
lima hari sudah Mami Janet di rawat dan hari ini Mami Janet sudah di perbolehkan pulang oleh dokter, sebelum pulang Zee terlebih dulu menjenguk Haris. Zee melangkah masuk dan menyapa Haris.
Entah kenapa, Zee ingin selalu melihat Haris. Setiap berada di dekat Haris, hati Zee selalu menghangat dan seperti ada ikatan hati, padahal dirinya dengan Haris bukanlah siapa-siapa.
Di pandanginya wajah Haris yang damai dalam tidurnya dan mengelus tangan Haris lembut.
"Om, Zee pamit pulang dulu ya dan jangan merindukan Zee. Kapan-kapan Zee bakal ke sini lagi jenguk, Om."
Sebelum meninggal Haris pulang, Zee menyalami tangan Haris dan mencium punggung tangan Haris. Tiba-tiba, jemari Haris bergerak pelan.
Zee yang merasakan jari-jari Haris bergerak terus menatap jemari Haris dan wajah Haris. Zee tersenyum senang saat kelopak mata Haris mulai bergerak.
"Om...."
Zee terus memperhatikan Haris lekat, tapi saat itu juga Mami Janet tiba-tiba datang.
Brakk. Pintu di buka secara kasar.
"Zee...!!" Sentak Mami Janet.
"Ibu...." Lirih Zee yang terkejut dengan kedatangan ibunya.
Zee menegakkan tubuhnya dan memutarkan tubuhnya menghadap ibunya. Zee melihat tatapan mata ibunya yang nyalang penuh emosi.
Nafas Mami Janet memburu kesal dan menggelengkan kepalanya melihat Zee masih menemui Haris.
"Ibu...."
"Sudah ibu bilang jangan temui dia lagi! Kenapa kamu tidak mendengarkan ibu!" Hardik Mami Janet penuh emosi.
Mami Janet mendekati Zee dan menarik Zee untuk segera keluar dari sana.
"Bu, sakit tanganku," ringis Zee.
Mami Janet tidak memperdulikan ringisan putrinya dan terus membawa Zee keluar.
"Ja-- jan-net...."
Mami Janet menghentikan langkahnya. Nafasnya tercekat saat mendengar suara berat itu.
"Mas... " lirih Mami Janet.
"Ja-- Janet ka-kamu di si- ni."
"Bu ... Om Haris bangun, tapi kok... Panggil ibu," ucap Zee bingung dan menatap wajah ibunya yang terlihat menegang.
"Janet...." Panggil Haris lagi.
Mami Janet berusaha menahan air matanya dan tidak mau menatap Haris. Hatinya masih menyimpan rasa sakit yang mendalam.
"Bu...." Panggil Zee, yang meminta jawaban.
Haris berusaha bangun dari tidurannya dan ingin turun dari ranjang untuk memeluk wanita yang di cintainya.
__ADS_1
"Om, jangan bangun...." Seru Zee dan ingin berlari mendekati Haris, tapi Mami Janet menahan tangan Zee dan kembali menarik zee untuk keluar.
"Bu, lepaskan tanganku. Aku mau bantu Om Haris yang mau bangun, nanti yang ada Om Haris jatuh dari ranjang."
Akan tetapi, Mami Janet tidak menggubris perkataan Zee dan tetap menarik Zee pergi dari sana.
"Ja-janet tu-nggu," ucap Haris terbata-bata seraya mengangkat tangannya.
Air mata Haris menetes melihat wanita yang di cintainya pergi dan masih belum memaafkan dirinya dan Haris melihat kalau Janet masih membencinya.
Zee masih terus di tarik oleh Mami Janet, meski sekarang sudah di lorong rumah sakit.
"Bu, lepaskan!"
Mami Janet melepaskan tangan Zee, dengan nafas memburu.
"Bu... Bisa jelaskan, kenapa Om Haris kenal ibu dan aku melihat tatapan sendu Om Haris terhadap ibu?"
"Cepat kita pulang," ujar Mami Janet dan enggan menjawab pertanyaan dari Zee. Baginya itu adalah masa lalu yang menyakitkan dan Zee untuk sekarang tidak perlu tahu dulu.
"Bu...." Mohon Zee, agar ibunya menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
"Untuk sekarang ibu belum bisa jelaskan, tapi ibu janji suatu saat, ibu akan menceritakan siapa Haris itu."
"Memang siapa Om Haris itu?" tanya Zee lagi.
"Cepat kita pulang. Ibu sudah ingin istirahat di rumah." Mami Janet mengalihkan pembicaraannya.
"Baiklah. Ayo kita pulang." Zee mengalah, meski di hatinya banyak sekali pertanyaan.
***
Jefry melangkah cepat saat di beri kabar dari pihak rumah sakit tentang kakaknya yang sudah sadar dari komanya. Perasaan Jefry membuncah bahagia mendengar kabar baik ini.
Bertahun-tahun lamanya menanti kakaknya sadar, akhirnya hari ini kakak tersayangnya bangun juga dari tidur panjangnya. Berkali-kali Jefry berucap syukur atas kesembuhan sang kakak. Sebelum menemui kakaknya, Jefry terlebih dulu menemui dokter yang selama ini menangani kakaknya. Jefry hanya memastikan kondisi kakaknya pasca sadar dari komanya dan dokter bilang kondisi kakaknya sangat stabil.
Setelah menemui dokter, Jefry bergegas menemui kakaknya. Jefry langsung membuka pintunya, dan tersenyum sumringah melihat kakaknya sudah membuka matanya.
"Kak...."
"Hmm...." Sahut Haris dan tersenyum menatap sang adik yang kini terlihat semakin tampan dan dewasa.
Jefry langsung memeluk Haris penuh rasa haru. Baginya ini terasa mimpi.
"Aku senang kakak sudah sadar dari koma panjang. Mama pasti sangat bahagia melihat kakak sudah bangun," ungkap Jefry yang teramat bahagia.
"Kakak juga bahagia bisa melihat dunia ini lagi," ucap Haris tak kalah bahagianya.
Tiba-tiba air muka Haris berubah muram dan sendu. Jefry mengernyitkan dahinya melihat perubahan raut wajah kakaknya.
"Kenapa kak?" Tanya Jefry bingung melihat perubahan wajah kakaknya.
"Tadi... Kakak bertemu dengan Janet," ucap Haris sedih.
__ADS_1
"Kakak sudah bertemu dengan, Mba Janet?"
"Iya...." Jawab Haris seraya mengangguk.
"Tapi... Tadi pas kakak membuka mata. Ada seorang gadis remaja di samping kakak dan gadis itu memanggil Janet, ibu. Apa kamu tahu, siapa gadis itu?" Ucap Haris penuh tanya.
Sejak tadi Haris terus memikirkan gadis yang memanggil Janet, Ibu dan itu membuatnya semakin bertanya-tanya, siapa gadis itu.
"Maksud kakak, Zee?"
"Zee...? Kakak nggak tahu siapa namanya?"
Jefry mengambil handphonenya di saku jasnya, lalu membuka galeri.
"Ini yang kakak maksud."
Jefry menunjukkan foto Zee kepada kakaknya dan Haris mengangguk. "Iya, benar gadis ini. Kamu tahu siapa dia?"
"Tahu. Dia adalah anak Mba Janet, namanya Zevania Ayluna Sarasvati."
"Anaknya Janet?"
"Iya, kak," jawab Jefry.
Haris terdiam dan berpikir, siapa ayah kandung anak Janet. Sedangkan dirinya belum menceraikan Janet.
"Kenapa, kak? Apa yang kakak pikirkan," tanya Jefry, sebab Jefry melihat wajah kakaknya penuh sekali dengan pertanyaan.
"Kamu tahu, siapa ayah kandung anak Janet?" Haris kembali bertanya. Jujur dirinya sangat penasaran.
"Dengarkan aku baik-baik. Siapa Zee dan siapa ayahnya. Zee itu adalah anak kandung... Kakak. Selama ini, Mba Janet sengaja menyembunyikan kehamilannya dari kakak. Kenapa Mba Janet menyembunyikan kehamilannya dari kakak, karena kakak ketahuan selingkuh dengan wanita lain. Itu yang aku tahu." Terang Jefry.
"Ya Tuhan. Kenapa aku bodoh sekali dan nggak tahu tentang ini." Haris mengusap wajahnya. Betapa bodohnya dirinya ini.
Haris berusaha bangun dari pembaringannya dan ingin segera menemui Janet. Dirinya harus menjelaskan semua yang terjadi.
"Kakak nggak boleh bangun," ujar Jefry yang menahan tubuh Haris.
"Kakak harus segera menemui Janet dan menjelaskan semuanya."
"Iya, tapi tidak untuk sekarang. Apalagi Kakak belum sembuh. Aku janji bakal bantu kakak."
"Tapi...."
"Kak...!"
"Baiklah," Haris mengalah dan kembali merebahkan tubuhnya. Meski hatinya ingin sekali menemui Janet dan anaknya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Hai, pembaca setia cerita ini. Othor mau bilang, ternyata nama ibunya Haris di bab flashback dan sakit ternyata berbeda. Maaf, othornya oleng dan nanti di bab selanjutnya nama ibunya Haris adalah Bu Cahyani bukan Momy Lyn. π€π€ Maaf ya atas kekhilafan othor ππ
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
__ADS_1
To be continued....