
"Aku nggak akan membiarkan itu terjadi! Sudah cukup selama ini aku yang merasakan kesedihan ini," ucap Mami Janet dan tidak akan membiarkan Zee mengetahui kejadian masa lampau.
Mami Janet langsung tertunduk lesu, mengingat itu semua. Hatinya sakit jika mengingat kembali masa lalunya. Mencintai seorang lelaki dengan segenap hatinya, tapi justru membuat hidupnya menderita dan bahkan sampai ingin mengakhiri hidupnya.
Mami Janet mengusap matanya yang sudah berembun. Mami Janet menghela nafasnya, dan berusaha mengeluarkan rasa sesak di dadanya.
Jefry hanya terdiam menatap wajah Mami Janet yang terlihat sendu.
"Tapi, mbak. Aku mendekati Zee karena ada alasannya," ujar Jefry.
"Apapun alasannya, jangan pernah dekati Zee lagi." Pinta Mami Janet.
Setelah berucap demikian, Mami Janet meninggalkan Jefry disana. Mami Janet memegang dadanya yang masih terasa sesak , akibat mengingat masa lalunya yang menyakitkan. Mami Janet juga berusaha menahan desakan air matanya yang ingin meluncur bebas dari matanya.
"Huuuuhh...." Mami Janet membuang nafasnya dan mengatur lagi nafasnya, agar kembali normal.
Di rasa sudah sedikit membaik. Mami Janet melangkah ke kosannya Zee dan masuk ke dalam kamar kosannya Zee. Mami Janet melihat Zee tengah membersihkan kasurnya dengan sapu lidi.
"Zee... Ibu mau bicara sama kamu," ucap Mami Janet yang terlihat serius dan duduk di kasur.
"Soal apa?"
"Soal lelaki yang mengantar kamu pulang."
"Om Jefry? Memang kenapa sama Om Jefry?" Zee kembali bertanya.
"Kamu jangan dekat lagi dengannya. Ibu nggak suka sama dia," tukas Mami Janet.
"Tapi aku nggak mungkin jauhi, Om Jefry dan lagian aku dan Om Jefry sudah terikat kontrak pekerjaan," jawab Zee sembari menyimpan sapu lidi di atas lemari.
"Pekerjaan apa?" Tanya Mami Janet yang terkejut mendengar omongan Zee barusan.
"Aku jadi model brand pakaiannya," jawab Zee.
"Batalkan kontrak kerjanya," cetus Mami Janet dan tidak peduli soal kerjaan antara anaknya dan Jefry.
"Nggak bisa begitu, Bu. Aku sudah menandatangani surat kontrak kerja. Sudahlah, ibu nggak usah ikut campur dengan urusanku. Pokoknya aku akan tetap melanjutkan kontrak kerja dengan Om Jefry," pungkas Zee sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur. Zee membelakangi ibunya dan memejamkan matanya untuk tidur.
Mami Janet menarik napasnya. Mami Janet ikut melentangkan tubuhnya di kasur tipis dan mengingat kembali kejadian yang sudah di laluinya.
*Flashback*
Mami Janet yang waktu itu hanya seorang gadis sederhana dengan kehidupannya juga sederhana. Kedua orang tuanya berpisah saat Mami Janet berusia lima belas tahun. Setelah kedua orang tuanya berpisah, Janet ikut dengan sang ibu.
__ADS_1
Waktupun terus berjalan, hingga Janet bertemu dengan seorang pria yang bernama Haris yang saat itu usia Janet sembilan belas tahun. Haris yang suka dengan kesederhanaan dan kecantikan Janet membuatnya langsung jatuh hati kepada Janet dan tak memandang Janet dari golongan rendah.
Haris semakin gencar mendekati Janet dan terus memberi perhatian kepada Janet yang hanya seorang OB di perusahaannya.
Saat sedang membersihkan ruang kerja Haris, Janet dikejutankan dengan Haris yang berlutut di depannya sembari mengulurkan setangkai bunga mawar.
"Janet, apa kamu mau jadi pacar aku."
"Iya...." jawab Janet yang memang juga mencintai Haris.
Haris dan Janet pun berpacaran dan bagi Haris hubungan yang di jalaninya bukan main-main, dirinya sangat serius dengan Janet dan menginginkan hubungannya ke yang lebih tinggi, yaitu pernikahan.
"Sayang, nanti sore aku mau ajak kamu bertemu dengan kedua orang tuaku," ungkap Haris saat keduanya tengah makan siang bersama.
Janet terdiam setelah mendengar perkataan Haris. Bukannya tak mau bertemu dengan orang tua Haris, tapi dirinya takut kalau kedua orang tua Haris tak menerimanya.
"Kamu mau ya...." Haris sedikit memaksanya.
Dengan ragu, Janet menganggukkan kepalanya pelan dan menyetujui keinginan Haris.
Haris tersenyum sumringah dan langsung memeluk Janet, tidak lupa Haris mengecup kening Janet.
Waktu pulang pun tiba, Haris langsung mengajak Janet bertemu dengan orang tuanya. Kini Janet sudah berdiri di depan rumah Haris yang megah.
"Ayo masuk," ajak Haris sembari menggandeng tangan kekasih tercintanya itu masuk ke dalam rumahnya.
Mamanya Haris menengok kebelakang, melihat putranya datang bersama seorang wanita.
"Ma, Haris mau kenalin Mama sama pacar Haris," ucap Haris sembari tersenyum melirik Janet.
Mamanya Haris yang bernama Cahyani, menatap wajah Janet dengan tatapan tak suka, apalagi Bu Cahyani tau siapa Janet yang hanya seorang OB di kantor suaminya itu. Janet langsung menurunkan tatapannya kepada Bu Cahyani. Hatinya Janet ketar ketir karena mulai merasakan ketidaksukaan Bu Cahyani terhadapnya.
"Ini pacar kamu? Nggak salah?" tunjuk Bu Cahyani terhadap Janet.
"Memang kenapa?" Tanya Haris.
"Lihat dia." Tunjuk Bu Cahyani ke Janet, Haris melirik Janet yang berada di sampingnya.
"Memang kenapa dengan pacarku?"
"Apa mata kamu katarak. Nggak bisa bedain mana wanita berkelas dengan wanita rendahan." Kesal Bu Cahyani kepada anaknya itu.
"Bu, aku--"
__ADS_1
"Pokoknya Mama nggak setuju kamu pacaran sama dia," tolak Bu Cahyani mentah-mentah.
"Tapi Bu... Aku serius sama Janet dan ingin menikahinya," kekeuh Haris yang kini semakin mengeratkan genggaman tangannya terhadap Janet.
"Apa katamu! Kamu menikahi wanita ini?" Bu Cahyani terkejut mendengar penuturan Haris.
"Nggak!! Mama nggak setuju kamu menikah dengan dia. Asal kamu tahu, kamu itu sudah mama dan papa jodohkan dengan rekan bisnis papa kamu. Jadi Mama minta, lupakan keinginan kamu menikahi dia," sambung Bu Cahyani menolak Janet menjadi menantunya.
"Ma! Haris nggak mau di jodohkan. Haris itu cuma mau nikah sama Janet." Haris tetap kekeuh dengan keinginannya menikahi Janet.
"Sudahlah, Ar. Aku nggak apa-apa kok, kalau kita nggak jadi nikah," ujar Janet.
"Kamu ngomong apa sih. Aku akan tetap menikah dengan kamu," ucap Haris tetap dengan keinginannya.
*
Semenjak penolakan Ibunya Haris. Hubungan Haris dan Janet semakin lengket, dan Haris berencana ingin menikahi Janet tanpa sepengetahuan orang tuanya.
"Sayang, kamu maukan nikah sama aku," kata Haris. Keduanya kini tengah berada di kamar kosannya Janet.
"Mau lah, siapa yang nggak mau nikah sama orang yang aku cintai."
"Kalau gitu, akhir pekan ini kita nikah."
"Apa? Bagaimana dengan orang tua kamu?"
"Kamu nggak usah mikirin itu, yang penting akhir pekan ini kita nikah. Tapi... Kita nikahnya secara agama dulu. Kamu nggak apa-apa kan, kalau kita nikah siri," ungkap Haris.
Janet terdiam sesaat, tapi setelah itu mengangguk setuju sebab Haris menatapnya penuh dengan permohonan.
Haris langsung menarik tubuh Janet dan masuk kedalam pelukannya. Hati Harus bahagia karena sebentar lagi akan menikahi wanita yang di cintainya.
"Kalau gitu, aku pulang dulu. Aku harus mempersiapkan pernikahan kita." Haris beranjak bangun. Sebelum pulang Haris menarik kembali tubuh Janet dan mencium bibir Janet dengan mesra. Haris terus memangut bibir ranum Janet yang sudah jadi candunya. Haris menyudahi ciumannya yang begitu membuatnya terlena dan bahkan enggan menghentikan ciumannya.
"Aku pulang," pamit Haris.
"Iya...."
Janet mengantar Haris sampai teras kosannya dan tersenyum menatap sang kekasih yang memberi kecupan jauh.
"Dasar...."
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....