
Selesai pergulatan di atas ranjang. Haris menarik tubuh polos Mami Janet dan membawanya ke dalam dekapannya. Tidak peduli dengan keringat yang masih membasahi tubuhnya.
Di kecupnya kening istrinya itu dan di belainya pipinya dengan lembut. Haris tersenyum bahagia karena berhasil meluluhkan hati wanitanya. Tak jemu-jemu Haris memandangi wajah cantik Janet yang kini menempel di atas dadanya.
Mami Janet mengadahkan kepalanya menatap Haris yang begitu lekat memandanginya.
"Kenapa ngelihatin aku kayak gitu," cetus Mami Janet dan tangan Mami Janet kini mulai membelai rahang tegas Haris yang di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Aku tengah mengagumi kecantikan bidadariku," ucap Haris seraya menjawail dagu Mami Janet gemas.
"Ck... Apaan sih. Gombal," balas Mami Janet sembari mendaratkan cubitan di atas dadanya Haris.
"Aw... Jangan di cubit bagian itu. Kalau mau mencubit bagian si perkututnya. Dia bakal senang menerima cubitan dari kamu, apalagi cubitan yang ini." Tunjuk Haris di bagian bawah perut Mami Janet dan sedikit meremasnya.
"Iih... Dasar lelaki tua mesum!" Mami Janet mendelikkan matanya.
"Tapi kamu suka kan?" Ledek Haris dan lagi-lagi Haris meremasnya dengan gemas.
"Nggak!" Jawab Mami Janet dengan wajah merona.
"Bohong! Buktinya kamu sampai merem melek karena keenakan di jajah sama si perkutut," ucap Haris yang senang melihat wajah merona sang istri dan semakin mesum saja omongan Haris dan Haris sangat senang melihat istrinya itu malu-malu tapi mau.
"Sudah, ah! Kok, ngomongnya jadi ngelantur kemana-mana," kilah Mami Janet.
Lalu Haris mengeratkan pelukannya seraya mengelus rambut legam Mami Janet.
"Sayang...."
"Hm... Kenapa?" Sahutnya sembari menatap manik Haris.
"Terima kasih... Sudah memaafkan aku. Jujur aku sangat bahagia sekali. Bagiku, kamu adalah tujuan hidupku dan juga Zee," ucap Haris yang memang tengah dilanda kebahagiaan yang membuncah. Kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Dirinya sangat bersyukur atas semua ini.
"Iya...."
"O ya... Aku mau tanya. Setelah kamu pergi dariku, kamu pergi kemana? Sampai aku nggak bisa menemukan kamu."
"Aku... Ikut seseorang, namanya Madam Lili. Beliau adalah orang yang sudah menolongku dan juga mau menampung ku di rumahnya. Beliau, wanita yang sangat baik. Beliau juga sangat menyayangi Zee, bahkan saat Zee masih bayi. Beliau begitu antusias mengurus Zee," ungkap Mami Janet
"Sekarang, dia dimana?" Tanya Haris lagi.
__ADS_1
"Beliau sudah meninggal," jawab Mami Janet sendu dan mengingat kembali kebaikan Madam Lili terhadapnya.
"Oh... Tapi kenapa kamu memanggilnya Madam?"
"Semua yang ikut kerja dengannya, pasti akan memanggilnya Madam," timpal Mami Janet lagi seraya tangannya menggambar pola abstrak di atas dadanya Haris.
"Memangnya, apa pekerjaannya? " Haris semakin penasaran tentang Madam Lili.
"Pekerjaannya... Sebagai... Mucikari," jawab Mami Janet ragu.
"Mucikari? Terus kamu bekerja dengannya?" Haris yang terkejut mendengar penuturan Mami Janet langsung mendudukkan dirinya dan menatap istrinya.
"Aku memang ikut dengannya, tapi aku nggak kerja yang begituan. Meskipun aku menggantikan posisinya sebagai mucikari, aku nggak pernah sampai melakukan hubungan terlarang dengan lelaki manapun," timpal Mami Janet menjelaskannya.
"Yakin!"
"Iya...."
"Syukurlah kalau begitu," ucap Haris lega. Sebenarnya dirinya sudah mendengar kalau istrinya itu menjadi seorang mucikari dari mulut Jefry. Tapi, apapun alasannya, kenapa sampai bisa istrinya itu menjadi mucikari, yang terpenting tubuhnya tak tersentuh oleh lelaki lain.
Haris kembali menarik tubuh Mami Janet.
Mami Janet hanya mengangguk kecil dan mulai di serang rasa ngantuk. Mami Janet menguap dan memejamkan matanya untuk tidur.
"Hey... Jangan tidur dulu," seloroh Haris menoel pipi Mami Janet.
"Kenapa? Aku sudah ngantuk," jawab Mami Janet.
"Kita belum melanjutkan permainan babak kedua," kata Haris yang mencubit hidungnya.
Mami Janet membuka matanya dan melebarkan bola matanya, mendengar kata babak kedua. Saat akan protes, Haris langsung menyerang bibir ranum Mami Janet dan tak membiarkan istrinya itu banyak bicara.
Haris benar-benar mengulangi pergulatan panasnya dengan Mami Janet.
***
Pagi-pagi sekali kedua pasangan yang lagi hangat-hangatnya sudah bangun dan juga sudah mandi. Hari ini Mami Janet dilarang berjualan atas permintaan Haris dan katanya ingin menghabiskan waktunya hanya berdua di dalam rumah.
Zee yang baru keluar dari kamarnya, tersenyum melihat kedua orang tuanya akur. Zee melangkah mendekati ayah dan ibunya yang sudah menunggunya di meja makan.
__ADS_1
"Kayaknya ada yang lagi kasmaran, nih." Ledek Zee kepada kedua orang tuanya.
Haris hanya tersenyum menanggapi ledekan anaknya, sedangkan Mami Janet tersipu-sipu di ledek Zee.
Zee menautkan kedua alisnya melihat ayah dan ibunya makan sepiring berdua. Zee menggelengkan kepalanya melihat tingkah orang tuanya seperti pengantin baru saja. Apa-apa pengennya berdua bahkan minum pun segelas berdua, biar dikatai romantis.
Tapi Zee senang dan bahagia melihat kemesraan orang tuanya, apalagi melihat wajah keduanya berseri-seri.
Zee selesai sarapan dan mencangklokan tasnya di pundak .
"Ayah, ibu. Aku berangkat sekolah dulu." Pamit Zee dan menyalami punggung tangan orang tuanya.
"Iya dan belajar yang benar," kata Haris seraya mengelus kepala Zee.
"Iya, ayah. O ya... Nanti aku pulangnya agak Sorean, karena ada tambahan pelajaran."
"Hmm...." jawab Haris.
Lalu Zee segera berangkat sekolah dengan hati yang gembira. Gembira melihat kemesraan orang tuanya.
Setelah Zee menghilangkan dari pandangannya, Haris segera menutup pintunya dan menguncinya. Dirinya ingin menghabiskan waktu kebersamaannya bersama istri tercinta.
Mami Janet yang tengah membereskan bekas sarapan di meja makan. Tiba-tiba Haris mendekapnya dari belakang dan menekankan si perkututnya di bokongnya Mami Janet dan tidak lupa mendaratkan ciuman di leher Mami Janet.
"Mumpung nggak Zee. Kita main disini," tukas Haris yang kini tangannya masuk ke balik baju Mami Janet dan meraih salah satu si kembar.
Satu tangannya turun ke bagian bawah perut Mami Janet untuk merayunya agar bersuka rela membuka sarangnya untuk si perkutut nakalnya.
Mami Janet mengigit bibir bawahnya, saat tangan Haris merayu dan menggodanya di bawah sana. Lama memainkannya dan Mami Janet sudah tergoda akan rayuannya, Haris memutarkan tubuh sang istri. Di ciumnya bibir sang istri yang menjadi candunya itu, dengan sedikit ganas.
Haris mengangkat tubuh Mami Janet dan di dudukannya di atas meja makan. Haris semakin liar saat tubuh sang istri sudah tak mengenakan sehelai benangpun.
"Kenapa semakin tua, kamu semakin nakal," cecar Mami Janet saat si perkututnya akan masuk ke sarangnya.
"Karena lekuk tubuhmu semakin menggoda," dan masuklah si perkutut yang nggak sabaran itu dan ingin segera menyirami tanaman Mami Janet yang kini sudah tersirami dari semalam.
Keduanya saling meraih sisi nikmat dalam ber cinta. Di setiap sudut rumah mereka singgahi untuk memuaskan dahaga yang sudah terpendam belasan tahun dan sudah berbagai gaya keduanya lakukan.
Tidak peduli keringat yang membasahi tubuh, yang terpenting Haris dan Janet mendapatkan pelepasan yang sempurna.
__ADS_1