Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Kekesalan Liora


__ADS_3

"Nggak tahu, soalnya aku langsung kabur," jawab Liora lagi.


Marshall yang mendengar pembicaraan Liora dan teman-temannya, langsung menggeram kesal.


"Ternyata yang nabrak Zee adalah Liora. Sialan...!!" Geram Marshall yang kini mengepalkan tangannya.


Zee dan Aisyah keluar dari mobil dan Marshall mendekati keduanya.


"Ais, tolong bantu Zee sampai kelas. Abang ada urusan lain," ucap Marshall lembut.


"Iya Abang," jawab Aisyah.


"Terima kasih, Ais," ucap Marshall seraya mengacak-acak rambut Aisyah.


"Iiih...." Sungut Aisyah yang tak suka rambutnya di acak-acak oleh Marshall. "Ayo, kak Zee," ajak Aisyah yang langsung menggandeng lengan Zee.


Aisyah dan Zee sudah melangkah jauh, lalu Marshall mencari Liora yang kini tengah berjalan menuju kelasnya. Langkah kaki Marshall di percepat saat melihat Liora.


"Liora...." Panggil Marshall, dan berusaha memperlihatkan wajah yang bersahabat, tidak lupa dengan senyumannya.


Liora menengok ke belakang dan tersenyum manis saat tahu yang memanggilnya adalah Marshall. Marshall segera mendekati Liora yang berdiri bersama kedua temannya itu.


"Ada apa?" Ujar Liora sembari tersenyum menampilkan gigi-giginya yang rapi.


"Aku mau bicara sama kamu, bisa," ucap Marshall lembut.


"Bisa-bisa," jawab Liora cepat. Hati Liora bersorak-sorai senang melihat Marshall seperti dulu lagi dan berharap kali ini Marshall mau kembali bersamanya lagi.


Marshall menarik tangan Liora dan membawanya ke tempat sepi. Tiba di belakang sekolah, yang memang tempat itu jarang di kunjungi oleh siswa. Marshall melepaskan tangan Liora, kemudian mendorong tubuh Liora ke tembok. Marshall mengapit tubuh Liora dengan kedua tangannya yang di letakkan di kedua sisi tubuh Liora.


Liora semakin senang, dengan apa yang dilakukan Marshall terhadapnya, kemudian Liora memejamkan matanya dan menyambut ciuman manis dari Marshall.


Marshall mendengus melihat Liora yang memejamkan matanya dan mencibir Liora.


"Liora...."


"Apa?" Jawab Liora yang masih memejamkan matanya, dan di dalam hatinya semakin membuncah karena dirinya bisa merasakan nafas Marshall yang mendekati wajahnya.


"Kenapa kamu nabrak Zee!" Bisik Marshall di telinga Liora.


Seketika Liora membuka matanya, dan menatap kedua manik Marshall yang begitu dekat dengannya. Liora melihat sinar mata Marshall begitu tajam menatapnya. Liora menelan Salivanya, tak menyangka dengan ucapan Marshall yang dia lontarkan terhadapnya.


"Ng-nggak. Aku nggak menabrak dia," elak Liora gugup.


Marshall tersenyum sinis. Kemudian Marshall mencengkram dagu Liora.


"Jangan bohong! Jawab dengan jujur, kalau tidak aku bakal laporkan kamu ke polisi," ancam Marshall yang menatapnya tajam.


Liora berusaha melepaskan cengkraman tangan Marshall, karena itu sedikit membuatnya sakit.

__ADS_1


"Iya...! Aku memang yang menabraknya karena dia sudah berani merebut kamu dari aku," jawab Liora kesal.


"Kamu jangan menyalahkan Zee atas putusnya hubungan kita. Harusnya kamu introspeksi diri! Kenapa aku sampai tega mutusin kamu!"


"Sekali lagi kamu nyakitin Zee, aku pastikan kamu bakal menyesal dan kamu akan tahu akibatnya nanti." Ancam Marshall dan juga menegaskan apa yang dikatakannya.


Marshall melepaskan cengkraman tangannya di dagu Liora dan menatap bengis wajah mantan kekasihnya itu. Marshall kemudian meninggalkan Liora seorang diri disana.


"Aargh... Sialan!" Teriak Liora penuh emosi.


"Darimana Marshall tau kalau aku yang nabrak Zee!" Gumam Liora kesal.


***


Zee sudah berada di kelasnya dan Aisyah sudah pergi ke kelasnya juga. Tidak lama Marshall datang, Marshall menarik bangkunya ke samping Zee.


"Kenapa kamu ngeliatin aku kaya gitu?" Tanya Zee heran melihat Marshall yang begitu lekat memandanginya.


"Nggak kenapa-napa, pengen aja ngelihatin kamu. Soalnya kamu cantik dan manis," ujar Marshall.


Zee mencibir perkataan Marshall dan mendelikkan matanya.


"Kalau mau pacaran jangan disini. Ganggu orang yang mau lewat saja," sungut teman sekelasnya yang akan lewat ke mejanya, karena bangku Marshall menghalangi jalan.


"Kalau mau lewat, ya lewat aja," jawab Marshall santai.


Tidak lama guru datang dan pelajaran pun di mulai. Sekitar tiga jam belajar di kelas, tiba waktunya untuk istirahat.


"Nggak, aku mau tetap disini."


"Baiklah, aku ke kantin dulu beli sesuatu untukmu." Kemudian Marshall bergegas pergi ke kantin.


Setelah Marshall pergi, Zee bangun dan keluar kelas. Zee berjalan ke arah toilet untuk cuci muka. Saat akan berbelok ke toilet, Zee di dorong oleh Liora dari belakang.


Brugh


"Aw...." Ringis Zee, yang terjatuh ke lantai. Zee menoleh ke arah belakang dimana Liora tengah berdiri disana dengan tatapan nyalang.


"Kenapa kamu dorong aku!" Sentak Zee kesal. Zee sedikit meringis karena lututnya terasa nyut-nyutan.


"Gara-gara kamu, Marshall semakin membenci aku!" Hardik Liora dengan kemarahan yang menggebu.


"Lah...! Apa salah aku, kalau Marshall semakin benci sama kamu," balas Zee tak kalah lantangnya.


"Jelaslah gara-gara kamu! Karena kamu berhasil merebut Marshall dari aku dan kamu berhasil mempengaruhi Marshall agar membenciku!" Tuduh Liora penuh emosi


"Eh!! Jangan asal ngomong kamu! Kapan aku ngerebut Marshall dari kamu!" Jawab Zee sama kesalnya.


Liora yang sudah di butakan emosi, langsung menjambak rambut Zee. Zee juga tidak tinggal diam, Zee juga membalas Liora dengan cara menendang tulang keringnya.

__ADS_1


"Argh... Sialan lu!" Teriak Liora yang kesakitan.


Liora semakin geram dan kini mulai menyerang Zee lagi.


"Berhenti!" Teriak Ghifari.


Liora menelan Salivanya, melihat guru olahraganya itu berdiri tidak jauh darinya. Ghifari mendekati keduanya dengan pandangan menusuk.


"Kalian berdua ikut bapak!" Titah Ghifari tegas.


"Baik, Pak," jawab Zee.


Zee dan Liora digiring menuju ruang guru. Zee dan Liora sudah duduk di depan meja Ghifari dan saling menundukkan kepalanya.


"Kenapa kalian berantem?" Tanya Ghifari tegas.


"Dia duluan Pak! Dia yang ngajak saya berantem," jawab Liora dan berharap Zee lah yang nantinya mendapatkan hukuman.


"Bohong, Pak!" Tegas Zee.


"Saya nggak pernah mengganggu dia, apalagi memusuhinya. Tapi Liora sendiri yang mengajak ribut," lanjut zee.


"Eh! Dengar ya--"


"Liora!!" Potong Ghifari dengan nada menekan.


Ghifari menghela nafas, lalu di pandangnya kedua muridnya itu.


"Bapak peringati kalian berdua untuk tidak berantem lagi. Jika kalian ketahuan berantem lagi, kalian berdua akan bapak hukum!"


"Iya, Pak," jawab Zee, sedangkan Liora melirik Zee sinis.


"Ingat. Ini peringatan pertama dan terakhir, kalian ngerti!" Sambung Ghifari lagi.


"Ngerti, Pak," jawab Zee dan Liora.


"Sekarang kalian boleh masuk kelas," suruh Ghifari.


"Baik, Pak."


Liora lebih dulu meninggalkan meja Ghifari. Zee pun ikut menyusul meninggalkan Ghifari. Zee berjalan sedikit tertatih-tatih, karena kakinya belum sembuh.


Ghifari memperhatikan Zee dan tanpa sadar mengikuti langkah Zee. Saat Zee akan turun dari undakan, tiba-tiba tubuh Zee tidak seimbang karena menahan kakinya yang sakit.


"Eh...." Seru Zee yang akan terjatuh.


Ghifari yang mengikutinya, dengan cepat menangkap tubuh Zee yang akan terjerembab ke lantai.


🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘


To be continued....


__ADS_2