
Zee langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, begitupun juga dengan Marshall. Seketika saja rasa canggung tercipta diantara keduanya.
"Ehemm...." Marshall berdehem pelan, menghilangkan rasa canggung. Marshall langsung menarik lagi kedua tangannya, sedangkan detak jantung Marshall semakin berdebar-debar tak menentu. Marshall memegangi dimana letak jantungnya yang tengah berdebar-debar,. Marshall mengusap dadanya dan berharap debaran jantungnya kembali normal.
Zee dan Marshall saling diam dan bingung untuk menghilangkan kecanggungan. Marshall melirik Zee yang kini menggeserkan lagi tubuhnya ke samping.
Setelah lama menunggu dan berteduh dari derasnya hujan, akhirnya hujan pun berhenti.
"Mmm... Apa kamu mau pulang sekarang?" Tanya Marshall kikuk.
"Iya...." Jawab Zee sembari menganggukkan kepalanya.
Marshall pun kembali mengantar Zee pulang sampai depan kosannya. Zee turun dari boncengannya dan berdiri di samping motor, sedangkan Marshall tetap berada di atas motornya.
"Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang," ucap Zee.
"Ya...."
"Mmm... Aku masuk dulu," ujar Zee dan Marshall mengangguk .
Zee berjalan ke depan pintu kosannya dan membuka pintunya. Marshall masih berada di atas motornya, mematikan Zee sudah masuk, Zee kembali menatap Marshall dan memberikan senyum manisnya. Setelah itu Zee masuk dan menutup pintunya.
Setelah Zee masuk, Marshall langsung meninggalkan kosan Zee sembari tersenyum di balik helm full face nya.
***
Pagipun menyapa, sang mentari pagi memancarkan cahaya yang menghangatkan suasana di pagi hari.
Zee sudah berdiri di pinggir jalan menunggu angkot lewat. Hingga sebuah mobil mewah berhenti di depannya, dan turunlah seorang lelaki matang dari mobilnya. Dengan pakaian kantornya yan yang rapih, lelaki itu mendekati Zee yang tengah berdiri di pinggir jalan.
"Selama pagi...." Sapa lelaki itu. Zee tak menjawab sapaan lelaki itu dan hanya menatap bingung dengan lelaki itu.
"Apa kamu Zevania?" tanya lelaki itu.
"Iya, betul. Maaf, om siapa ya?"
"Kenalan, saya Jefry," ucapnya seraya mengulurkan tangannya.
Zee tidak membalas uluran tangan lelaki itu. Zee merasa harus waspada dengan lelaki asing yang berdiri di depannya. Karena tidak ada balasan untuk menjabat tangannya, lelaki yang bernama Jefry menarik tangannya lagi.
"Maaf om. Om tahu nama aku dari siapa?" tanya Zee bingung.
__ADS_1
"Om tahu nama kamu, waktu om makan di cafe heaven," terang Jefry.
"Terus... Om cari aku mau apa?" Zee kembali bertanya, karena Zee tidak tahu urusan apa Jefry menemuinya.
"Gini... Om mau nawarin kamu kerjaan. Kebetulan Om lagi cari model dan kayaknya kamu cocok jadi modelnya," terang Jefry memberi alasannya menemui Zee.
"Oh...."
"Jadi, bagaimana? Apa kamu mau jadi model brandnya, Om?" Lanjut Jefry berucap.
"Mm... Bagaimana ya? aku belum tau, Om, dan aku harus pikir-pikir dulu soal tawaran ini," tukas Zee bingung dengan tawaran yang di berikannya dan juga Zee tidak mau di tipu yang nantinya akan berakibat fatal untuk dirinya sendiri.
"Baiklah dan ini adalah kartu nama, Om," Sembari memberikan kartu namanya. "Dan Om tunggu kabar dari kamu," lanjutnya.
Kemudian lelaki itu kembali masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Zee. Zee menatap kartu nama itu, lalu Zee simpan di sakunya.
***
Tiba di sekolah, dan baru saja akan berbelok ke arah kelasnya. Zee di hadang oleh Liora, tapi kali ini hanya seorang diri tanpa teman-temannya.
"Mau apa lagi nih orang." Dengus Zee melihat Liora yang berdiri di depannya dan jangan lupa dengan tatapan tajamnya.
"Terus mau kamu apa? Lagian bukan salahku kalau kamu di putusin sama cowok kamu. Harusnya kamu ngaca, kenapa cowok kamu mutusin kamu," pungkas Zee tak mau kalah.
"Aku nggak terima begitu saja. Pokoknya aku akan balas kamu, karena kamu... Marshall semakin jauh dari aku," ketus Liora sembari menatap tajam wajah Zee.
"Silahkan, jika kamu mau balas dendam sama aku. Aku nggak takut dengan ancaman kamu, justru yang ada Marshall semakin tidak suka sama kamu," balas Zee.
Setelah itu, Zee langsung melanjutkan langkahnya dan menyenggol bahu Liora yang terlihat geram dan juga menggertakkan giginya menahan kesal.
"Lihat saja nanti, aku akan balas kamu. Dan saat waktunya tiba, kamu akan di tendang oleh Marshall," ucapnya sembari menahan kekesalannya.
Bel pun berbunyi, pertanda mulainya Pelajaran. Semua siswa tengah serius mendengarkan penjelasan sang guru. Termasuk Zee yang begitu serius mendengarkan penjelasan guru dan berusaha menyerap pelajaran dengan sungguh-sungguh.
Saat tengah serius mendengarkan penjelasan guru, Marshall melempar sebuah kertas ke kolong meja. Marshall kemudian mengadahkan kepalanya, sembari menggerakkan kepalanya, seolah-olah sedang melemaskan otot lehernya.
"Ambil kertas yang di kolong meja," bisik Marshall.
Zee pun mengambil kertas tersebut dan membaca tulisan Marshall.
'Nanti, pulang sekolah kita jalan yuk. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.'
__ADS_1
Itulah isi surat dari Marshall.
Marshall menengok ke belakang, karena Zee lama membalas suratnya, tapi sampai pelajaran usai, Zee tetap tidak membalasnya.
"Jadi gimana? Kamu mau kan ikut sama aku," ujar Marshall, setelah guru keluar dari kelas.
"Aku nggak bisa," jawab Zee yang langsung bangun dari duduknya.
"Kenapa?" Tanya Marshall yang kini ikut berdiri.
Zee menghela nafasnya, dan menatap Marshall.
"Nggak kenapa-napa. Lebih baik kamu stop deketin aku, jujur aku nggak nyaman jika kamu terus deketin aku."
"Kenapa kamu larang aku deketin kamu? Alasannya apa?"
"Aku nggak perlu kasih alasannya apa, tapi yang jelas kamu jangan deketin aku lagi," ujar Zee.
"Karena kamu nggak kasih alasannya apa? Maka aku akan tetap mendekati kamu," kekeuh Marshall dan tidak peduli dengan larangan Zee.
Zee mendengus, karena Marshall tidak mau berhenti mendekatinya. Zee, lakukan ini semua karena Zee takut disaat sudah dekat dan Marshall tau siapa dirinya, terutama tentang ibunya. Marshall akan menjauhinya dan tak mau lagi menganggap teman dekatnya lagi.
Marshall langsung menarik tangan Zee, dan keluar dari kelas. Marshall tidak peduli dengan protesan Zee dan tetap menggandeng tangan Zee. Liora yang melihat Zee di gandeng oleh Marshall, langsung mendekati Marshall dan menahan tangan Marshall.
"Shall...!" Seru Liora menahan tangan Marshall.
"Apa lagi sih!!" Kesal Marshall jengah dengan Liora.
"Kamu mau kemana? Aku ikut ya," kata Liora dengan tatapan memohon.
"Nggak!" Tolak Marshall tegas. " Lepaskan tanganku." Marshall menarik tangannya dari genggaman Liora.
"Shall...." Rengek Liora mengiba.
Marshall mengabaikan permohonan Liora dan meninggalkan Liora begitu saja. Zee menoleh ke Liora yang tengah menghentakkan kakinya ke lantai. Kesal itulah perasaan Liora saat ini dan Marshall sudah tidak lagi memperdulikannya dan apa sekarang, Marshall memilih pergi dengan Zee ketimbang dengan dirinya yang sudah memberinya cinta sepenuh hati.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....
__ADS_1