan susah payah. Apalagi rumah itu adalah peninggalan dari orang yang sudah menolongnya dan Mami Janet sudah berjanji akan meneruskan usaha Madam Lili, tapi... Sekarang Mami Janet tengah bingung memikirkan nasib rumah indehoy. Untuk memulainya lagi harus membutuhkan uang yang tidak sedikit, sedangkan harta bendanya tidak ada yang bisa terselamatkan kecuali mobil yang saat ini ditumpanginya.


Zee mengusap punggung ibunya, yang terlihat sedih.


"Sekarang kita pulang kemana?" Tanya Joko dari balik kemudi.


"Ke kosannya aku saja, Jo."


Joko pun mengangguk dan segera menjalankan mobilnya. Tiba di depan gang kosannya Zee. Zee segera mengajak Mami Janet ke kosannya.


"Ibu istirahat dulu," titah Zee dan menumpukan bantalnya, agar ibunya nyaman untuk beristirahat.


Kasihan ibu, tapi aku senang dengan terbakarnya rumah indehoy dan semoga saja setelah ini ibu tidak kembali menjadi mucikari. Semoga harapanku terkabulkan. Amien....


Siang menjelang sore, Zee keluar mencari makanan di sekitar lingkungan kosannya. Marshall yang diam-diam datang ke kosannya, hanya bisa melihat Zee dari jauh. Ingin rasanya Marshall memeluk Zee saat itu juga dan menumpahkan rasa rindunya itu.


Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku jadi lega sekarang dan tidak mengkhawatirkan keadaan kamu.


Marshall terus memperhatikan Zee dari jarak jauh. Meski tidak bisa memeluknya, baginya sudah cukup untuk melihatnya saja.


Zee sudah membeli makanannya dan segera kembali ke kosannya. Zee menghentikan langkahnya, karena merasa ada yang mengikutinya. Zee memutarkan tubuhnya dan mencari orang yang mengikutinya.


"Apa ini cuma perasaanku saja," gumam Zee.


Marshall mengintip dari balik tembok pagar rumah orang. Setelah Zee sudah sampai kosannya, Marshall segera pergi.


***


Malam harinya, Mami Janet memaksa Zee untuk melihat rumahnya yang terbakar. Zee pun menyetujui keinginan ibunya itu.


Sekarang disinilah Zee dan ibunya. Di depan rumah indehoy yang sudah hangus terbakar. Di sana sepi dan tamaram. Di pandanginya rumahnya itu dengan tatapan sendu.


"Zee, darimana ibu mulai membangun rumah ini lagi. Sedangkan ibu sekarang sudah tidak punya apa-apa. Surat-surat penting sudah terbakar, hanya tersisa mobil itu saja," ucap Mami Janet sedih.


"Yang sabar, Bu. Aku kan sudah bilang, ini teguran buat ibu agar ibu berhenti dari pekerjaan ini. "


"Ibu nggak rela dan nggak ikhlas." Keluh Mami Janet tidak bisa menerima kenyataan.


"Ayo kita pergi dari sini. Ibu bisa memulai bisnis baru yang lebih halal," ujar Zee.


Mami Janet mendelik menatap Zee. Yang dirinya mau tetap bisnis ini, karena penghasilannya sangat menjanjikan.

__ADS_1


Dengan terpaksa Mami Janet meninggalkan rumahnya yang sudah terbakar. Sepanjang perjalanan pulang, Mami Janet terus berpikir bagaimana caranya mendapatkan uang dengan waktu yang cepat.


Apa aku harus pinjam ke rentenir? tapi... jaminannya apa?


Saat sudah tiba di depan gang, Mami Janet dan Zee melihat seseorang yang tengah duduk di kursi roda. Mami Janet mempertajam penglihatannya.


"Haris," gumam Mami Janet.


"Bu... Itu...."


"Hiraukan mereka. Ayo kita pergi dari sini."


Mami Janet langsung menarik Zee ke kosannya, dan ternyata Haris dan Jefry mengikutinya. Mami Janet mendengus kesal, melihat Haris dan Jefry mengikutinya sampai kosan.


"Kalian ngapain kesini!" Ketus Mami Janet, yang enggan menatap wajah Haris.


"Aku kesini ingin berbicara sama kalian berdua," kata Haris.


"Aku tidak mau berbicara sama kamu! Lebih baik kamu pergi dari sini," usir Mami Janet dan sudah sangat emosi.


"Aku nggak akan pergi dari sini dan aku akan tetap berada di sini sampai kamu mau mendengarkan semua penjelasanku," balas Haris yang terus mencoba meluluhkan hati wanita yang sangat di cintainya itu.


"Mau jelasin apa lagi! Semuanya sudah jelas! Kamu selingkuh dan sudah menghancurkan janji suci pernikahan kita. Jadi... Kamu pergi dari sini!"


Haris menghela nafasnya. Dengan cara apalagi agar dirinya bisa berbicara dan menjelaskan semuanya.


Andai waktu bisa di putar kembali, maka hari itu tidak akan terjadi.


"Semua gara-gara Mama dan Sheena. Andai saja Mama tidak menyuruh aku datang ke rumah, pasti semua ini tidak akan terjadi." Keluh Haris di dalam hati.


"Kak, apa kakak akan terus menunggu disini?" Tanya Jefry yang berdiri di belakangnya.


"Sepertinya percuma kakak menunggunya. Lebih baik kita pulang saja," tukas Haris.


Sebelum pulang, Haris kembali menatap pintu kamar kosan dan berharap anaknya keluar dan menemuinya. Tapi itu hanya harapan semu, pintu itu tetap rapat menutupnya.


"Ayo kita pulang," suruh Haris dan Jefry mendorong kursi rodanya, membawa pergi meninggalkan kosan Zee.


Zee yang mengintip dari jendela, menghela nafasnya pelan. Sebenarnya Zee ingin sekali menemui ayahnya itu, tapi Zee tidak mau kalau ibunya marah.


Maafkan aku, Yah. Aku nggak bisa menemui ayah lagi demi ibu.


"Apa mereka sudah pergi?" Celetuk Mami Janet yang tengah duduk di atas kasur.

__ADS_1


"Sudah...."


"Bagus deh."


"Bu... Apa nggak sebaiknya ibu mendengarkan penjelasan ayah?" Ucap Zee dengan sangat hati-hati.


"Nggak! Zee, tempat ini sudah tidak aman lagi buat keberadaan kita. Bagaimana kalau kita pergi dari kota ini. Ibu nggak mau bertemu dengan ayahmu lagi."


"Tapi... Bagaimana dengan sekolahku? Terus kita pergi kemana?" Tanya Zee.


"Kamu tinggal pindah lagi sekolahnya dan kita pergi ke kampung halaman mending nenek kamu. Di sana kita masih punya saudara dari nenek. Bagaimana kamu setuju."


"Baiklah, terserah ibu. Jika itu baik buat kita, aku ikut saja."


Zee mengalah demi kebaikan bersama. Toh... Dirinya juga sudah tidak harapan lagi bersama Marshall dan mungkin memang sudah saatnya ibunya kembali ke jalan yang benar.


Di balik semua musibah yang menimpanya, ada hikmahnya.


Keesokan harinya, Zee dan Ibunya berencana untuk menjual mobilnya dan sekaligus meminta surat pindah sekolah.


Zee dan Ibunya sudah berada di sekolah dan Zee mengajak ibunya ke ruang guru. Zee sengaja datang ke sekolah saat jam masuk kelas, agar Zee tidak bertemu dengan Marshall.


"Zee, kenapa kamu nggak masuk sekolah?" Tanya Bu guru Nisa.


"Iya, karena maksud kedatangan kami untuk meminta surat pindah sekolah." Ucap Mami Janet.


Bu guru Nisa tersentak dan menatap wajah muridnya.


"Apa karena masalah kemarin? Makanya kamu pindah sekolah?"


"Masalah? Masalah apa ya?" Tanya mami Janet bingung.


"Kemarin Zee di bully oleh semua siswa, dan saya selaku wali kelas meminta maaf sebesar-besarnya." Terang Bu guru Nisa yang terlihat menyesal.


"Zee, apa benar yang di katakan oleh Bu guru?"


"Iya...."


"Apa masalahnya sama seperti yang dulu?"


"Iya...."


Mami Janet menghela nafasnya. Kenapa harus terjadi lagi, apa mungkin pekerjaannya itu sering membawa masalah untuk Putrinya?.

__ADS_1


__ADS_2