Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Terbebas


__ADS_3

"Agus....! Teriak Mami Janet.


Agus yang sedang membuat kopi di dapur, berlari menghadap Mami Janet.


"Iya, Mi. Ada apa?"


"Panggil Wanda ke sini!" Tukas Mami Janet. "Cepat...!!"


"Baik, Mi...."


Agus bergegas mencari Wanda di kamarnya.


Zee semakin tersenyum menang, melihat kekalahan ibunya. Zee melihat ibunya itu, terlihat sangat kesal. Kesal harus melepaskan kembang berharganya.


Agus sudah kembali datang bersama Wanda. Zee tersenyum kepada Wanda yang kini tengah meliriknya.


Wanda menundukkan kepalanya, saat berhadapan dengan Mami Janet. Mami Janet mendekati Wanda dan menatapnya dingin. Di angkatnya dagu Wanda dengan jari telunjuknya.


Wajah Wanda terlihat pias. Takut Mami Janet akan memarahinya, karena meminta Zee untuk membantunya keluar dari sini.


"Bagus...! Kamu berhasil mempengaruhi anak Mami. Agar kamu bisa terlepas dari sini," cetus Mami Janet dingin.


Wanda menelan Salivanya kasar. Wanda melihat tatapan Mami Janet begitu menusuknya.


"Apa kamu senang keluar dari sini?"


Wanda diam dan menundukkan pandangannya. Wanda tidak berani menjawab perkataan Mami Janet. Wanda pasrah jika dirinya tidak bisa keluar dari tempat ini.


"Agus...."


"Iya, Mi...."


"Ambil barang-barangnya dia dan bawa ke sini," tukas Mami Janet, yang kini sudah melepaskan dagu Wanda.


Wanda masih menundukkan wajahnya dan tidak berani mengangkat kepalanya. Ia hanya berharap, bisa terbebas dari tempat ini.


"Baik, Mi...."


Sekitar tiga puluh menit, Agus datang membawa semua barang-barang milik Wanda. Diletakkannya barang-barang Wanda, di belakang tubuh Wanda.


Mami Janet bangun dari duduknya dan kembali mendekati Wanda yang masih berdiri di tempatnya.


Zee yang sudah berganti pakaian dengan seragam, kini ikut berdiri di dekat Wanda.


"Itu barang-barang milik kamu. Sekarang Mami bebaskan kamu tanpa syarat, tapi jika kamu kembali lagi datang kesini. Jangan harap Mami akan membebaskan kamu lagi. Ngerti kamu!"


Wanda mengangguk sembari menahan air matanya dan di dasar lubuk hatinya, terus berucap syukur karena terbebas dari sini.


"Silahkan pergi dari sini." Mami Janet menunjukkan ke arah pintu keluar.


Dengan rasa lega, Wanda mengambil barang-barangnya dan membawa keluar dari sini. Tempat yang sudah membuat hidupnya suram dan juga tempat yang sudah merenggut kehormatan yang sudah dia jaga dengan baik. Wanda hanya berharap, setelah keluar dari sini ada laki-laki yang mau menerima dirinya apa adanya.


Zee mendekati ibunya dan menatap senang wajah ibunya.

__ADS_1


Mami Janet memalingkan wajahnya kesal. Ia harus merelakan kembang berharganya begitu saja dan itu semua gara-gara anak tersayangnya.


"Kerja bagus, Bu. Aku suka ibu membebaskan Wanda."


Zee mencium pipi ibunya sebagai tanda terima kasihnya. Sebelum melangkah pergi, Zee berbisik di telinga ibunya.


"Semoga hari esok, ibulah yang mendapatkan hidayah dari Tuhan. Aku berangkat sekolah dulu."


Setelah itu, Zee melangkah meninggalkan ibunya yang terlihat kesal.


*


Zee berlari mengejar Wanda yang sudah hampir sampai di ujung gang.


"Mba Wanda tunggu!!" Teriak Zee.


Wanda menoleh dan tersenyum lebar melihat Zee menghampirinya.


"Selamat ya... Akhirnya mba bisa hidup bebas dari sini dan mba bisa kembali menata hidup mba yang baru, dan semoga ibu mba cepat sembuh." Ucap Zee, yang senang karena ia berhasil membebaskan satu orang dari tempat penuh dosa itu.


"Iya. Aku juga mau mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, karena berkat kamu aku bisa keluar dari tempat ini."


Zee langsung memeluk Wanda dengan rasa bahagia. Zee bisa melihat wajah Wanda yang ceria.


"O ya... Ini ada uang buat ibu mba. Nggak besar sih, tapi lumayan lah bisa meringankan beban, Mba. Untuk mengajak ibu mba ke dokter. Terimalah...."


Zee menyerahkan amplop coklat itu ke tangan Wanda. Wanda berkaca-kaca, terharu dengan kebaikan Zee. Sudah membantunya keluar dari sini dan sekarang Zee memberikannya uang.


Wanda kembali memeluk Zee dengan rasa bahagia.


Zee hanya mengangguk kecil sebagai jawabannya.


***


Tiba di sekolah. Zee berlari menuju kelasnya, karena sebentar lagi jam pelajaran akan segera dimulai.


Zee langsung masuk ke kelas dan duduk di bangkunya, dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Kenapa harus lari-lari sih," gerutu Marshall, lalu Marshall mengambil sapu tangannya di dalam tas.


Marshall mengelap wajah Zee yang berkeringat.


"Aku kan tadi sudah mau jemput kamu. Tapi kamunya nggak mau di jemput, kenapa hemm...." Ucap Marshall seraya mencubit hidung minimalisnya Zee.


"Aku nggak mau manja. Sekali-kali aku mau berangkat sendiri tanpa di jemput sama kamu."


Itu hanya alasan Zee, agar Marshall tidak menjemputnya di rumah ibunya. Andai Marshall menjemputnya di rumah ibunya. Apa Marshall akan langsung menjauhinya dan kemungkinan di putusin sama Marshall. Zee belum siap untuk itu.


"Justru aku senang jemput kamu dan kita bisa berangkat sekolah sama-sama, sekalian pacaran."


Zee hanya memutarkan bola matanya. Yang ada di otak Marshall hanyalah pacaran dan pacaran.


"Pulang sekolah, kita nonton yuk."

__ADS_1


"Aku nggak bisa. Kapan-kapan saja ya, karena aku harus ke rumah ibu. Ibu kan baru sembuh, jadi aku mau nemenin ibu dulu. Nggak apa-apa kan?"


"Ya sudah nggak apa-apa," tukas Marshall sembari mengacak rambut Zee.


Bu guru Nisa pun datang dan pelajaran segera di mulai.


***


Teeeng teeeng.


Suara bel sekolah, tanda berakhirnya jam sekolah.


Marshall mengantar Zee sampai depan gerbang sekolah dan menunggu taksi yang sudah di pesan oleh Marshall.


"Kalau sudah sampai, segera hubungi aku ya, pacar," tukas Marshall sembari memainkan jemarinya Zee.


"Iya...."


"Kalau di rumah ibu kamu, jangan kelayapan dan jangan tebar pesona sama cowok-cowok di sana," lanjut Marshall memberi petuah.


"Iya...."


"Ingat kalau kamu itu sudah punya pacar dan pacar kamu itu sangat ganteng, bahkan ke gantengnya melebihi oppa-oppa Korea," Marshall masih lanjut memperingati Zee, agar tidak tergoda cowok lain.


"Iya, pacar...." Gemas Zee.


Mobil taksi online pun sudah datang. Sebelum Zee masuk, Marshall lagi-lagi bercelatuk.


"Ingat! Apa yang sudah aku katakan tadi dan awas saja kalau kamu melanggarnya. Akan aku seret kamu ke Bapak penghulu dan nikahkan kita, supaya kamu tidak lagi melanggarnya."


Zee hanya tertawa kecil mendengarnya. Ternyata punya pacar yang posesif seperti Marshall itu menyenangkan sekaligus mengesalkan.


"Iya-iya... Akan aku ingat selalu kata-katamu," ucap Zee sedikit mengejek.


Marshall mendelikkan matanya. Padahal semua yang ia katakan benar-benar serius.


"Aku pulang ya...."


Marshall segera membukakan pintu mobilnya dan taksi pun mulai meninggalkannya.


Di perjalanan, taksi yang di tumpangi Zee, tiba-tiba berhenti di pinggir jalan. Pak supir turun dan mengecek mobilnya dan ternyata ban mobilnya kempes.


"Kenapa, Pak?"


"Bannya kempes, Neng. Maaf ya... Saya tidak bisa mengantarkan neng sampai tujuan," Pak supir merasa tidak enak hati.


"Ya sudah, tidak apa-apa, Pak."


Zee segera mencari kendaraan lain, dan dari sebrang, tepatnya di minimarket. Liora dan ketiga temannya itu baru selesai membeli sesuatu di minimarket. Enzi yang tidak sengaja melihat Zee berdiri di pinggir jalan dan melihat Zee menyetop angkot.


🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih masih setia menunggu cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2