Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Harus berjuang lagi


__ADS_3

"Apa... kamu juga merindukan aku?" tanya Marshall yang menatap lekat wajah Zee.


Zee mengangguk pelan. Marshall tersenyum dan menarik jemari Zee untuk di genggam olehnya.


"Aku senang, ternyata rinduku terbalas. Zee... Kamu mau kan balik lagi sama aku."


Semoga Zee mengangguk, tapi sampai beberapa detik Zee tidak menggerakkan kepalanya, membuat Marshall merasa heran.


"Zee, jawab. Apa kamu mau kita balikan." Marshall mengulangi pertanyaannya.


Zee kemudian menundukkan kepalanya.


"Zee...."


"Aku nggak bisa," tolak Zee.


Seketika Marshall melepaskan genggaman tangannya terhadap Zee. Hatinya terasa ngilu lagi atas penolakan Zee.


"Kenapa? Alasannya apa, Zee?" Marshall menatap Zee dengan raut sedih.


"Di antara hubungan kita, ada orang yang tidak menyukainya dan aku nggak mau kalau--"


"Apa karena ayahku!" Tebak Marshall dan Zee mengangguknya.


Marshall kembali meraih tangan Zee lagi dan Marshall jongkok di depan Zee. Di tatapnya wanita yang sangat di cintainya itu.


"Zee, kita bisa meluluhkan hati ayahku kalau kita bisa bersatu. Dengan kekuatan cinta yang kita miliki, ayahku pasti akan menyetujui hubungan kita." Marshall berbicara dengan nada memohon.


"Shall...."


"Aku mohon...." Marshall kembali mengiba kepada Zee. Biarlah dirinya di katai lelaki yang tak punya harga diri karena mengemis cinta.


"Beri aku waktu. Aku nggak bisa memutuskan begitu saja."


"Mau sampai kapan? Aku sudah terlalu lama mengharapkan kamu kembali," jawab Marshall penuh pengharapan.


"Shall, aku mohon." Kali ini Zee menatap Marshall dengan tatapan memohon.


"Baiklah," jawab Marshall dan kembali duduk di samping Zee.


"Kamu mau sampai kapan berada disini?" Tanya Zee.


"Nanti juga aku bakal balik. Percuma aku lama-lama disini, orang yang aku cintai tidak bisa di ajak balikan. Padahal aku sangat berharap kalau orang yang aku cintai mau kembali kepadaku."


"Kok, gitu sih ngomongnya," ketus Zee mencebikan bibirnya.


Marshall merangkul pundak Zee dan di letakkan kepala Zee di pundaknya. Marshall membelai rambut legam Zee dengan sayang dan Zee memejamkan matanya, menikmati belain hangat Marshall yang selalu memperlakukannya manis.


"Makanya kamu harus mau balikan sama aku, agar aku bisa lama berada disini. Katanya kamu juga kangen, kalau kangen kamu harus mau jadi pacar aku lagi." Paksa Marshall.

__ADS_1


Zee memutarkan bola matanya, sifat Marshall yang suka memaksa kini dia dengar lagi dan merasakan lagi.


"Aku kan sudah bilang, beri aku waktu." Zee kembali mengulangi jawabanya.


"Iya, tapi aku nggak mau di gantung." Kemudian Marshall mencium pucuk kepala Zee.


"Nanti kita bahas lagi soal itu," kata Zee.


Zee dan Marshall menikmati momen ini. Keduanya ingin menghabiskan waktu yang sudah lama terbuang. Hingga waktupun sudah merangkak naik menuju siang.


"Pulang yuk," ajak Zee.


"Nanti. Aku masih ingin sama kamu. Kamu tahu nggak sih betapa rindunya aku sama kamu," cetus Marshall yang tetap bertahan duduk di sana, meski Zee sudah menarik tangannya.


"Iya, tapi ini sudah siang," balas Zee lembut.


Dengan terpaksa Marshall menuruti kemauan Zee untuk pulang. Marshall terus saja menggenggam tangan Zee dan tidak ingin melepaskannya. Zee dan Marshall menaiki motornya dan meninggalkan alun-alun kota.


Tiba di depan rumah Zee. Marshall langsung memarkirkan motornya di teras rumahnya.


"Nomor handphone kamu mana, agar aku bisa setiap hari menelpon kamu," pinta Marshall dan Zee menyebutkan nomornya.


"Nanti malam, kita ketemuan lagi ya," ajak Marshall.


"Iya...." Jawab Zee.


"Kalau gitu aku pulang dulu dan ingat aku tunggu jawaban kamu secepatnya, karena aku tidak bisa kalau--"


"Kamu usir aku," dengus Marshall.


"Katanya mau pulang. Tapi ngoceh terus," cibir Zee.


"Sebenarnya aku nggak mau pulang, tapi... Ya sudahlah. Nanti malam aku jemput kamu."


Sebelum berbalik badan, Marshall tengok kanan dan kiri memastikan tidak ada orang yang lewat. Setelah di rasa aman, tiba-tiba Marshall memajukan wajahnya ke wajah Zee.


Cup


Marshall mencium bibir ranum Zee dengan gerakan cepat. Sebenarnya Marshall ingin lebih lama mencium bibir ranum Zee dan memangutnya lama, tapi kondisi dan tempat tidak memungkinkan untuk dirinya melakukannya.


Zee membulatkan matanya saat Marshall mencuri ciuman darinya. Zee mendelikkan matanya, bisa-bisanya dia mencium di tempat terbuka seperti ini dan bagaimana jika ada orang yang melihatnya.


Sekali lagi Marshall memajukan wajahnya, tapi kali ini Zee menahan wajah Marshall dan mendorongnya.


"Kebiasaan deh, dari dulu selalu curi-curi ciuman dari aku." Kesal Zee, sedangkan Marshall hanya nyengir kuda.


"Sudah sonoh pulang. Dari tadi nggak pulang-pulang." Zee kembali mengusir Marshall dan kali ini Zee mendorong tubuh Marshall agar cepat pergi.


"Iya-iya, aku pulang."

__ADS_1


Marshall memutarkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Zee di depan rumahnya. Baru beberapa langkah, Marshall memutarkan tubuhnya.


"Zee...!" Panggil Marshall dengan senyumnya yang tersungging di bibirnya.


"Apa?"


"Muach...." Marshall memberikan ciuman jarak jauh.


"Tangkap ciuman aku," pinta Marshall.


Zee memutarkan bola matanya dan menuruti permintaan Marshall. Zee menangkap ciuman dari Marshall dan meletakkan di atas bibirnya.


"Sip...." Jawab Marshall seraya mengacungkan jempolnya.


Zee menggelengkan kepalanya melihat tingkah Marshall, tapi di balik itu semua hatinya berbunga-bunga karena bisa merasakan kembali perhatian Marshall.


Setelah Marshall menjauh dari pendangannya, Zee segera masuk ke rumah dengan senyum terus merekah di bibirnya.


*


Marshall sudah tiba di villa dan langsung bergabung dengan sahabatnya yang baru selesai berenang.


"Kayaknya ada yang lagi bahagia nih," ledek Byan.


"Iyalah," jawab Marshall dengan wajah cerianya.


"Kayak-kayaknya nih, ada yang balikan lagi." Kali ini Sigit yang meledek Marshall.


Seketika wajah Marshall berubah muram. Membuat Sigit merasa heran melihat perubahan wajah Marshall.


"Belum. Zee belum mau balikan sama aku. Dia masih ragu, karena ayahku tidak menyetujui hubungan aku dan Zee," ungkap Marshall.


"Tapikan itu dulu. Siapa tahu sekarang ayah kamu menyetujui hubungan kamu dan Zee," timpal Sigit.


"Semoga saja. Tapi masalahnya Zee masih belum mau balik sama aku."


"Elu harus berjuang dan buktikan, apa yang dia pikirkan salah," ucap Dhika.


Marshall mengangguk setuju. Dirinya memang harus berjuang mendapatkan Zee lagi dan dirinya juga harus berjuang meluluhkan hati ayahnya.


"Kami bertiga akan selalu mendukung kamu dan mendoakan kamu, agar Zee balik lagi ke pelukan kamu," timpal Sigit.


Marshall tersenyum dan terharu memiliki sahabat seperti mereka. Sahabat yang akan selalu mendukung dirinya memperjuangkan Zee lagi.


"Terima kasih ya," ucap Marshall.


"Hmm...." Jawab Byan.


Marshall kemudian mendorong tubuh Dhika yang tengah berdiri di pinggir kolam renang.

__ADS_1


"Marshall...!! Awas elu." Dhika menggeram kesal karena dirinya di ceburin.


Marshall tertawa dan berlari menghindari amukan Dhika, yang kini berenang ke tepi kolam.


__ADS_2