Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Mendapat Restu


__ADS_3

"Aries... Aku benar-benar minta maaf atas kejadian di masa lalu. Aku menyesal sudah menuduhmu. Apa persahabatan kita bisa di perbaiki?" Ucap ayah Haris, dengan tatapan menyesal dan juga memohon.


Aries menoleh menatap datar wajah ayah Haris, lalu Aries kembali menatap jalanan.


"Bagaimana ya...." Jawab Aries menggantung.


Ayah Haris langsung menundukkan kepalanya dan Aries pasti tidak mau lagi menjalin persahabatan dengannya. Kemudian ayah Haris menghela nafasnya. Mungkin kesalahannya tidak dapat dimaafkan oleh Aries.


Tepukan tangan di atas punggung ayah Haris, membuat ayah Haris menegakkan kepalanya dan menatap Aries.


"Dari dulu aku sudah memaafkan kamu dan aku nggak pernah marah sama kamu. Buatku kamu tetap sahabat baikku," cetus Aries sembari tersenyum.


Senyum ayah Haris terbit di bibirnya dan langsung memeluk Aries erat. "Terima kasih... Terima kasih kamu sudah memaafkan aku. Kamu memang sahabat baikku," balas ayah Haris, yang masih memeluk Aries seraya menepuk punggungnya.


"Lepaskan! Geli aku di peluk sama kamu," pungkas Aries seraya mendorong bahu ayah Haris.


Ayah Haris melepaskan pelukannya dan keduanya tertawa bersama. Ayah Haris dan Aries saling merangkul pundaknya. Rasa lega kini ayah Haris rasakan, setelah sekian tahun dirinya merasa bersalah karena telah menuduh Aries berselingkuh dengan Diva.


"Apa kita bakal jadi besan?" kata Aries.


"Besan?"


Ayah Haris tertawa kecil mendengar kata besan. Entah kenapa berasa lucu.


"Apa kamu menyetujui hubungan Zee dan Marshall?" Kali ini ayah Haris memberi pertanyaan.


"Terpaksa. Demi kebahagiaan putraku. Walau sebenarnya aku nggak mau besanan sama kamu. Kalau Kamu?"


"Sama. Aku juga nggak mau kali besanan sama kamu." Balasnya, lalu ayah Haris dan Aries saling menatap dan tawa mereka pecah.


"Marshall adalah lelaki yang hebat." Puji ayah Haris.


"Tentulah, siapa dulu ayahnya." Aries membanggakan dirinya sendiri.


"Ck...." Cibir ayah Haris.

__ADS_1


"Jadi kita bakal jadi besan," ucap Aries lagi dan ayah Haris mengangguk.


***


Untuk pertama kalinya, Hana bertemu dengan Mami Janet. Keduanya saling berkenalan dan langsung mengakrabkan diri. Zee tersenyum menatap kedua ibunya dan ibunya Marshall, yang saling berbincang di sofa, tapi kini pikirannya melayang ke ayahnya. Zee takut kalau ayahnya Marshall memarahi ayahnya. Mengingat, Marshall datang untuk menyelamatkannya dan terluka akibat dirinya.


Zee semakin gelisah dan bagaimana jika ayahnya Marshall melarangnya dekat dengan Marshall. Zee menunduk sendu memikirkan hal itu.


Begitu berat kah jalan hubungan dirinya dan Marshall. Tak pantaskah dirinya bersanding dengan Marshall dan mampukah dirinya dan Marshall mempertahankan hubungan ini, meski tanpa restu dari ayahnya dan ayahnya Marshall.


"Kenapa" tanya Marshall, yang melihat Zee terlihat sedih.


"Aku... Lagi mikirin ayah," lirih Zee. " Bagaimana jika ayah kita tidak merestui hubungan kita." Ungkap Zee yang galau.


" Jika memang benar begitu. Aku akan memperjuangkan hubungan kita sampai mendapatkan restu dari ayah kita."


Zee terharu mendengar perkataan Marshall, lalu di genggamannya tangan Marshall.


"Berarti kita harus sama-sama berjuang," timpal Zee lagi.


Ayah Haris dan Aries masuk. Keduanya mendekati Marshall dan Zee. Double RIS itu menatap wajah Zee dan Marshall secara bergantian.


"Yah...." Ucap Marshall.


Lalu Aries, menyentuh pundak Marshall dan tersenyum menatapnya.


"Ayah dan Om Haris, menyetujui hubungan kalian."


Marshall langsung mengadahkan kepalanya dan menatap Aries tak percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Serius, yah...." Dan Aries mengangguk. Marshall tersenyum bahagia dan Zee berkaca-kaca menatap ayah Haris dan juga meminta kebenarannya.


Ayah Haris mengangguk kecil sembari tersenyum menatap wajah putrinya itu.


"Ayah...."

__ADS_1


Zee langsung memeluk ayah Haris dengan perasaan haru dan bahagia. Zee tak menyangka kalau ayahnya dan ayahnya Marshall merestui hubungannya dengan Marshall. Kini kegelisahan yang tadi dirasakannya, menguap entah kemana.


"Terima kasih, ayah...," Ucap Zee.


"Iya. Asalkan putri ayah ini bahagia," balas ayah Haris, lalu di ciumnya puncak kepala Zee.


"Thanks, yah. Sudah merestui aku dan Zee," tukas Marshall, dengan senyum terus tersungging di bibirnya dan Aries mengangguk.


"Tapi ada syaratnya," ucap ayah Haris.


"Apa syaratnya, Om?" Tanya Marshall.


"Dilarang peluk-pelukkan dan juga cium-ciuman."


"Hah! Kok gitu sih, Om." Protes Marshall, yang tak terima bila hal menyenangkan bersama Zee dilarang.


Mana bisa Marshall tidak peluk cium Zee. Baginya Zee sudah menjadi candunya. Masa iya pacaran hanya pegangan tangan saja. Begitu pikiran Marshall.


"Yah... Kalau gitu nikahin Abang sama Zee," pinta Marshall mengiba.


"Nggak!" Tolak Aries dan ayah Haris bersamaan.


Marshall mendengus. "Peluk cium nggak boleh dan minta di nikahin juga nggak boleh," gerutu Marshall, melirik Aries dan ayah Haris.


"Abang sama Zee bukannya nggak boleh nikah, tapi kalian berdua harus selesaikan dulu kuliahnya," ucap Aries dan Marshall merengut manyun.


Zee menggelengkan kepalanya, melihat Marshall manyun. Tapi di balik itu semua, hati Zee tengah membuncah bahagia.


"Bucaaan!" Teriak Marshall, meminta bantuan kepada Hana dengan tatapan memelas.


"Ibu nggak bisa bantu, Abang."


"Yaaa, Bucan nggak asik!" Kesal Marshall.


Dan semua yang ada di sana tertawa kecil, melihat Marshall tak ada yang mendukungnya.

__ADS_1


"Ayaaaah... Nikahin Abang sama Zee...."


__ADS_2