
Zee membuka pintu kosannya dan masuk dengan langkah lunglai. Zee merosot kan tubuhnya ke lantai dan duduk menyender di belakang pintu. Zee kembali menangisi kisah cintanya yang kandas.
Setelah di rasa cukup puas menangis, Zee bangkit dan segera membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, kini Zee langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menatap langit-langit kamarnya, mengingat kembali cerita cintanya bersama Marshall.
Bagaimana Marshall selalu memperlakukannya dengan sangat manis, bagaimana cemburunya Marshall ketika ada cowok lain yang mendekatinya dan masih banyak kenangan yang terukir indah bersama Marshall.
Zee kembali meneteskan air matanya.
" Huuhh...." Zee membuang nafasnya perlahan, mencoba membuang rasa sesak di dadanya.
Perlahan Zee memejamkan matanya, malam ini Zee ingin tidur lebih cepat dan semoga esok saat membuka mata. Semuanya berubah seperti hari-hari sebelumnya, dimana kisah cintanya masih terjalin manis dan semoga, semua yang di alaminya hari ini hanyalah mimpi buruk.
***
Tok tok tok
Ini sudah ke sekian kalinya Hana mengetuk pintu kamar Marshall, tapi sejak tadi Marshall tak kunjung membuka pintunya. Hana khawatir, karena sejak Marshall masuk ke kamarnya. Marshall tidak lagi keluar kamar.
"Bang... Tolong buka pintunya. Izinkan ibu masuk," pinta Hana.
Akan tetapi usahanya sia-sia, Marshall tetap tidak membuka pintunya.
Hana menghela nafasnya, lalu Hana kembali ke bawah dan bergabung dengan keluarga kecilnya di meja makan.
"Masih belum membukakan pintunya?" Tanya Aries.
"Iya...." Jawab Hana pelan.
"Kasihan kak Zee. Sudah di bully satu sekolah sekarang putus sama, Abang," cetus Aisyah seraya mengambil nasi.
Aries hanya melirik dan tidak mau menanggapi perkataan putrinya.
"Setahu Ais. Kak Zee itu tidak tinggal sama ibunya dan kak Zee itu tinggal sendiri di kosan. Kak Zee juga kerja, kalau nggak salah kak Zee kerja jadi model. Itu yang pernah di katakan Abang sama Ais. Ayah... Memang kak Zee salah ya, jika kak Zee terlahir dari wanita yang memiliki pekerjaan sebagai mucikari. Menurut Ais, apa yang di katakan oleh kak Liora belum tentu benar."
Aries terdiam dan tetap melanjutkan makannya. Aisyah mendengus melihat ayahnya yang diam saja.
Selesai makan malam, Hana menemui suaminya di ruang kerjanya. Sembari membawa secangkir teh dan meletakkan cangkir itu di meja.
"Ini... aku bawakan teh untukmu."
"Terima kasih sayang," ucap Aries seraya tersenyum menatap Hana.
"Boleh aku bicara?"
__ADS_1
"Kayaknya serius Banget nih," tukas Aries, lalu di tariknya Hana ke pangkuannya.
"Memang mau bicara apa?" Tanya Aries, yang kini menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hana.
"Ini mengenai Abang." Hana menahan gerakan tangan Aries di atas dadanya.
Aries menegakkan kepalanya. "Jika kamu mengharapkan aku menyetujui hubungan Abang sama Zee. Aku tetap tidak akan menyetujuinya."
"Abay, apa abay nggak dengar apa yang di katakan Ais di meja makan. Menurut aku, Zee gadis yang baik. Semua anak pasti ingin terlahir dari wanita yang baik-baik. Mungkin ada alasan lain, kenapa ibunya Zee memilih pekerjaan itu, tapi kita juga tidak boleh menghakimi Zee."
"Tapi tetap saja, aku tidak mau Abang dekat dengan Zee. Nanti yang ada Abang bakal terjerumus masuk ke dalam lingkaran dosa. Apalagi ibunya Zee seorang mucikari."
Aries tetap kekeuh dengan pendiriannya, menolak Zee dekat dengan Marshall.
"Kita sebagai orang tua harus percaya sama Abang. Aku yakin Abang tidak akan melakukan hal sejauh itu. Abang tidak akan mungkin menghancurkan masa mudanya. Jadi aku mohon, izinkan Abang tetap berpacaran dengan Zee." Mohon Hana.
"Gini deh, abay bisa menyuruh Bejo untuk memata-matai Zee. Seperti apa Zee di luar sana, apa Zee gadis yang nakal atau sebaliknya." Lanjut Hana memberi solusi.
"Buat apa memata-matai anak itu. Pokoknya aku tetap tidak setuju." Tegas Aries dan tidak akan memberikan kesempatan kedua buat Zee dekat dengan Marshall.
Hana mendengus. Baiklah, mungkin dengan cara lain untuk bisa merayu sang suami. Cara licik yang kini hinggap di otaknya.
"Ayolah sayang... Apa abay nggak kasihan sama Abang?" Bisik Hana seraya tangannya bergerilya mengusap si belalai gajahnya Aries.
Aries memejamkan matanya, saat tangan lembut Hana mengelusnya mesra.
"Abay... Maukan melihat Abang bahagia...." Hana terus merayu Aries dan Aries mengangguk kecil.
Lalu Hana mencium bibir Aries dengan mesra, memberikan kenikmatan yang ia berikan lewat sentuhan-sentuhan mesra.
Di lepaskan pangutan bibirnya dan menatap wajah sang suami yang kini sudah tergoda oleh permainannya. Apalagi jemari Hana sudah menggenggam si belalai gajahnya dan menarik turunkan dengan manja.
"Maka, biarkan Abang berpacaran dengan Zee," sambung Hana lirih.
"Aku nggak izinkan Abang pacaran sama gadis itu."
Ternyata usaha Hana menggoda suaminya sia-sia dan Aries tetap kekeuh dengan pendiriannya.
Hana menarik tangannya dari celana Aries, lalu Hana bangkit dari pangkuan Aries dan melangkah keluar dari ruang kerjanya.
"Sayang, kenapa berhenti," seru Aries dan mengejar Hana.
"Berhenti!" Aries menghentikan langkah Hana, yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih!" Tanya Aries bingung dengan perubahan sikap Hana.
"Aku kesal sama kamu!" Dengus Hana.
"Terus... Aku harus bagaimana?"
"Ya ... Kamu harus ikuti apa yang aku katakan tadi!"
"Soal Abang? Tapi aku tetap tidak izinkan Abang pacaran sama Zee." Aries benar-benar menolaknya.
Hana melirik sebal sama suaminya itu.
"Kalau gitu aku mogok bicara sama kamu dan malam ini aku mau tidur sama Andreo!" Kesal Hana dan melangkah pergi.
"Sayang kok malah kamu yang marah. Oke... Aku mau ngikutin apa kata kamu. Aku akan suruh si Bejo memata-matai anak itu."
Akhirnya Aries mengalah, daripada tidak tidur bareng istri tercintanya dan mensejahterakan si belalainya.
"Bener?"
"Iya... Karena aku sudah setuju. Ayo, kita lanjutkan yang tadi." Ajak Aries penuh semangat melanjutkan adegan yang membuatnya terbakar ga irah.
"Mmm... Gimana ya...." Hana ragu untuk mengucapkan apa yang saat ini di alaminya.
"Ayo...." Aries menarik tangan Hana dengan tak sabaran.
"Tunggu, aku... Sedang datang bulan." Jawab Hana pelan.
"Apa? Terus ini gimana?" Tunjuk Aries bagian bawahnya yang sudah tegak berdiri dan siap untuk bertempur.
Hana mengedikan bahunya dan berjalan meninggalkan Aries.
"Sayang... Masa iya aku harus main solo dan membiarkan benih-benih cintaku terbuang sia-sia," seru Aries memelas dan menatap si belalai gajahnya dengan rasa iba.
"Ayah kenapa? Terus kenapa ayah harus membuang benih-benih cinta ayah? Memangnya kenapa dengan benih cinta ayah dan kenapa ayah harus bermain solo," celetuk Adelio yang ternyata sudah berdiri di belakangnya seraya membawa air minum di tangannya.
Hana berhenti di tengah tangga, saat Adelio bertanya kepada Aries. Lalu Hana mau mendengar apa jawaban Aries.
Aries bingung menjawab pertanyaan dari anaknya itu. Aries tengah berpikir jawaban apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan anaknya.
"Mmm... Iyo, inikan sudah malam. Lebih baik Iyo cepat tidur," suruh Aries. Ya... inilah jawaban yang tepat Aries berikan.
"Huuh ... Ayah payah tidak bisa menjawabnya," sungut Adelio sembari berlalu dari hadapannya.
__ADS_1
Hana hanya tersenyum melihat suaminya tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya, lalu Hana melanjutkan langkahnya lagi.
"Sayaaaangg...." Rengek Aries.