Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Mengambil keputusan


__ADS_3

Marshall masih menahan amarahnya, bahkan nafasnya masih naik turun. Marshall benar-benar belum bisa mengontrol emosinya yang masih membelenggu dirinya.


"Brengsek," pekik Marshall geram mengingat Zee dicium oleh Axel, membuat darahnya bertambah mendidih. Lelaki mana yang terima bila sang kekasih di cium oleh lelaki lain.


"Shall...." Zee memanggilnya lembut dan menyentuh tangan Marshall.


Marshall menoleh, melihat Zee yang terlihat kacau, dengan rambut Zee yang berantakan, lalu Marshall membuang nafasnya perlahan mencoba mendinginkan emosinya yang tadi meledak.


"Aku... Minta maaf," ucap Zee yang merasa bersalah karena telah di cium oleh Axel.


Marshall langsung memeluk Zee. "Kamu nggak perlu minta maaf, karena kamu nggak salah. Aku tahu kamu di paksa sama si baji ngan itu."


Kemudian Marshall melerai pelukannya dan menangkubkan kedua tangannya di pipi Zee. Ibu jari Marshall mengelus bibir atas Zee yang terlihat bengkak akibat ciuman kasar Axel.


"Bibir kamu sampai bengkak begini," sungut Marshall dan ternyata bibirnya Zee terluka. "Ini pasti sakit?"


Zee mengangguk ." Dan perih."


"Benar-benar brengsek cowok itu!" berang Marshall.


Marshall kembali memeluk Zee. Hatinya sakit melihat bibir Zee bengkak dan terluka. Zee semakin mengeratkan pelukannya yang begitu menenangkan hatinya yang tadi sempat terkoyak.


"Shall, aku mau pulang." Pinta Zee lirih.


"Oke...."


***


Setelah mengantarkan Zee pulang, Marshall langsung pergi ke kantor sang ayah. Dengan langkah lebar, Marshall memasuki perusahaan The Star Grup. Hampir semua karyawan yang berada di lantai dasar menyapa Marshall, bahkan sampai ada yang mengagumi ketampanan Marshall.


Marshall kini sudah berada di depan ruang kerja Aries dan Marshall terlebih dahulu bertanya kepada sekretaris sang ayah.


"Mba, ayah ada di dalam?"


"Ada," jawab Lili, sekretaris baru Aries, sebab sekretaris Lisa sudah resign dan lebih fokus mengurus keluarga kecilnya bersama Sam.


Setelah itu Marshall langsung masuk ke dalam ruangannya Aries dan ternyata di dalam ada Sam, asisten pribadi Aries.


"Siang, Yah...." Sapa Marshall setelah masuk ke dalam ruangan kerja Aries.


"Eh! Abang. Tumben Abang kesini?" Tanya Aries yang merasa heran dengan kedatangan Marshall ke kantor.


"Iya. Ada yang mau Abang bicarakan."


Aries mangut-mangut. "Sepertinya penting. Sampai Abang datang ke kantor ayah."

__ADS_1


"Memang...." Jawab Marshall, sembari melangkahkan kakinya menuju sofa dan langsung menjatuhkan bokongnya di sofa. Marshall menompangkan satu kakinya di atas paha.


"Kalau gitu saya permisi, Tuan." Pamit Sam sembari membereskan dokumen. "Permisi, Mas Marshall," lanjut Sam pamit.


"Iya, Om."


Sam segera keluar dan Aries melangkah menghampiri Marshall di sofa. Aries duduk di sofa tunggal.


"Katakan, ada hal penting apa?"


Sebelum mengatakan maksud kedatangannya, Marshall menarik nafasnya terlebih dahulu dan membuangnya.


"Ini soal pembicaraan tempo hari. Mm... Setelah menimbangnya dan memikirkannya matang-matang, Abang bersedia meneruskan perusahaan Asuransi milik papa Adam."


Setelah pembicaraan waktu itu, Marshall terus meminta petunjuk kepada Tuhan dan semalam Marshall bermimpi bertemu dengan papa Adam. Almarhum papa Adam memberi izin sepenuhnya kepada Marshall untuk meneruskan perusahaannya dan saat terbangun dari tidurnya, tiba-tiba hati Marshall mantap mengurus perusahaan PT. AA'KHAN.


Aries tersenyum senang mendengarnya, Aries mendekati Marshall dan menepuk pundak Marshall dengan perasaan senang.


"Bagus. Keputusan yang sangat baik. Ayah senang mendengarnya."


"Tapi ayah mengajari Abang mengelola perusahaan papa kan?"


"Tentu saja. Ayah, Sam dan Pak Didi akan mengajari Abang bagaimana mengurus perusahaan PT. AA'KHAN."


Pak Didi adalah orang kepercayaan perusahaan PT. AA'KHAN dan juga Pak Didi adalah mantan asisten pribadi Adam Adaskhan. Pak Didi mengabdikan dirinya ke perusahaan almarhum papa Adam.


"Kapan Abang akan memulainya?" Tanya Aries.


"Besok juga boleh," jawab Marshall.


"Oke. Ayah harus menghubungi Pak Didi dulu dan menyiapkan apa saja yang harus Abang pelajari."


***


Keesokan harinya, setelah pulang dari kuliah, Marshall datang ke perusahaan PT. AA'KHAN dan memulai mempelajari perusahaan PT. AA'KHAN di temani oleh Pak Didi dan Aries. Marshall begitu serius mempelajarinya dan mendengarkan penjelasan Pak Didi, Bagaimana mengurus perusahaan dengan baik.


Hingga tak terasa waktupun berlalu cepat. Marshall dan Aries siap-siap pulang karena waktu menunjukkan pukul lima sore. Marshall dan Aries segera meninggalkan kantor dan saat sudah di lobby, Marshall dan Aries berpisah mobil.


Sebelum pulang, Marshall terlebih dahulu menemui Zee. Marshall sebisa mungkin menyempatkan diri menemui Zee, walau sesibuk apapun. Marshall tiba di rumah Zee menjelang malam dan kini Marshall sudah duduk di ruang tamu.


"Bagaimana di kantor?" Tanya Zee yang duduk di samping Marshall.


"Cukup melelahkan."


"Sini aku pijitin," tawar Zee dan kedua tangan Zee memijit pundak Marshall.

__ADS_1


"Enak juga pijitan kamu," seloroh Marshall yang menikmati pijatan lembut Zee.


"Iyalah, kan yang pijat ayang-nya," timpal Zee.


Marshall dan Zee tertawa bersama.


"Jika aku sudah aktif mengurus perusahaan, waktu buat kita bertemu akan berkurang dan aku minta sama kamu, tolong jaga diri kamu karena aku pasti tidak setiap hari menemui kamu."


"Iya, tapi kamu juga harus jaga kesehatan kamu, karena waktu kamu terforsir."


"Soal itu, aku bisa mengatasinya tapi yang aku khawatirkan yaitu kamu. Semoga saja tidak ada lagi yang menggangu kamu. O iya, selama tidak bersamaku tolong kamu selalu mengaktifkan GPS handphone kamu."


"Siap, bos."


"Anak pintar," ucap Marshall seraya mengacak rambut Zee.


"E'hem...! Waktu berkunjung sudah habis. Sekarang waktunya kamu pulang," seloroh ayah Haris sembari berkacak pinggang menatap Marshall.


"Iya, Om."


"Zee, aku pulang dulu. Ayah kamu sudah mengusirku, padahal aku masih ingin bersamamu," ucap Marshall.


"Cih...." Dengus ayah Haris sebal.


Marshall berdiri dan mendekati ayah Haris untuk menyalaminya. "Aku pamit dulu, Om."


"Hmm... Sana pulang!" Usir ayah Haris dan Marshall mendekati Zee lagi.


"Zee, sebelum aku pulang cium aku dulu," pinta Marshall yang sebenarnya bercanda.


"Kurang ajar kamu!" Geram ayah Haris.


Marshall mengulum senyumnya melihat ayah Haris mencak-mencak. Entah kenapa Marshall senang melihat ayah Haris mencak-mencak. Sebelum kabur, dengan cepat Marshall mencium pipi Zee.


"Marshall...!!!" Teriak ayah Haris dan melepaskan satu sandalnya untuk di lemparkan ke arah Marshall. Marshall bergegas kabur dari serangan ayah Haris yang sudah mengeluarkan kedua tanduknya.


Pluk


Sandal ayah Haris melayang dan mendarat sempurna menimpuk punggung Marshall yang berlari keluar rumah.


Zee menghela nafasnya. Melihat ayahnya dan Marshall selalu saja bertengkar.


"Yes! Kena juga kamu!" Ucap ayah Haris sedikit senang karena lemparannya berhasil mengenai punggung Marshall dan Marshall nggak pernah kapok di marahin oleh ayah Haris.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Semoga, kakak-kakak yang baca novel ini nggak bosen dengan cerita halu othor yang biasa saja dan tidak sekeren novel othor yang femes.


__ADS_2