Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Hampir saja


__ADS_3

Semenjak pacaran dengan Marshall. Hari-hari Zee terasa berwarna, seperti pelangi yang indah. Zee yang sebelumnya belum pernah di perlakukan spesial, kini semakin membuat hatinya terasa berbunga-bunga dan semakin memekar indah.


Marshall mampu membuat seorang Zee, terus tersenyum ceria. Sikap dan perhatian Marshall, membuat Zee kian bertambah akan rasa sayangnya.


Satu harapan Zee, yaitu bisa terus bersama Marshall sampai sisa akhir hidupnya.


Liora yang melihat kemesraan Marshall dan Zee, membuat hatinya di grogoti rasa cemburu. Dulu, Marshall tidak pernah memperlakukan dirinya sampai segitunya. Tapi berbeda dengan Zee, sikap Marshall begitu sangat manis memperlakukan Zee. Sehingga membuatnya semakin tak terima dan semakin ingin memisahkan Zee dan Marshall.


Kali ini, Ibu guru Nisa memberi tugas kepada muridnya dan harus mengerjakan tugasnya secara berkelompok. Marshall sangat kecewa, lantaran tidak satu kelompok dengan sang kekasih. Marshall merengut manyun, karena usahanya bernegosiasi dengan Bu guru Nisa gagal. Gagal tidak bisa bersama Zee mengerjakan tugas.


"Sudah, jangan manyun terus. Nanti gantengnya hilang, loh," rayu Zee seraya mengusap rambut Marshall.


"Huh... Bu Nisa nggak ngerti akan perasaanku, yang tak ingin jauh dari kamu," keluh Marshall.


"Tapikan kamu harus menerimanya."


Marshall langsung menopang kan dagunya di bahu Zee. "Tapikan aku mau terus sama kamu," ucap Marshall sembari menautkan jari-jarinya ke jari-jari Zee.


Zee tersenyum dengan keluhan Marshall.


***


Hari ini, hari pertama tugas kelompok di kerjakan. Zee dan kelima temannya berada di rumah Dewi. Mereka semua begitu serius mengerjakan tugasnya. Saat tengah serius, seseorang


datang bertamu ke rumah Dewi dan dia adalah Ghifari, yang ternyata adik dari ayahnya Dewi.


"Lagi pada sibuk ngerjain tugas?" Tanya Ghifari, yang mengejutkan semuanya. Zee dan kelima temannya itu menatap bingung dengan keberadaan Ghifari di rumah Dewi.


"Iya nih, Om," jawab Dewi.


"Om? Pak Fari, omnya kamu, Wi?" Tanya Tasya.


"Iya...."


"Oh...." Tasya hanya ber oh saja.


Zee dan temannya kembali mengerjakan tugasnya, sampai tak terasa waktu sudah berjalan hampir dua jam. Kelima temannya Zee sudah pamit pulang lebih dulu, sedangkan Zee menunggu Marshall yang katanya mau menjemputnya.


Zee tengah duduk di teras rumah Dewi seorang diri. Ghifari yang akan pulang, menautkan alisnya melihat Zee belum pulang.


"Kamu belum pulang?" Tanya Ghifari yang berdiri menjulang di samping Zee.


"Belum, Pak," jawab Zee sopan.


"Lagi nunggu jemputan?" Tanya Ghifari lagi.


"Iya, Pak."


Ghifari kembali melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.


Drrtt Drrtt Drrtt

__ADS_1


Zee segera mengangkat telpon dari Marshall.


"Halo...."


"Aku sebentar lagi sampai," kata Marshall.


"Oke, aku tunggu di depan ya...."


" Iya...." Sahut Marshall.


Zee berdiri dan bergegas meninggalkan rumah Dewi dan menunggu Marshall di pinggir jalan. Ghifari yang belum pergi, segera menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan pelan mobilnya ke arah jalan raya.


Zee sudah berdiri di pinggir jalan dan Ghifari yang mau keluar dari rumah Dewi harus berhenti dulu, lantaran harus membuka pagarnya terlebih dahulu.


Ghifari turun dari mobil dan mendorong pagar besi tersebut. Saat sudah selesai mendorong pagar. Ghifari melihat Zee berdiri di pinggir jalan dan Ghifari melihat sebuah mobil melaju ugal-ugalan dan mobil itu menuju ke arah Zee. Ghifari yang melihat itu, segera berlari menolong Zee. Mobil tersebut semakin mendekat dan hampir menabrak Zee dan untung saja Ghifari dengan cepat menarik tangan Zee. Zee terjerembab dan menimpa tubuh Ghifari yang sama-sama terjatuh.


"Aargh...." Refleks Zee berteriak karena terkejut dengan kejadian barusan, apalagi dirinya hampir ketabrak mobil.


Zee segera mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang menolongnya, dan Zee terkejut ternyata yang menolongnya adalah gurunya.


"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Ghifari khawatir.


"Iya, saya nggak apa-apa, Pak," jawab Zee yang masih terlihat syok.


Marshall yang baru tiba, langsung terkejut melihat Zee tengah menimpa tubuh Ghifari dan Ghifari memeluk pinggang Zee.


"Zee...!" Seru Marshall, sedikit menahan emosi.


Zee segera bangun dan berdiri, begitu juga dengan Ghifari. Kedua mata Marshall memindai Zee dan Ghifari. Tatapan Marshall tersirat rasa cemburu.


"Kenapa kamu dan Pak Fari pelukan di tanah?" Tanya Marshall yang cemburu melihat Zee di peluk oleh orang lain.


"Sepertinya kamu salah faham. Aku menyelamatkan Zee dan Zee hampir saja tertabrak mobil," jelas Ghifari, yang tidak ingin muridnya itu berprasangka buruk kepadanya. Apalagi kalau sampai muridnya itu berpikir kalau dirinya sengaja melakukannya, agar bisa memeluk pacarnya.


"Benar seperti itu?" Tanya Marshall kepada Zee.


"Iya, dan untung saja Pak Fari narik aku. Kalau nggak... Mungkin aku sudah tertabrak dan di bawa ke rumah sakit," timpal Zee.


Marshall menghentakkan nafasnya, berusaha membuang rasa cemburu yang membelenggu hatinya. Marshall mencoba tidak egois dan tidak mengedepankan rasa cemburunya dari pada logikanya.


"Kalau gitu, terima kasih Pak, sudah menolong pacar saya," ucap Marshall dan menekan kata pacar, agar Ghifari tau kalau Zee itu pacarnya.


"Iya, sama-sama."


Ghifari, kemudian meninggalkan Marshall dan Zee. Marshall turun dari motornya.


"Apa ada yang terluka?" Tanya Marshall penuh kekhawatiran.


Marshall juga memeriksa tangan, kepala dan juga kaki Zee, takut-takut ada yang terluka atau lecet-lecet.


"Nggak ada," jawab Zee.

__ADS_1


"Ini apa? Ada yang luka 'kan?" Tunjuk Marshall dimana luka lecet di bagian siku.


"Nggak apa-apa, itu nggak sakit," tambah Zee lagi.


"Nggak sakit gimana? Pokoknya luka kamu harus segera di obatin."


Di dalam hati Zee, terasa menghangat dengan sikap perhatian Marshall. Zee nggak nyangka kalau punya pacar bisa semenyenangkan ini. Apalagi mendapatkan perhatian khusus dari sang pacar.


"Ayo, cepat naik. Aku mau beli obat luka buat kamu."


Sebelum Zee naik ke motor, Marshall terlebih dulu memakaikan Zee helm dan setelah itu Zee naik ke boncengan.


.


.


.


Marshall membelokan motornya ke apotek dan bergegas masuk untuk membeli obat luka. Zee hanya menunggu di luar saja. Marshall keluar dari apotek dengan membawa obat di tangannya.


"Sini sikunya, biar aku obatin," tukas Marshall, menarik tangan Zee.


Marshall mengobati luka lecetnya Zee, walau luka itu hanyalah kecil tapi bagi Marshall, luka tetaplah luka dan harus di obati. Selesai mengobatinya, kemudian Marshall meniup-niup lukanya agar tidak perih.


Zee tersenyum tipis melihat sikap manis Marshall dan jika boleh, Zee ingin memeluk Marshall saat itu juga. Sebagai ungkapan rasa terima kasihnya.


"Sudah, yuk. Kita lanjut lagi," seloroh Marshall dan Zee mengangguk setuju.


Marshall melanjutkan perjalanan menuju kosannya Zee, dan Marshall akan menyuruh Zee untuk beristirahat dan tidak boleh keluyuran lagi. Sampai di kosan Zee, Marshall ikut turun dan duduk di teras.


"Katanya, mau langsung pulang?"


"Sebentar lagi, karena aku lagi nunggu sesuatu."


"Nunggu apaan?" tanya Zee lagi.


"Nah, tuh dia sudah datang."


Marshall bangun dan mengambil pesanannya yang sudah di pesan lewat gofood.


"Aku pesan makan buat kamu, agar kamu nggak usah keluar rumah jika kamu lapar."


"Terima kasih, pacar...."


"Uuh... gemesnya. Sini peluk dulu."


Marshall langsung memeluk Zee dengan mesra dan rasanya enggan melepas pelukan ini.


"Aku pulang ya," pamit Marshall dan segera melepas Zee dari pelukannya.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘


To be continued....


__ADS_2