
Hari ini, Zee menjalani pemotretan untuk pertama kalinya. Tapi sebelum memulai, Zee mendapatkan bimbingan terlebih dahulu soal dunia modeling dan bagaimana cara bergaya di depan kamera.
Untuk tema kali ini adalah mengusum pakaian remaja kekinian. Zee sudah di make over oleh make up artis. Dengan gugup Zee melangkah memasuki ruangan pemotretan. Zee menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan.
Ternyata Jefry ada di sana dan sedang duduk mengawasi para kru yang tengah mempersiapkan peralatan untuk pemotretan.
"Om...." Sapa Zee sembari tersenyum simpul, menampilkan rentetan giginya yang rapi.
Jefry pun mengangguk dan membalas senyuman Zee.
"Zee, kamu sudah siap?" Tanya sang fotografer sembari memegang kamera di tangannya.
"Iya...." Zee mengangguk.
Sebenarnya Zee sangatlah gugup, tapi Zee berusaha menutupi kegugupannya dengan keyakinan di hatinya.
Pemotretan pun di mulai, Zee yang sudah mendapatkan bimbingan langsung bergaya, berpose dengan sangat baik dari lekuk tubuh, tatapannya dan senyumannya di setiap jepretan kamera.
Sekitar tiga jam, Zee menjalani pemotretan dan ternyata cukup melelahkan juga. Memang, setiap pekerjaan pasti sangat melelahkan, tapi disini Zee berusaha menikmati pekerjaan barunya menjadi seorang model.
Sang fotografer mengacungkan jempolnya, karena cukup puas dengan hasil kerja Zee berpose di depan kamera.
Jefry tersenyum puas dengan hasil kerja Zee, karena di setiap jepretan kamera Zee berpose dengan sangat bagus dan natural.
"Zee...." Jefry menyerukan namanya.
"Iya, Om." Zee mendekati Jefry yang tengah duduk di kursi lipat.
"Karena kerja kamu bagus. Om akan ajak kamu makan, bagaimana kamu mau?"
"Mm... Gimana ya?" Sembari melirik jam di handphonenya.
"Ayolah... Anggap saja Om mentraktir kamu, karena kamu bekerja dengan sangat baik," paksa Jefry.
"Mmm... Baiklah," jawab Zee.
Zee dan Jefry langsung keluar dari ruangan pemotretan dan Jefry mengajak Zee makan di sebuah restoran mewah, tepatnya di hotel bintang lima.
Kini keduanya sudah duduk di restoran dan memesan makanannya.
"Kenapa Om ajak aku makan disini? Disini pasti makanannya mahal-mahal," papar Zee yang biasanya hanya makan di warteg atau makan di tenda-tenda pinggir jalan.
__ADS_1
Jefry tersenyum mendengar penuturan Zee, yang terlihat sungkan makan di restoran tersebut. "Sudah, kamu jangan ambil pusing soal harganya. Yang penting kita makan saja," jawabnya santai
Zee akhirnya manut dan tidak lagi mempertanyakan soal harga makanan yang super mahal.
Makan yang di pesan, kini sudah ada di atas meja. Zee mengambil garpu dan pisau, tapi disini Zee bingung cara memakainya.
"Kenapa?" Tanya Jefry yang heran, karena Zee tidak memakan makanannya.
"Mm... Ini... Aku nggak tahu caranya makan pakai ini," ungkap Zee bingung.
Jefry tersenyum melihat kepolosan Zee, lalu Jefry mengambil makanannya Zee. Jefry langsung memotong-motong kecil daging steak, setelah itu Jefry meletakkan kembali piringnya di depan Zee.
"Makanlah," titah Jefry.
"Terima kasih, Om."
Selesai menghabiskan makan malamnya, Zee dan Jefry meninggalkan restoran tersebut dan keduanya kembali ke mobil.
"Zee...."
"Iya, kenapa Om?"
"Sebelum Om antar kamu pulang, kamu mau nggak ikut Om dulu ke rumah sakit."
"Kakaknya Om," jawab Jefry. "Jadi bagaimana? kamu mau?"
Zee mengangguk tanda setuju. Setelah mendapat persetujuan dari Zee, Jefry langsung memacukan mobilnya ke jalan raya menuju rumah sakit.
Kurang lebih satu jam, keduanya sampai di rumah sakit. Zee dan Jefry langsung saja ke tempat tujuannya, yaitu menemui kakaknya Jefry yang tengah sakit.
"Ayo masuk," ucap Jefry sembari membukakan pintunya.
Zee mengangguk dan ikut melangkah ke dalam kamar inap kakaknya Jefry. Kedua bola mata Zee, menangkap sosok lelaki yang terbaring koma di atas ranjang dengan beberapa alat-alat medis menempel pada tubuh lelaki itu.
Zee begitu lekat memandangi lelaki itu, tiba-tiba saja ada sesuatu yang menarik hati Zee terhadap lelaki yang terbaring koma di atas ranjang.
"Hai, kak. Gimana kabarnya hari ini?" Tanya Jefry kepada kakaknya yang tengah terbaring.
"Hari ini aku datang bersama seorang gadis cantik. Aku sengaja mengajaknya kesini menemui kakak, karena aku tahu kakak pasti bakal senang bertemu dengannya," sambung Jefry berceloteh, meski sang kakak tidak mungkin menyahuti perkataannya.
Jefry duduk di samping ranjang, lalu Jefry menggenggam tangan kakaknya, yang sampai kini masih betah menutup matanya. Tatapan Jefry berubah sendu, melihat wajah kakaknya itu. Jefry mengusap kedua matanya yang sedikit basah.
__ADS_1
Jefry maupun Zee tidak ada yang berbicara, keduanya bungkam sembari menatap lelaki yang terbaring di atas ranjang.
"Zee...." Panggilan Jefry memecah keheningan di ruangan itu.
"Ya, Om," jawab Zee yang berdiri di dekat kaki lelaki yang terbaring itu.
"Saya mau keluar dulu, mau beli minum. Tolong kamu jaga kakak Om dan kalau bisa ajak kakak Om berbicara, agar otaknya merespon apa yang kita bicarakan," terang Jefry yang kini bangun dari duduknya.
"Baik, Om."
Jefry bergegas keluar, tapi sebelum menutup pintunya. Jefry menoleh kearah kakaknya dan Zee yang kini duduk di tempat yang tadi di duduki olehnya.
Semoga kakak cepat bangun dari tidur panjangnya dan semoga saja dengan kedatangan Zee membawa keajaiban buat kakak.
Setelah itu, Jefry menutup pintunya pelan.
Sekarang hanya tinggalah Zee, seorang diri menemani lelaki itu. Sejak pertama melihat lelaki itu, ada perasaan yang tidak bisa Zee ungkap dengan sebuah kata-kata, tapi di dalam lubuk hatinya begitu menghangat melihat lelaki itu. Hatinya Zee seolah sudah bertaut lama dengan lelaki itu.
"Hai, Om. Kenalkan namaku Zevania," ucap Zee.
Zee diam dan tak tahu harus bicara apa lagi. Zee memberanikan menyentuh punggung tangan lelaki itu dan mengusap punggung tangannya.
"Om harus sembuh. Kasihan Om Jefry yang menunggu Om terbangun dari tidur panjang Om."
"Mmm... Mau aku ceritakan sesuatu, karena aku nggak tahu apa yang harus aku bicarakan terhadap Om."
Kemudian Zee mengambil sebuah buku novel dari tasnya. Setelah itu Zee mulai membacanya hingga beberapa lembar. Tanpa sepengetahuan Zee, lelaki itu menggerakkan jarinya pelan.
Jefry kembali dan membawa beberapa cemilan dan juga minuman. Jefry tersenyum senang melihat Zee membacakan buku untuk kakaknya.
"Zee, nih minum dulu. Pasti kamu haus karena dari tadi kamu terus membacakan buku untuk kakak Om" ujar Jefry seraya menyerahkan sebotol minuman yang sudah di buka tutup botolnya.
"Terima kasih...," ucap Zee seraya menerima minuman itu.
"Kak, aku pamit pulang dulu. Lain kali aku akan datang kesini lagi dan semoga kakak senang bertemu dengan Zee. Iyakan, Zee?"
"Iya, Om," jawab Zee tersenyum simpul.
Lalu Jefry mencium kening kakaknya.
"Aku sudah memenuhi janjiku, maka cepatlah bangun dan lihatlah dia yang begitu cantik, seperti seseorang yang sangat kakak cintai," bisik Jefry tepat di telinga kakaknya.
__ADS_1
"Kami pulang, kak," pamitnya,. Setelah itu Zee dan Jefry keluar dan meninggalkan kakaknya Jefry.
Kakaknya Jefry kembali menggerakkan jarinya, sesaat setelah Jefry menutup pintunya.