
Sebulan sudah Marshall dan Zee pacaran, selama itu hubungannya baik-baik saja. Kalau cemburu lebih dominan Marshall, karena Marshall sedikit posesif terhadap Zee. Apalagi jika ada yang mendekati Zee, padahal Zee hanya menganggap laki-laki yang mendekatinya hanya teman saja dan juga tidak begitu dekat. Jangankan dekat dengan laki-laki, dengan perempuan saja tidak begitu dekat kecuali Tieta yang teman sebangkunya, itupun juga tidak sedekat itu.
Terkadang, teman satu team basketnya Marshall menyapa Zee, membuat Marshall langsung terserang cemburu. Pernah, waktu itu Zee menemani Marshall main basket dan saat sedang istirahat, Byan duduk di samping Zee dan bercakap-cakap dengan Zee. Marshall langsung saja menarik Zee agar tidak duduk berdua dengan Byan lagi.
"Aku antar kamu ke tempat kerja ya," tawar Marshall.
"Nggak usah, bukannya kamu harus menemani ibu kamu. Beliau kan sudah menunggu kamu," pungkas Zee.
"Tapi ingat, kamu jangan macam-macam di saat aku nggak ada."
"Nggak! Aku nggak akan macam-macam. Memangnya aku perempuan apaan," kata Zee.
Zee segera naik ke dalam taksi online, yang sudah di pesan oleh Marshall. Marshall tidak mau kalau Zee berangkat kerja naik ojek online, karena Marshall tidak mau Zee kepanasan.
***
Zee baru saja selesai pemotretan, dan Zee langsung pamit pulang. Sebelum pulang, seperti biasa Zee mampir terlebih dulu ke rumah sakit menjenguk Haris. Zee sudah sampai di rumah sakit dan sekarang Zee sudah berada di kamar rawat Haris.
"Halo, Om. Apa kabar," sapa Zee, lalu Zee mengusap punggung tangan Haris dengan lembut.
"Om, betah banget sih tidur terus. Memang Om nggak mau lihat dunia ini lagi."
"Om harus cepat bangun dan bisa berkumpul lagi sama keluarga Om. Apa om nggak kangen sama keluarga, Om?" Lanjut Zee berkata.
Saat sedang asik bercerita, tiba-tiba pintunya terbuka dan menampakkan seorang wanita sepuh berjalan mendekati brankar Haris.
"Kamu siapa?" Tanya wanita sepuh itu.
"Saya...."
"Mama...." Panggil Jefry, yang baru saja masuk.
"Zee, kamu disini rupanya," tutur Jefry dan Zee mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu kenal sama nih bocah?" Tanyanya kepada Jefry.
"Kenal, Ma. Zee, kenalkan ini mamanya, Om dan Ma, ini Zee."
Jefry memperkenalkan kedua wanita beda generasi itu. Zee mengulurkan tangannya dan tersenyum sopan, tapi tatapan Bu Cahyani begitu sinis dan terlihat tidak menyukai Zee.
Zee tersenyum kecut, karena uluran tangannya tak di sambut oleh Bu Cahyani. Zee kembali menarik tangannya.
"Kenapa gadis ini ada disini?" Tanya Bu Cahyani, yang memperlihatkan tatapan tidak suka.
__ADS_1
Zee merasa tatapan Bu Cahyani seperti merendahkan dirinya.
"Nanti Jefry jelaskan," kata Jefry.
"Om, Nyonya. Saya pamit pulang dulu," timpal Zee, karena Zee merasa tidak enak berada dekat dengan Bu Cahyani.
"Hmm... Sana pulang," ketus momy Lyn seraya mengibaskan tangannya.
Zee hanya tersenyum kecut dengan sikap Bu Cahyani. Jefry ingin sekali mengatakan kepada mamanya, siapa Zee sebenarnya. Tapi semuanya belum bisa ia ungkap sekarang, yang harus ia lakukan adalah membuat mamanya itu menyukai Zee.
"Om, akan antar kamu sampai depan," ucap Jefry.
"Tidak perlu Om. Om temani mamanya Om saja," tukas Zee.
"Kalau gitu, kamu hati-hati di jalan."
"Iya, Om. Permisi...."
Zee bergegas keluar dan Jefry hanya bisa membiarkan Zee pergi, walau sebenarnya masih mengharapkan Zee ada disini menemani kedua orang tersayangnya.
"Ma, bisa nggak sih, sikap mama tidak seperti itu terhadap Zee. Dia itu gadis yang baik." Seloroh Jefry berusaha melunakkan hati mamanya yang keras.
"Kamu suka sama gadis itu?"
"Nggaklah Ma. Mana mungkin Jefry suka sama gadis remaja," ucap Jefry. Jefry harus lebih bersabar merayu hati mamanya itu dan berharap kakaknya juga cepat sadar dari komanya.
Bu Cahyani, meraih tangan Haris dan menggenggamnya erat dan tak luput dari kecupan sayang di punggung tangan Haris.
"Ar, cepat bangun. Mama sudah sangat rindu melihat kamu seperti dulu lagi. Ar, apa kamu nggak kasihan sama mama? Lihat mama sekarang, mama sudah semakin tua. Mama ingin anak-anak mama berkumpul bersama mama dan menghabiskan sisa umur mama bersama kamu dan Jefry. Mama mohon... Bangunlah, Ar."
Bu Cahyani tidak kuasa menahan linangan air matanya. Penantian belasan tahun menunggu anaknya sadar dari koma, tapi sampai sekarang anaknya itu tak kunjung membuka matanya.
Tiba-tiba, hati Bu Cahyani menggeram, mengingat istri dari anaknya.
Gara-gara wanita sialan itu, kamu jadi begini.
***
Zee sudah berada di kosannya, waktupun sudah menujukan pukul setengah sebelas malam. Zee baru saja terlelap tidur dan dari luar seseorang mengetuk pintunya.
Lama pintu itu di ketuk, membuat tetangga kosan Zee marah-marah, lantaran mengganggu orang yang sedang beristirahat.
"Non Zee, buka pintunya!" Seru Agus seraya mengetuk pintu dan tidak peduli dengan omelan tetangga kosan Zee. Karena ini sangat genting dan mengharuskan Zee untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
"Siapa sih! Malam-malam ketuk-ketuk pintu. Nggak tahu apa orang lagi istirahat!" gerutu Zee.
Zee yang benar-benar mengantuk menutupi telinganya dan enggan membuka pintunya.
Tok tok tok
Pintu terus di ketuk oleh Agus. Zee menggeram kesal, lalu terpaksa bangun dari tidurnya dan melangkah ke arah pintu.
Ceklek
Pintu di buka dan Zee mengernyitkan dahinya melihat Agus terlihat cemas.
"Akhirnya di buka juga," ucap Agus lega.
"Ada apa malam-malam kesini?"
"Itu, Non. Mami... Mami sakit dan badannya panas banget. Terus dari siang Mami muntah-muntah," terang Agus yang tampak cemas mengingat kondisi Mami Janet.
"Tunggu sebentar, aku ambil jaket dulu dan tas dulu."
Zee menyambar jaket dan tasnya tidak lupa dengan handphonenya. Setelah itu, Zee bergegas keluar dan mengunci pintunya.
"Ayo cepat," desak Zee, meminta Agus cepat-cepat membawanya ke tempat ibunya.
Tiba di rumah indehoy, Zee melangkah tergesa-gesa menuju kamar ibunya. Zee membuka pintu kamar ibunya dan menghampiri ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang.
"Ibu...." Panggil Zee lembut.
Mami Janet membuka matanya yang sayu. "Kamu kok ada disini?" Tanya Mami Janet.
"Iya...."
Kemudian Zee mengecek suhu tubuh ibunya di dahinya.
"Panas banget, Bu. Lebih baik kita ke rumah sakit saja ya," pinta Zee dan Mami Janet hanya mengangguk lemah.
Zee berlari keluar kamar dan memanggil kedua bodyguard ibunya.
"Agus, Joko...." Teriak Zee.
Kedua bodyguard itu bergegas menghampiri Zee.
"Tolong angkat ibu dan kita bawa ibu ke rumah sakit," titah Zee.
__ADS_1
"Baik, Non."
Kedua bodyguard itu bergegas menuju kamar Mami Janet dan membopong tubuh Mami Janet ke mobil. Dibaringkannya Mami Janet di jok mobil dan Zee masuk lalu memangku kepala ibunya. Agus segera menjalankan mobilnya dan menuju rumah sakit P.