
Dua bulan pun berlalu dan kurang dari seminggu lagi, hari pernikahan Zee dan Marshall dilaksanakan. Hari ini Marshall ingin mengajak Zee ke suatu tempat, karena esok dirinya tidak bisa bertemu dengan Zee.
Tanpa keluar dari mobil, Marshall menunggu Zee datang. Marshall tersenyum ketika Zee membuka pintu mobil.
"Kamu mau ajak aku kemana?" Tanya Zee, sembari memasang seat beltnya.
"Ada deh... Nanti juga kamu tahu," jawab Marshall, yang kini menyalakan mobilnya.
"Kebiasaan deh, selalu bikin aku penasaran," sungut Zee dan Marshall hanya tersenyum menanggapi ucapan Zee.
Tiba di tempat yang di tuju. Marshall membelokan mobilnya ke rumah berlantai dua. Mang Uko, satpam rumah tersebut segera membukakan pintu pagar.
"Terima kasih, Mang...." Ucap Marshall. Mang Uko menganggukkan kepalanya dan kembali menutup pintu pagarnya.
"Ini rumah siapa?" Tanya Zee.
"Nanti juga kamu tahu. Ayo turun."
Zee merengut kesal dengan jawaban Marshall. Zee pun turun dan kedua maniknya menyapu sekeliling rumah tersebut. Rumah yang asri, halaman rumah yang memiliki rumput hijau dan ada beberapa pohon palem yang tidak terlalu tinggi.
"Ayo masuk," ajak Marshall seraya menggandeng tangannya zee.
Marshall membuka pintu rumah dan mengucapkan salam kepada seseorang yang tengah menyiapkan makanan di atas meja.
"Eh, Mas Marshall sudah datang rupanya," cetus Mba Ina, ART rumah tersebut.
" Iya, Mba. Perkenalkan ini Zee, calon istriku."
"Halo, Non Zee. Perkenalkan saya Ina, pembantu di rumah ini dan saya akan selalu siap melayani, Non Zee."
"Melayani aku. Maksudnya?" Ucap Zee bingung.
"Ayo, kita duduk dulu. Mba, tolong buatkan minum."
"Baik, Mas," sahut Mba Ina.
__ADS_1
Zee di ajak duduk dengan tatapan bingung. Marshall merangkul pundak Zee dan menyandarkan kepalanya Zee di bahunya.
"Sebenarnya rumah ini adalah rumah kita."
Maksudnya?" Zee mengadahkan kepalanya menatap Marshall.
"Rumah yang akan kita tempati setelah kita menikah. Selama ini aku menabung untuk membeli rumah masa depan kita. Aku tuh ingin kalau kita hidup mandiri setelah kita menikah."
"Oh... Tapi ngomong-ngomong, kapan kamu beli rumah ini?"
"Sebelum lulus kuliah."
"Boleh aku lihat-lihat rumah kita?"
"Tentu saja boleh, ayo...."
Zee sangat senang dan antusias melihat-lihat rumah yang akan ditempati bersama Marshall. Dengan langkah semangat, Zee naik ke lantai dua, dimana letak kamar yang nantinya akan ditempati.
"Ini nanti kamar kita," seloroh Marshall, yang ikut masuk kedalam kamar.
"Iya dan kamu tinggal nempatin saja. Di lemari juga sudah ada pakaian buat kamu."
"O ya...." Dengan rasa penasaran Zee membuka lemari pakaian dan Zee tercengang melihat isi lemari pakaian yang sudah banyak.
"Sebenarnya, aku meminta tolong sama ibumu untuk membelikan pakaian untukmu," sambung Marshall, yang kini memeluk Zee dari belakang dan tidak ketinggalan dengan kecupan mesra di pipi Zee.
"Gimana, kamu suka?" Kata Marshall lagi.
"Suka... Sangat suka. Terima kasih atas semuanya yang kamu berikan untukku."
"Kalau gitu, aku minta bayarannya."
"Jangan minta bayaran, aku nggak punya apa-apa," balas Zee.
"Bayarannya gampang. Bayar aku dengan ciumanmu."
__ADS_1
Zee tertawa kecil dengan perkataan Marshall, lalu Zee menganggukkan kepalanya setuju.
***
Hari yang di tunggu-tunggu pun kini tiba. Dimana hari yang akan menjadi sejarah di dalam hidup Marshall dan Zee. Hari yang akan menjadi saksi pernikahan antara Zee dan Marshall. Hari yang akan mengubah kehidupan dua insan yang sebentar lagi akan menjadi satu dalam ikatan suci pernikahan.
Dengan langkah pelan, Zee berjalan melewati para tamu undangan yang tengah menatapnya. Zee yang ditemani oleh Aisyah, tersenyum menatap Marshall yang tengah berdiri untuk menyambutnya datang.
Dengan jantung yang berdebar-debar, Marshall mengulurkan tangannya menyambut kedatangan sang pujaan hati. Marshall menarik kursi untuk Zee duduk, setelah itu giliran dirinya yang duduk.
Ayah Haris yang duduk didepannya, kini sudah mengulurkan tangannya untuk memintanya bersalaman dengannya. Dengan gugup Marshall mengangsurkan tangannya untuk bersalaman dengan ayah Haris.
"Sudah siap?" Tanya bapak penghulu kepada ayah Haris dan Marshall.
"Siap, Pak," jawab Marshall gugup.
Ayah Haris merapalkan ijab qobul dan setelah itu giliran Marshall. Dengan rasa gugup dan berdebar-debar, Marshall merapalkan ijab qobul dengan satu tarikan nafas. Mengikrarkan janji suci pernikahan di hadapan Tuhan dan semua para saksi.
Kata sah, kini terucap dari mulut saksi nikah dan juga para tamu undangan yang hadir.
"Huft...." Marshall membuang nafas lega, begitupun juga dengan Zee.
Kini kehidupan Marshall dan Zee, siap menjalani mahligai rumah tangga dan berharap di setiap cobaan yang akan mereka hadapi, mampu keduanya hadapi bersama-sama.
Mami Janet menyeka air matanya. Rasa bahagia kini ia rasakan, begitu juga dengan ayah Haris yang sama bahagia dan juga sedih harus melepaskan putri tercintanya hidup bahagia dengan pilihannya.
Hana dan Aries, tersenyum melihat Marshall yang kini tengah memamerkan buku nikahnya ke hadapan fotografer.
*Selamat berbahagia, Bang. Semoga Abang bisa menjadi suami yang bertanggung jawab. Menjadi imam dalam rumah tangga yang akan Abang jalani.
Jadilah suami yang sayang keluarga dan cintailah selalu orang yang akan menemani Abang sampai tua.
Semoga Abang dan Zee bisa melewati badai yang akan datang kapan saja. Sejatinya, membina rumah tangga tidak akan selalu berjalan mulus.
Sekali lagi, ayah ucapkan Selamat menempuh hidup baru. Ayah dan ibu, sayang Abang*.
__ADS_1