Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Memulai hidup baru


__ADS_3

Gunawan bergegas masuk ke dalam rumah Tuannya dan langsung masuk ke ruang kerja Jefry. Dengan wajah sedikit panik, Gunawan langsung menghadap Jefry.


"Tuan...." Suara Gunawan terdengar sangat cemas.


"Kenapa, Gun? Sepertinya ada hal yang sangat genting," Tukas Jefry menatap wajah asistennya itu.


"Ini Tuan... Yogi gagal mengikuti mobil travel yang di tumpangi Nona Zee dan Nyonya Janet," lapor Gunawan dan tidak berani mengangkat kepalanya, karena Gunawan menduganya kalau Tuannya itu bakal marah.


"Apa? Kok bisa Yogi kehilangan jejak!" Sentak Jefry kesal seraya menggebrak meja kerjanya. Wajah Jefry tersirat kemarahan dengan mata yang menyala emosi.


"Yogi bilang, saat hendak mengikuti mobil travel. Mobil Yogi berhenti karena ada kereta api lewat dan di saat itulah Yogi kehilangan jejak Mobil travel tersebut," terang Gunawan.


Brakk


Lagi-lagi Jefry menggebrak mejanya, nafasnya memburu akan kemarahannya. Bisa-bisanya Yogi, kehilangan mobil travel itu dan harus mencari kemana keberadaan Zee dan Mami Janet.


Jefry menyugar rambutnya kasar, sambil terus berpikir bagaimana caranya menemukan Zee dan Mami Janet dalam waktu dekat ini.


Bagaimana jika kakaknya menanyakan keberadaan mereka. Apa yang akan dikatakannya kepada kakaknya itu.


"Ada apa ini? Kenapa kamu menggebrak meja?" Tanya Haris kepada Jefry.


Jefry terhenyak dengan kedatangan kakaknya ke ruang kerjanya dan Jefry menelan Salivanya, lidahnya Kelu untuk menjawab pertanyaan kakaknya. Begitupun juga dengan Gunawan diam tak menyahuti pertanyaan Haris.


"Kenapa kalian berdua pada diam? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Haris kembali bertanya dan menatap dua orang yang tengah terlihat bingung.


"Jawab...!" Desak Haris.


"Ini ... Soal Zee dan Mba Janet," jawab Jefry dengan nada hati-hati.


"Kenapa dengan anak dan istriku?" Haris semakin penasaran.


"Yogi kehilangan jejak mobil travel yang di tumpangi Zee dan Mba Janet."


"Apa? Dimana Yogi kehilangan mobil travel itu." Haris bertanya lagi, berusaha meredam emosinya.


"Di daerah Cianjur," jawab Gunawan.


"Cianjur? Apa... Jangan-jangan Janet pulang ke kampung halamannya?" Ujar Haris pelan seraya mengingat kembali tempat tinggal orang tuanya Janet. Haris pernah sekali pergi ke kampung halaman orang tuanya janet.


"Kakak tahu kemana Zee dan Mba Janet pergi?" Tanya Jefry.


"Mungkin mereka pergi ke sana. Ini hanya praduga kakak saja. Coba kamu suruh Yogi pergi ke kampung halamannya Janet."

__ADS_1


"Baik kak."


Haris keluar setelah memberikan alamat lengkap kampung halaman Janet dan semoga memang benar keduanya ada di sana.


***


Mami Janet dan Zee tiba di kampung halaman almarhumah neneknya. Janet langsung mengajak Zee menemui saudaranya. Meski sudah puluhan tahun tidak menginjakkan kakinya di desa ini, Mami Janet masih hapal dengan rumah saudara-saudara ibunya.


"Assalamualaikum, Bibi Na...."


"Wa'allaikumsalam... Eh!" Jawab wanita berumur lima puluh tujuh tahun.


Bibi Na terkejut dengan kedatangan Mami Janet. Bibi Na mempertajam penglihatannya takut kalau-kalau orang yang berdiri di depan pintu rumahnya bukan Janet. Pasalnya sudah puluhan tahun tidak bertemu dengannya.


"Bi...."


"Ini Janet bukan?" Ucapnya tak percaya.


"Iya, aku Janet, Bi."


"Ya Allah... Janet!" Bibi Na langsung memeluk Mami Janet, melepaskan kerinduan yang sudah lama tidak berjumpa.


"Gimana kabar kamu? Kenapa baru Sekang kamu datang kesini?"


"Kabarku baik dan maaf baru bisa menemui bibi kesini."


Setelah itu Zee dan Mami Janet di suruh istirahat dulu di rumah bibi Na.


Ting....


Satu pesan masuk ke handphone Zee dan Zee segera membuka pesan tersebut yang ternyata dari Joko.


"Ibu, mobilnya sudah terjual dan Joko sudah mentransfer uangnya."


"Syukurlah kalau begitu. Dengan uang itu, kita bisa membayar uang sewa rumah dan modal untuk kita usaha. Menurut kamu usaha apa yang cocok?"


"Aku belum bisa menjawabnya. Nanti kita pikirkan lagi, kira-kira usaha apa yang pas buat kita," sahut Zee yang kini merebahkan tubuhnya di pembaringan.


"Besok deh, kita pikirkan. Ibu sudah lelah dan mau cepat tidur," ucap Mami Janet dan segera mengistirahatkan tubuhnya, lalu tidur.


Malampun semakin larut. Zee yang sejak tadi tidak bisa memejamkan matanya, kini tengah duduk memeluk boneka Teddy bear pemberian Marshall. Zee memandangi foto Marshall di handphonenya, foto ketika dirinya dan Marshall tengah pergi ke pantai.


"Baru sehari aku pergi jauh dari kamu, tapi rindu ini sudah mulai menggunung." Lirih Zee menatap foto Marshall yang tengah tersenyum penuh ceria.

__ADS_1


"Kamu lagi apa? Apa kamu juga merindukan aku."


Tak terasa air matanya jatuh menetes membasahi pipinya. Ternyata rindu ini menyiksanya. Ingin rasanya Zee melihat Marshall secara langsung, walau dari jauh. Akan tetapi mustahil itu terjadi.


Zee kembali merebahkan diri di kasur. Dipeluknya erat boneka Teddy bear dan mencoba melupakan Marshall dari ingatannya.


Pagipun menyingsing, memancarkan sinar cerah di pagi hari. Zee yang masih meringkuk, berselimut tebal. Enggan membuka matanya karena hawa sejuk di pagi hari.


"Zee... Bangun, sudah pagi." Mami Janet menggoyangkan tubuh Zee yang masih meringkuk itu.


"Masih ngantuk, Bu dan dingin," parau Zee berucap.


"Pokoknya harus bangun," paksa Mami Janet seraya menarik-narik lengan Zee.


"Iya-iya, aku bangun."


Dengan malasnya Zee membuka matanya yang masih terasa lengket, lalu turun dari kasur. Menyeret langkah kakinya ke kamar mandi.


Selesai mandi Zee membantu bibi Na di dapur, menggoreng singkong yang baru di cabut dari belakang rumahnya.


"Gimana, tidurnya nyenyak?" Tanya bibi Na.


"Nyenyak, Nek."


"Nanti, habis ini kita pergi lihat rumah Pak saleh. Rumah yang akan neng dan Janet tempati."


"Iya, Nek."


Setelah sarapan, Mami Janet, Zee dan bibi Na pergi ke rumah kontrakan Pak Saleh. Jaraknya sekitar dua puluh meter dari rumah bibi Na.


"Ini rumahnya," kata bibi Na saat sudah sampai di depan rumah kontrakan. Rumahnya tidak terlalu besar, tapi asri tempatnya.


"Sudah pada datang rupanya," cetus Pak Saleh yang baru tiba.


"Iya, Pak," jawab bibi Na.


Pak Saleh segera membuka pintu rumah dan mempersilahkan masuk. Zee dan Mami Janet melihat-lihat rumah tersebut.


"Gimana? Suka ?" Tanya Pak Saleh.


"Iya, Pak," sahut Mami Janet.


Dirasa cocok dengan rumah tersebut, dan langsung membayar uang sewa rumahnya. Zee dan Mami Janet akan langsung menempati rumah tersebut hari itu juga.

__ADS_1


Mami Janet langsung membeli peralatan rumah, seperti kasur, lemari, TV dan peralatan dapur. Di rumah itulah hari baru Zee dan Mami Janet di mulai.


Memulai kehidupan yang baru dan pastinya kehidupan yang selama ini Zee harapkan, yaitu tinggal bersama ibunya. Hidup berdua dan berjuang bersama-sama, memulai membuka usaha yang pastinya usaha yang halal.


__ADS_2